
"Bapak sudah sholat?" tanya Selfina saat menyaksikan sendiri bagaimana terpuruknya seorang Praja Wijaya di depan matanya.
Pria itu mengangkat wajahnya kemudian segera menghapus airmatanya. Ia memandang Selfina dengan perasaan yang sangat hancur.
"Sholatlah dulu pak. Waktu Magrib hampir terlewat. Insyaallah semua akan baik-baik saja kok," ucap perempuan itu lagi.
"Ah iya, baiklah. Aku akan ke Masjid sekarang," ucap Praja kemudian meninggalkan tempat itu.
Untungnya Selfina datang mengingatkannya kalau ia sangat butuh Tuhan untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya.
Pria itu mengucapkan banyak istighfar kemudian berdoa setelah sujud panjangnya.
"Ya Allah, ampuni hambamu yang banyak salah dan dosa ini. Ya Allah, engkaulah pengobat dari segala macam sakitnya kehidupan ini."
"Ya Allah engkaulah maha pemberi kehidupan pada setiap insan yang kamu kehendaki. Maka hamba memohon dengan sangat, berikanlah kesembuhan dan kesempatan pada Ardina dan calon bayi kami."
Praja merasakan tubuhnya gemetar dan juga tenggorokannya tercekat. Ia semakin takut membayangkan hal terburuk untuk keduanya.
"Ya Allah, hidupkanlah ia apabila hidup itu menjadi kebaikan baginya dan matikanlah ia apabila itu menjadi kebaikan baginya. Sungguh, engkau maha pengasih dan maha penyayang."
Praja Wijaya menutup wajahnya yang bersimbah air mata dengan kedua telapak tangannya. Bahunya kembali bergetar menahan tangis yang ingin pecah.
Bibirnya ia basahi dengan kalimat-kalimat zikir meminta perhatian dari sang pencipta agar keinginannya terkabul. Ia tak berpindah dari tempatnya sampai waktu sholat isya masuk.
Setelah itu pun ia tak ingin meninggalkan masjid itu. Ia merasa sangat takut jika jauh dari Allah dan tiba-tiba menerima kenyataan buruk.
Alif Wijaya sang ayah, ikut menemaninya berzikir dan berdoa. Mereka berdua berusaha mengetuk pintu langit dan memohon keselamatan untuk dua nyawa yang sedang berjuang di dalam ruang operasi.
Sedangkan Selfina juga berada di barisan saf perempuan untuk melaksanakan sholat isya di masjid itu. Ia bersama dengan Asna dan Dewinta, duduk terpekur dengan lantunan zikir dan doa dari bibir mereka.
Tak ada kata lain selain hanya permohonan pada Allah sang penguasa jagad agar Ardina dan bayinya selamat.
Tak ada yang tidak mungkin jika Allah masih memberikan kesempatan hidup bagi mereka berdua.
Mereka baru mengangkat wajah mereka saat Prilya muncul di depan pintu Masjid dan memberitahukan kalau operasi sudah selesai.
"Alhamdulillah ya Allah. Bagaimana dengan adikmu Prilya," ucap Asna dengan airmata yang kembali menyeruak dari dalam kelopak mata tuanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Bu. Berkat doa kita semua, kata dokter Ardina selamat Bu. Hanya belum bisa kita lihat" jawab perempuan cantik itu seraya memeluk sang ibu.
"MasyaAllah, Allahu Akbar." Semua orang yang ada di sana langsung sujud syukur. Alif dan putranya mengucapkan terima kasih pada Tuhan yang telah mengabulkan doa mereka.
Dewinta dan Selfina saling berpelukan. Airmata bahagia kini menyeruak menggantikan rasa sedih yang sejak tadi membayang dalam hati mereka.
"Lalu bagaimana dengan bayi kami Pril?" tanya Praja dengan dada berdebar-debar.
"Alhamdulillah, bayinya juga selamat kak," jawab Prilya dengan senyum diwajahnya. Praja terdiam sesaat kemudian langsung keluar dari masjid itu dengan berlari.
Ia harus bertemu dengan salah satunya untuk melihat kemurahan dari Allah padanya dan keluarganya.
"Jadi kamu sudah melihat bayinya Pril?" tanya Asna dengan perasaan mengharu biru.
"Iya Bu. Cantik sekali. Cuma ya masih sangat kecil dan harus berada di dalam inkubator. Kita doakan semoga mereka berdua bisa segera pulih."
"Aamiin Allohumma aamiin. Ayo segera kita kesana," ucap Asna lalu mengajak Dewinta dan juga Selfina untuk segera melihat Ardina dan juga sang cucu.
Langkah mereka cepat-cepat dan bahkan tak ada lagi obrolan yang keluar dari bibir mereka. Yang ada hanya hati penuh syukur yang mengiringi langkah kaki mereka sepanjang selasar rumah sakit di tengah malam itu.
Mereka menunggu di depan ruang operasi lagi sampai beberapa puluh menit. Berikutnya mereka tersenyum dengan perasaan haru dan lega saat Ardina sudah keluar dari ruangan tindakan dalam keadaan sudah siuman.
"Terimakasih banyak atas doanya," balas Ardina dengan airmata yang juga keluar dari sudut matanya.
Beberapa jam yang lalu, ia merasa tidak akan hidup lagi sampai ia meminta kepada dokter untuk menyelamatkan bayinya saja. Tapi sekarang ia sangat senang karena ia selamat bersama dengan sang bayi.
🌹
Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi semua orang. Dua nyawa terselamatkan karena limpahan kasih sayang dari yang maha kuasa.
Praja tertidur pulas di samping ranjang sang istri dengan tangan yang terus menggenggam tangan Ardina. Tubuhnya lelah karena beberapa saat yang lalu sudah berkeliling memberi sedekah pada semua pasien yang ada di rumah sakit itu. Akan tetapi hatinya merasa damai dan senang dengan penuh kesyukuran.
Rasanya apa yang ia lakukan beberapa jam yang lalu tidak sebanding dengan ketakutannya jika ditinggalkan oleh sang istri dan juga calon bayinya.
"Kamu gak tidur juga sayang?" ucap Asna pada Ardina yang sejak tadi terjaga dan hanya menatap langit-langit kamar tempatnya berada.
"Gak tahu ma. Rasanya aku tidak mengantuk lagi. Apa yang terjadi hari ini rasanya sangat luar biasa."
__ADS_1
"Iya sayang. Semoga jadi pembelajaran untuk kita semua agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu."
"Iya Bu. Terimakasih banyak," ucap Ardina tersenyum.
"Tidurlah. Ini sudah hampir pagi," ucap sang ibu seraya mengelus lembut kepala sang putri.
"Ya Allah, gimana dengan David Bu. Aku sampai melupakan putraku," ucap Ardina dengan suara sedikit meninggi karena baru menyadari satu hal itu. Praja yang sudah terlelap kini langsung terjaga.
"Tenang. Ia ada di rumah kakakmu Prilya. Ada banyak saudaranya disana yang akan menemaninya, jadi kamu tidak perlu khawatir." Asna tersenyum memberikan penenang bagi sang putri.
"Iya sayang, kamu gak usah mikirin itu. Insyaallah kita akan bertemu dengan David saat kamu sudah lebih sehat," ucap Praja tersenyum.
"Ah iya kak. Semoga aku cepat sembuh ya begitu pun dengan dedeknya." Ardina balas tersenyum seraya menatap sang suami.
"Aamiin ya Allah. Atas ijin Allah, kamu akan sehat sayang. Dua anak kita sudah ingin berkumpul bersama."
"Tapi putri kita kak, aku minta maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik," ucap Ardina dengan wajah yang berubah jadi sedih.
"Bukan kamu yang salah. Aku yang salah padamu. Seharusnya aku jadi suami siaga dan menjaga kalian dengan baik, maafkan aku ya Ar," balas Praja dengan wajah yang lebih sedih lagi.
"Kalian istirahatlah," timpal Asna seraya menguap. Ia sudah sangat mengantuk.
"Iya, bu. Ibu juga silahkan istirahat. Kami juga akan tidur kok," ucap Praja tersenyum. Asna pun menuju sebuah tempat yang ia siapkan untuk dipakai tidur untuk penunggu pasien. Ada kedua besannya sudah tertidur pulas.
Sedangkan Selfina ternyata masih terjaga. Nampak sekali kalau ia tidak bisa tidur.
"Sel, kamu kok belum tidur? Gak nyaman ya tempatnya?" tanya Asna seraya menepuk sebuah boneka tayo milik David untuk ia jadikan bantal.
"Aku belum minta izin sama mas Yudha kalau aku ada di sini," ucap Selfina dengan perasaan tak nyaman di hatinya.
"Astaghfirullah. Kok bisa sih Sel? Kenapa gak ditelpon saja." Asna langsung menatap perempuan itu dengan tatapan serius.
"Handphonenya aku lupa di mobil bu," jawab Selfina dengan wajah meringis.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?