Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 226 Bandot Tua


__ADS_3

Tring


Tring


Yudhistira tersenyum saat membuka notifikasi Mobile banking masuk di dalam handphonenya. Ia bersyukur karena dua saudaranya langsung memberikan pinjaman 1 M itu dengan sangat cepat.


Pria itu pun keluar dari kamar mandi dibawah tatapan tajam Tiara.


"Ngapain di dalam? Lama banget," tanya perempuan muda itu dengan tangan bertolak pinggang.


Yudhistira tersenyum kemudian mengikis jarak diantara mereka berdua. Tiara mundur karena merasa tak nyaman tapi pinggangnya langsung diraih oleh pria itu hingga wajah mereka hampir saja bersentuhan.


Dada mereka berdua berdesir hebat.


"Siapkan dirimu karena kamu akan segera menikah," ucap Yudhistira dengan suara rendah bagaikan bisikan. Tiara tiba-tiba merasa sangat gugup. Deru nafas Yudhistira menerpa wajahnya dengan sangat lembut. Dan entah kenapa ia merasakan gelenyar aneh menyerang pembuluh darahnya.


"Hum, ya. Aku memang akan menikah. Jadi sekarang keluar dari kamarku atau kamu nanti akan digebukin lagi sama papa." Tiara menjawab seraya mendorong tubuh pria itu agar melepaskannya.


Ia merasa gelisah dan khawatir pada kinerja jantungnya yang sepertinya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Yudhistira tersenyum kemudian meninggalkan kamar itu tanpa berkata-kata lagi. Ia harus pergi atau ia akan tergoda untuk menyentuh perempuan cantik itu.


Sesampainya di luar, semua orang menatapnya dengan tatapan tajam. Nampak sekali kalau mereka sudah lama menunggu keputusannya.


"Bagaimana? Apakah uangnya sudah siap?" tanya Jaka dengan senyum merendahkan. Pria tua itu yakin kalau Yudhistira tidak akan mampu menyiapkan uang sebanyak itu dalam waktu kurang lebih 30 menit.


"Tentu saja pak. Uangnya sudah ada. Hanya saja karena ini adalah transaksi yang sangat besar. Jadi aku tidak akan membayar kalau urusan administrasi tidak lengkap."


Jaka mengangkat alisnya sebelah. Rupanya pria ini cerdas juga, pikir pria itu dengan wajah yang tampak berpikir.


"Selain kuitansi, pak Jaka harus menyiapkan beberapa berkas yang aku butuhkan karena ini menyangkut pengembalian modal usaha yang pernah digunakan oleh pak Wicaksono."


"Tentu saja. Jangan khawatir tentang itu semua. Orang-orangku sudah siap sejak tadi," ucap Jaka dengan seringai diwajahnya.


"Yang paling penting sekarang ini adalah kamu juga harus menunjukkan bukti kalau kamu punya uang sebanyak itu. Saya tidak mau kalau ini hanya sebuah permainan saja atau kata orang muda sekarang adalah hanya prank saja."


"Betul Itu. Kamu jangan hanya bisa minta ini dan itu saja tapi buktinya tidak ada!" timpal seorang pria lain yang juga berada di ruangan itu.


"Ya betul itu!" sahut yang lain seolah-olah sepakat untuk mempermalukan pria itu.


Yudhistira pun tersenyum kemudian menghampiri pria tua itu dan memperlihatkan layar handphonenya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah pak Jaka masih belum percaya padaku?" ucapnya pada pria tua yang sangat ingin mengambil Tiara darinya.


Jaka melotot tak percaya dengan tampilan laporan saldo rekening pada pria itu. Ia seperti sedang bermimpi karena apa yang ia anggap sebagai permainan pria itu ternyata adalah nyata.


Kesombongannya pelan-pelan menurun. Ia merasa tertampar. Dan yang lebih membuat ia terkena serangan jantung adalah saat Yudha Abdullah dan Sadewa Pranawijaya, pimpinan tertinggi perusahaan yang sangat terkenal di negara ini ada di dalam ruangan itu juga.


"Kami adalah kakak dari Yudhistira Abdullah," ucap Yudha memperkenalkan dirinya. Semua orang kaget luar biasa. Jaka sendiri langsung jatuh pingsan. Dan keadaan pun langsung geger.


Kasak-kusuk terjadi di dalam ruangan itu. Semua orang yang merendahkan dan tidak percaya pada Yudhistira langsung merasa malu yang sangat luar biasa.


Semua keluarga Jaka pun pergi meninggalkan rumah kediaman Wicaksono untuk membawa pria tua itu ke rumah sakit.


Sedangkan empat pasang suami istri yang baru datang disertai dengan Merry langsung dipersilahkan duduk oleh sang tuan rumah.


Lamaran pun berlangsung khidmat. Dan mereka memutuskan pernikahan itu terjadi saat itu juga karena Yudhistira tak mau lagi menunggu.


"Ini sudah hampir magrib lho Di," ucap Yudha dengan tatapan tajam pada sang adik.


"Menikah itu bukan hanya karena ada calon mempelai tapi juga perlu penghulu," lanjut pria itu.


"Tapi aku maunya sekarang kak. Sekarang adalah waktu yang sangat baik untuk peristiwa yang baik pula." Yudhistira tetap memaksa.


"Di, wali Tiara belum ada di tempat ini nak. Pernikahan itu juga tidak akan sah kalau tidak ada wali. Pak Wicaksono 'kan bukan papa kandungnya," ucap Merry menambahkan.


"Baiklah, tapi aku maunya gak lama ya pak Bu," ucap Yudhistira masih dengan rasa tak sabarnya.


Semua orang tersenyum. Mereka paham dengan keinginan pria itu yang menggebu-gebu. Nampak sekali kalau ia sudah jatuh hati pada Tiara.


Setelah pembicaraan selesai, Selfina dan Yundha pun meminta izin untuk bertemu langsung dengan perempuan yang bernama Tiara itu.


Mereka berdua sangat penasaran pada rupa perempuan yang ternyata adalah awal sumber kekacauan pada keluarga Maher Abdullah.


Tiara langsung berdiri dari duduknya saat kamarnya kedatangan tamu yang ia kenal. Ya, ia pernah bertemu dengan dua perempuan cantik itu di sebuah tempat.


"Silahkan duduk mbak," ucapnya mempersilahkan. Ia menunjuk ranjang agar dua tamunya itu bisa duduk di tempat itu.


Yundha dan Selfina pun duduk dengan tatapan tak lepas pada perempuan muda dan cantik itu.


Ternyata anak ini memang sangat cantik, pantas mas Yudhi udah tak sabar banget, batin Selfina.


Cantik dan muda, apa mungkin mas Dewa ada rasa pada perempuan ini sampai rela membantunya seperti itu?, batin Yundha.

__ADS_1


"Kamu yang namanya Tiara?" tanya Yundha dengan tatapan serius pada perempuan muda yang baru berusia 18 tahun itu.


"Iya mbak. Aku Tiara. Ada apa ya? Kok mbak berdua ada di sini."


"Kamu kenal kami?" jawab Yundha dengan sebuah pertanyaan lain. Sepertinya perempuan hamil itu belum puas jika tidak menguliti perempuan yang ia curigai ada hubungan dengan suaminya.


Tiara tersenyum kemudian menjawab," Iya mbak. Kita pernah bertemu beberapa hari yang lalu. Dan mas Dewa yang bantu aku bekerja di Cafe milik saudaranya katanya."


"Trus?" ucap Yundha tak sabar.


"Trus apa mbak?" tanya Tiara bingung.


"Hubungan kamu dengan mas Dewa itu apa?" tanya Yundha lagi. Sepertinya ia mulai bertanduk lagi karena cemburu.


"Nda, kamu tenang dong dek. Biarkan Tiara menjawab dengan tenang." Selfina cepat-cepat menenangkan. Ia tak mau ada hal yang tidak diinginkan di tempat itu.


"Aku gak ada hubungan apapun dengan mas Dewa mbak. Aku hanya bertemu di bandara untuk pertama kalinya. Dan beliau menolong aku untuk kembali ke tempat dimana dompet ku hilang. Setelah itu aku juga dibawa untuk kerja di sebuah cafe."


"Trus apa lagi?" tanya Yundha lagi. Karena takut, Tiara pun menceritakan semuanya sampai ia bertemu dengan Yudhistira dan berakhir akan menikah dengan seorang pria tua beristri empat.


Yundha tersenyum. Ia kini merasa lega dan merasa bersalah pada suaminya sendiri karena terlalu cemburu yang tidak beralasan.


"Jadi kamu udah siap nikah nih?" tanya Yundha yang disenyumin oleh Selfina.


"Aku sebenarnya gak siap mbak."


"Kenapa?" tanya Selfina dengan senyum diwajahnya.


"Orangnya udah tua mbak. Lebih cocok aku panggil sebagai kakek. Mana istrinya udah 3 lagi. Ih serem deh. Pasti tubuhnya udah bau tanah," jawab Tiara dengan ekspresi wajah yang sangat lucu.


Yundha dan Selfina saling bertatapan kemudian tertawa terbahak-bahak. Mereka yakin Tiara sebenarnya tak tahu kalau Yudhistira yang akan menikahinya.


"Nah kan, mbak aja ketawa. Gimana aku? Huaaa!"


Tiara tiba-tiba saja menangis. Ia sedih membayangkan dirinya akan menikah dengan seorang bandot tua.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2