Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 207 Kamu Berubah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Dewa dan Yundha tak bicara samasekali. Yang terdengar hanya suara Zacky bercerita pengalamannya hari ini pada acara ulangtahun beberapa saat yang lalu.


Yundha masih sangat kesal pada perempuan yang ikut di mobil suaminya itu. Ia belum bisa percaya sepenuhnya tentang alasan suaminya membawa seorang perempuan dari bandara ke tempat itu. Rasanya itu sangat kebetulan sekali.


Dewa sendiri tak ingin berdebat atau bertengkar di depan sang putra. Ia hanya berharap setelah sampai di rumah ia bisa menjelaskan dengan baik kenapa kejadian ini bisa terjadi.


Jadi, ia pun diam saja padahal ia sudah sangat rindu pada istrinya yang semakin cantik itu. Seminggu berpisah rasa kangen ingin berdua dan bercinta rasanya sudah menggunung di dalam dadanya.


Mobil mereka pun sampai di rumah mama Rania. Mereka tak pulang ke rumah mama Merry lagi meskipun tadinya Yundha nampak keberatan.


Rania menyambut mereka semua dengan hati yang sangat senang. Ditinggal beberapa hari oleh anak dan cucu rasanya rumah jadi begitu sangat sepi.


"Assalamualaikum nenek," salam Zacky kemudian langsung memeluk dan mencium sang nenek.


"Waalaikumussalam cucunya nenek. Eh, Dewa? Kok bisa pulangnya barengan? Kamu ketemu dimana nih sama Zacky yang katanya lagi ke acara ulangtahun." Saking bingungnya, perempuan paruh baya itu langsung memberondong banyak pertanyaan pada sang putra.


"Aku sengaja langsung dari Bandara ke tempat itu ma. Jadi deh kami langsung pulang ke sini. Udah kangen banget sih," jawab Dewa seraya meraih pinggang ramping Yundha ke dalam rengkuhannya. Ia bahkan mengecup pipi istrinya itu dengan sangat lembut.


Perempuan cantik itu tidak menolak. Ia tentu tidak ingin memperlihatkan kalau ia masih sangat kesal pada suaminya.


"Oh gitu?" ucap Rania tersenyum.


"Jadi Zacky udah ketemu sama papa di tempat ulangtahun temen ya?" Rania menatap sang cucu yang masih berada di dalam pelukannya.


"Iya nek. Tapi aku kasihan sama Valda karena pulang sama mamanya sendiri. Papanya gak jemput karena jaga adek Fariz," jawab anak itu dengan sangat jelas. Rania tersenyum.


"Aku kapan punya adek seperti adek Fariz?" lanjut anak itu dengan tatapan serius pada nenek dan kedua orangtuanya. Dewa tersenyum saja tetapi tidak dengan Yundha. Rupanya perempuan cantik itu benar-benar masih sangat kesal.


Rania pun segera menjawab, "Wah cucu nenek kok ganteng dan pintar sekali ya, nanti deh dibikinkan adek sama papa mama. Sekarang ini kamu pakai kostum apa sayang kok kayaknya lebih ganteng dari papa?"


"Mamoru Chiba di film anime Sailormoon nenek." Zacky langsung menjawab dengan wajah berubah sangat senang. Ia menjelaskan seolah-olah sang nenek paham siapa itu Mamoru Chiba dan apa itu Sailormoon.

__ADS_1


"Oh Mamoru Chiba ya? Nenek kok gak pernah dengar nama itu. Sini deh kamu masuk ke kamarnya nenek trus kamu cerita siapa itu Mamoru Chiba," ucap Rania seraya membawa anak itu ke dalam kamarnya.


"Baik nenek." Anak itu cepat paham juga maksud sang nenek. Rania sendiri sangat mengerti kalau putranya baru pulang dari luar negeri selama beberapa hari dan itu berarti ia pasti sangat rindu dan ingin berduaan dengan Yundha.


"Wa, minum dan makan dulu nak. Mama udah siapin makanan di meja makan," ucap Rania sebelum ia memasuki kamarnya bersama dengan Zacky.


"Iya ma makasih," jawab Dewa tersenyum. Ia memang agak lapar dan ingin makan. Selama di pesawat ia tidak makan apapun.


"Nda, temenin aku makan ya sayang," ucapnya pada sang istri tercinta yang sejak tadi diam saja. Yundha tidak menjawab tetapi langsung melangkahkan kakinya ke arah ruang makan terlebih dahulu.


Dewa tersenyum. Ia tahu sifat istrinya itu. Meskipun ia kesal ia tetap menemaninya melakukan apapun.


"Kamu gak makan?" tanyanya pada Yundha yang kembali diam setelah menyiapkan piring dan mengisi makanan untuk suaminya itu.


"Gak lapar." Yundha menjawab dengan singkat.


"Aku kok gak jadi lapar kalau kamu juga gak lapar ya." Dewa berpura-pura mendorong piringnya ke depan dan menolak untuk makan. Ia ingin memancing istrinya itu untuk bicara meskipun hanya marah. Ia tak suka dan tak tahan jika didiamkan.


"Kok gombal sih? Aku 'kan emang gak bisa makan kalau kamu juga gak makan sayang."


"Mas, aku tuh habis makan di tempat ulangtahun tadi jadi aku masih kenyang. Lah kamu dari Bandara dengan seorang perempuan pastilah kamu lapar."


"Lho apa hubungannya?" tanya Dewa balik. Rasanya ia ingin tertawa dengan perkataan tak nyambung Yundha tapi takut istrinya itu semakin meradang dan mengamuk.


"Tauk ah!" jawab Yundha mengangkat bahunya. Bibirnya semakin manyun saja dan membuat Dewa ingin mengulumnya.


"Sayang, aku tuh rindu banget sama kamu lho. Seminggu aku di Jepang dan sekarang kamu malah marah-marah tak jelas seperti ini. Apa aku harus balik ke Jepang aja ya?"


"Apa?!" mata Yundha langsung melotot.


"Mau balik ke Jepang dan bawa perempuan itu lagi? Baik! Jangan pulang sekalian!" perempuan itu menatap suaminya dengan sangat tajam. Se tajam silet.

__ADS_1


Dewa langsung menelan salivanya kasar. Ia semakin bingung dengan sikap Yundha yang seperti ini.


Sepertinya aku salah bicara lagi, ucapnya membatin.


"Nda, jangan bilang kayak gitu dong sayang. Aku 'kan lagi rindu sama kamu," bujuk Dewa.


"Alah rindu. Tapi ngomong mau kembali ke Jepang. Enak saja. Seminggu pergi dan sekarang ngomongnya ringan sekali mau kembali ke sana. Dasar tak punya perasaan!"


Dewa tak tahu mau bicara apalagi. Ia hanya bisa menghela nafasnya kemudian meraih kembali makanan yang sudah diisi oleh istrinya. Ia tak mau bertengkar untuk sesuatu yang tak ia mengerti.


Untuk itu ia pun akhirnya makan dengan tenang untuk mengisi energinya.


Yundha mencibir.


"Katanya gak mau makan kalau aku gak mau makan. Eh ternyata lahap. Kamu benar-benar berubah mas," sindir Yundha kemudian meninggalkan ruangan itu dan berlari ke kamarnya untuk menumpahkan rasa sakit hatinya.


Huffft


Dewa langsung menghabiskan makanannya dengan cepat kemudian memburu istrinya itu. Rasanya bukan ia yang berubah tapi Yundha lah yang berubah jadi sangat aneh dan semakin tidak ia mengerti.


"Sayang, ada apa sih?" tanyanya pada sang istri yang sedang tidur tengkurap di atas ranjangnya.


"Aku tahu ini bukan karena perempuan di dalam mobil aku 'kan?" tanya pria itu membujuk. Tangannya mengelus punggung sang istri yang tampak bergetar karena menangis.


"Nda, aku benar-benar kangen lho sayang," ucap Dewa lagi.


"Kamu berubah mas! Kamu berani berbohong padaku!" kesal perempuan cantik itu dengan suara bergetar.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2