
"Mbak Selfina, gimana kabarnya nih," sapa Yundha saat dua pengantin baru sembunyi-sembunyi itu tiba di dalam ruangan kerja presiden direktur.
"Alhamdulillah baik Nda. Mama gimana kabarnya?" balas Selfina seraya menyalami dan mencium pipi kiri dan kanan sang mama mertua.
"Baik juga sayang. Kami tidak menggangu kalian 'kan?" Merry menjawab dengan senyum diwajahnya.
"Ah gak kok ma. Justru aku senang sekali mama datang kesini," ucap Selfina tersenyum malu.
"Maafkan suamimu kalau belum bisa memperkenalkan kamu di depan banyak orang. Kamu pasti udah tahu maksud nya 'kan?"
"Iya ma. Aku ngerti kok."
"Kalian tinggalnya di rumah mama saja ya," pinta Merry dengan wajah memohon. Selfina tersenyum kemudian menatap suaminya meminta jawaban.
"Trus bagaimana dengan Yudhi ma, apa ini tidak akan menimbulkan masalah nantinya?"
Merry terdiam.
"Kalian berdua sembunyi-sembunyi saja dulu. Pelan-pelan Yudhi pasti sadar sendiri kok. Kami akan memberitahunya pelan-pelan."
"Tapi ma?" Yudha tak rela. Ia tak ingin bersama dengan seseorang yang menginginkan istrinya juga meskipun itu adik nya sendiri.
Merry nampak kecewa dengan penolakan Yudha. Ia sungguh akan merasa kesepian lagi kalau orang-orang yang ia sayangi keluar dari rumahnya.
Selfina langsung meraih tangan suaminya lalu berucap, "Pak, gak apa-apa kok. Kasihan mama."
"Sel, kamu gak ngerti perasaan aku," gumam Yudha dengan tatapan lurus pada mata indah istrinya.
"Aku ngerti kok. Tapi mama belum juga terlalu lama ditinggal papa. Jadi gak apa-apa kita temenin mama dulu," ucap Selfina tersenyum.
"Hum, baiklah. Kita tinggal di rumah mama," putus Yudha dengan hati berat. Merry langsung tersenyum mendengarnya.
"Makasih banyak ya Sel. Mama sangat senang dengarnya. Kamu memang menantu mama yang terbaik."
"Aku juga senang banget ma. Rumah pasti ramai lagi dan juga aku punya teman tidur nih," ucap Yundha dengan senyumnya yang cukup menyebalkan.
"Istriku akan tidur bersamaku, enak saja kalau ngomong." Yudha langsung meradang. Semua orang langsung tertawa.
"Lho, kok pada ngumpul di sini," ucap Yudhi yang tiba-tiba saja muncul di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Lagi seneng ya semuanya? Kok gak ngajak- ngajak sih?" lanjutnya lagi seraya mendudukkan tubuhnya di samping Merry.
Semuanya tiba-tiba berhenti tertawa.
"Lho, kok pada diam?" tanya Yudhi lagi.
"Gak kok. Kami hanya merasa lucu aja sama kakakmu. Eh ngomong-ngomong kamu dari mana sayang?" ucap Merry dengan cepat.
"Aku habis daftar di bagian HRD."
"Trus?"
"Aku belum keterima karena ini belum waktunya menerima karyawan baru. Jadi ya, aku gak bisa deh kerja dengan mbak Selfina saat ini," jawab Yudhi dengan wajah yang nampak kecewa.
"Wah bagus banget tuh. Kepala divisi HRD nya siapa sih, kok aku mau traktir dia di Cafe aku ya?" ucap Yundha dengan wajah yang sangat senang. Yudha dan Selfina saling berpandangan dengan senyum diwajahnya mereka.
"Lho kok gitu sih?" tanya Yudhi dengan wajah cemberut.
"Dia adalah sosok yang sangat berani, karena tidak meloloskan pemilik perusahaan ini hihihi," ucap Yundha dengan tawa gelinya.
"Ish!' Yudhi mencibir. Ia kesal tapi juga tidak ingin marah karena semua penjelasan kepala divisi itu masuk akal juga. Ia belum bisa mendaftar sekarang tapi nanti ia akan dihubungi dalam waktu singkat kalau presiden direktur memberinya izin membuka penerimaan karyawan baru.
"Aku masih mau di sini ma. Kan ada Yundha," ucap Yudhi menolak.
"Yundha ada keperluan juga sayang. Jadi kamu harus temani mama bertemu seorang dokter. Mama perlu sedikit konsultasi," ucap Merry memaksa.
"Hum, baiklah. Aku akan antar mama," ucap Yudhi seraya berdiri dari duduknya. Ia pun menatap Selfina seraya tersenyum.
"Mbak, aku permisi ya. Lain kali aku akan datang lagi," ucapnya.
"Iya mas Yudhi. Makasih banyak ya makanannya."
"Sama-sama," ucap pria itu kemudian segera pergi dari ruangan itu diikuti oleh Merry dan juga Yundha. Ruangan kerja itu pun langsung berubah sepi.
Selfina dan Yudha saling bertatapan dengan senyum diwajahnya mereka berdua. Jangan ditanya bagaimana dada mereka yang berdebar kencang penuh rasa yang tak bisa mereka lukiskan dengan kata-kata.
Ada sinyal tak kasat mata yang merambat di seluruh urat saraf mereka berdua. Hasrat yang belum padam seutuhnya kini muncul kembali hanya karena mereka sedang berdua di sebuah tempat yang sangat mendukung.
"Sel, kita lanjutkan yang tadi ya sayang," ucap Yudha dengan tatapan lurus kedalam mata indah sang istri. Selfina hanya tersenyum kemudian menjawab.
__ADS_1
"Aku gak mau ada gangguan lagi pak Presdir. Jadi sebaiknya pikirkan dimana tempat yang cocok untuk itu," jawab Selfina seraya mengelus lembut rahang tegas suaminya. Jari-jarinya bergerak sangat sensual ke seluruh permukaan wajah tampan pria itu lalu berucap lagi," Aku ingin berdua denganmu tanpa gangguan lagi."
Yudha langsung meraih jari-jari istrinya dan mengulumnya lembut di dalam mulutnya hingga Selfina merasakan sensasi lain lagi dari dalam tubuhnya.
Yudha sendiri sudah membayangkan akan mendapatkan lebih dari yang inu dari sang istri tercinta. Si junior yang memang belum juga tidur sejak tadi kini kembali meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Kita akan berbulan madu sayang. Jadi tidak akan ada yang mengganggu kita berdua. Tapi untuk sementara. Maukah kamu melakukan hal seperti ini untuk si junior?" tanya Yudha dengan tatapan penuh hasrat pada sang istri.
Selfina tak mengerti. Alisnya terangkat bingung.
Yudha tersenyum. Ia baru sadar kalau istrinya mungkin tidak mengerti dengan yang ia maksudkan. Dan ia tak mungkin memaksanya jika itu bukan keinginan Selfina sendiri.
"Maksudnya gimana? Aku gak ngerti," ucap perempuan cantik itu dengan wajah yang masih sangat bingung.
"Aku ingin kamu melakukan sesuatu pada si junior sayang. Maukah kamu menidurkannya dengan tanganmu yang lembut ini?" pinta Yudha dengan tatapan memohon.
"Ini mungkin hanya butuh waktu sedikit dan tidak akan mengganggu pekerjaan kita. Mau gak?"
Selfina menggigit bibirnya. Ia tampak berpikir. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang padahal ia belum bertemu dengan si junior.
"Baiklah, kita kembali bekerja," ucap Yudha dengan perasaan sedikit kecewa karena sang istri tidak membalas keinginannya.
"Maafkan aku ya. Aku belum siap di tempat ini sayang. Serasa kaget-kaget mulu," ucap Selfina dengan wajah tak nyaman.
Ia tahu kalau ia sudah mengecewakan suaminya yang sedang sangat tersiksa.
Yudha menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Ia tidak mungkin melakukannya sendiri karena itu adalah dosa. Sedangkan ia sudah mempunyai seorang istri yang bisa membantunya.
Pria itu pun berdiri dari duduknya dan segera menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Seharian ini ia sudah berada di atas ambang hasrat yang siap meledak dan itu sangat menggangu kewarasannya sekarang.
Selfina terdiam. Ia menatap readers dan meminta saran.
Apa ia harus melakukan keinginan suaminya saat ini juga?
🌹🌹🌹
*Bersambung
Tolong kasih saran untuk Selfina dong 🤭
__ADS_1
Like dan komentar ya gaess 🤭