
"Mama, papa, doakan kami selamat ya," ucap Revalda seraya memeluk sang mama kemudian bergantian memeluk papanya.
"Iyaa sayang. Dan selamat menikmati bulan madunya," balas Selfina tersenyum.
David pun melakukan hal yang sama, ia berpamitan pada dua orang mama dan papanya kemudian pada kedua mertuanya.
"Jaga Valda baik-baik," ucap Yudha dengan wajah tegasnya.
"Insyaallah pa. Valda adalah tanggungjawab ku sekarang. Jadi jangan khawatir," balas David dengan suara tegas pula.
"Selamat sampai tujuan dan jangan lupa kirimkan kabar saat kalian tiba," ucap Ardina seraya melambaikan tangannya pada pasangan pengantin baru itu.
"Aamiin, ya Allah." David dan Revalda menjawab dengan kompak. Mereka pun melambaikan tangan mereka juga kemudian menarik koper mereka untuk memasuki pintu bandara.
Selfina tak sadar menitikkan airmatanya. Ia menatap punggung dua orang pengantin baru itu dengan perasaan campur aduk.
Entahlah, tapi ia merasa sedih juga melihat sang putri pergi jauh tanpa bersama dengan dirinya maupun suaminya.
"Jangan bersedih dong Sel, mereka pergi 'kan untuk bekerja sekaligus untuk bersenang-senang," ucap Ardina seraya meraih tangan Selfina untuk meninggalkan area bandara.
"Iya mbak. Seharusnya aku gak sedih, tapi aku kok belum rela ya anakmu membawa anakku pergi jauh," ucap Selfina dengan ekspresi yang masih sama. Sedih.
"Duh, gimana sih? David itu udah dewasa lho. Ia cinta sama Revalda dan pastinya akan bertanggung jawab. Jadi kamu tidak perlu khawatir." ucap Ardina gregetan sendiri.
"Iya Sel, kamu berpikir yang baik-baik saja sayang. Mereka pasti akan bersenang-senang disana setelah urusan pekerjaan David selesai," timpal Yudha menambahkan.
"Iya deh mas." Selfina tersenyum kemudian menyusut airmatanya. Tak lama kemudian mereka pun segera keluar dari area bandara.
Dua mobil mewah yang akan mereka tumpangi pulang juga sudah ada di hadapan mereka.
"Maaf Bu. Mobil dilarang berhenti terlalu lama," tegur seorang petugas bandara karena Ardina masih mengobrol dengan Selfina dan belum juga naik ke atas mobilnya.
"Ah iya maaf. Aku cuma ngobrol dengan besan aku yang sedang lebay ini!" ucap Ardina dengan wajah kesal pada petugas bandara itu.
Selfina jadi tertawa kemudian segera berpamitan dan naik ke mobil suaminya yang berada di belakang mobil Mereka semua pulang tanpa menunggu David dan Revalda naik ke atas pesawat.
David dan Revalda saat itu sedang berada pada gate 2 terminal keberangkatan internasional. Rupanya sudah ada beberapa kenalan David juga ada di sana. Mereka juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu ke Universitas of Tokyo.
Sarah, salah seorang peserta seminar dari universitas lain langsung datang menyapa David dengan senyum cerah diwajahnya yang cantik.
"Hai pak Doktor, lama tak berjumpa nih," ucap perempuan itu dengan ramah tapi cukup centil dimata Revalda.
__ADS_1
"Iya Sar, terakhir kita ketemu saat acara diskusi ilmiah di universitas itu ya?" balas David seraya membalas salaman tangan perempuan yang bernama Sarah itu.
"Iya. Dan kamu sombong sekali lho. Aku udah menghubungi kamu tapi kok gak pernah dijawab lho."
David tersenyum saja. Ia akui kalau ia tidak biasa melayani basa-basi dari orang lain apalagi dari perempuan yang ia tahu selalu ingin mengambil perhatiannya.
"Perkenalkan nih Sar, ini istri aku, Revalda. Kami baru menikah kemarin," ucap David dengan tangan menunjuk Revalda yang ada di sampingnya.
Wajah Sarah langsung berubah warna. Ia menatap perempuan cantik di samping David dengan tatapan tajam.
Revalda tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya sebagai bentuk sapaan pada perempuan itu.
"Kok gak ngundang sih?" tanya perempuan itu dengan ekspresi kesal yang tak bisa ia tutup-tutupi.
"Acara pernikahannya sederhana saja kok. Yang penting tercatat dan resmi." David menjawab seraya merengkuh pinggang Revalda.
Sarah tampak sangat cemburu. Ia sakit hati melihat pria yang selama ini ia sukai ternyata sudah menikah dengan perempuan lain.
"Jadi ceritanya sengaja ikut seminar sekalian bulan madu ya?" ucap Sarah pada Revalda.
"Iya mbak." Revalda menjawab dengan senyum tipis dibibirnya. David pun tersenyum kemudian dengan tak tahu malu langsung mengecup pipi sang istri.
Revalda langsung menatap suaminya itu dengan tatapan tajam. Ia malu. Di depan semua orang suami mesum nya itu berani menunjukkan hal yang begitu tabu dilakukan di depan umum, menurut pendapatnya.
Perempuan itu pun pamit ke toilet dan langsung membuat Revalda memanyunkan bibirnya pada suaminya.
"Aku malu kalau kamu cium di depan orang mas," ucap perempuan cantik itu pelan.
"Eh, itu masih bagus lho sayang. Aku sebenarnya ingin melumattt bibir kamu lho."
"Ish!" Revalda semakin manyun.
"Hati-hati bibir kamu sayang. Aku suka lupa diri lho," senyum David dengan tatapan tak lepas pada bibir istrinya yang sangat menggoda.
"Mass! Kamu bikin aku malu," ucap Revalda manja. David langsung mencubit ujung hidung istrinya itu dengan berbisik.
"Aku ingin sekali bibirmu Val, tapi aku tahu ini tempat umum sayang. Tunggu saja saat kita sudah ada diatas pesawat. Aku sudah tidak sabar Val," balas David dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.
Revalda tersenyum. Ia yakin pipinya saat ini sudah sangat merah karena malu.
Tak lama kemudian, mereka pun naik ke atas pesawat setelah ada panggilan dari petugas bandara kalau pesawat tujuan Tokyo akan segera terbang.
__ADS_1
David menggenggam tangan istrinya dengan sangat lembut. Hari ini ia sangat bahagia karena untuk pertama kalinya ia pergi jauh dengan membawa seorang perempuan yang sangat ia cintai dan juga telah halal untuknya.
Sampai di atas pesawat, ia selalu memeriksa kenyamanan sang istri bagaikan seorang pramugara.
Sampai pesawat sudah mulai terbang ia masih terus menerus menanyakan kenyamanan sang istri. Seolah-olah ini adalah perjalanan pertama Revalda dengan pesawat.
"Aku baik-baik saja paksu sayang," ucap Revalda dengan wajah manjanya.
"Aku gak akan mabuk atau apapun itu. Jadi mas sayang gak usah khawatir," lanjut perempuan cantik itu seraya meraih lengan suaminya dan memeluknya.
"Iya sayang. Aku cuma ingin kamu nyaman dan bahagia bersama denganku Val. Soalnya kita akan bersama sampai kakek nenek sampai maut memisahkan."
Revalda tersenyum kemudian dengan inisiatifnya sendiri ia langsung mengecup bibir suaminya.
David tampak sangat kaget.
"Kamu mulai berani ya, kamu gak takut dilihat sama pramugari?" canda David dengan senyum samar dibibirnya.
"Sengaja. Pramugarinya saja sejak tadi lirik-lirik kamu terus. Aku 'kan gak suka," ucap Revalda dengan bibir manyun.
David tersenyum gemas kemudian meraih tengkuk istrinya dan mengulum bibir perempuan cantik itu lama. Saat ini ia tidak perduli lagi dengan keadaan sekeliling. Ia yang sudah lama menginginkan bibir Revalda kini melakukan apa yang sudah lama ia inginkan sampai puas.
Pramugari yang ingin memeriksa bagasi di bagian atas kursinya hanya bisa pura-pura tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan.
Ia tidak heran. Yang lebih dari itu saja sering ia lihat saat ia terbang. Terkadang banyak penumpang yang sudah tidak sabar dan sangat berhasrat dengan pasangannya langsung melakukan penyatuan di atas pesawat.
David tidak merasa takut atau malu. Ia sedang bersama istrinya dan itu halal dilakukannya.
"Mass, udah dong, aku malu," bisik Revalda dengan suara pelan saat suaminya itu melepaskan bibirnya.
David hanya tersenyum kemudian membawa kepala istrinya itu bersandar di dadanya.
"Tidurlah, sesampainya kita di Tokyo, aku akan melakukan hal lebih dari ini Val, aku sudah tidak sabar sayang," ucap David seraya membawa tangan istrinya menyentuh miliknya yang sudah sangat keras.
Revalda merasakan dadanya berdebar. Ia tidak tahu bagaimana penampakan benda keras yang sedang disentuhnya. Tapi yang jelasnya hatinya berdesir.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati bulan madu mereka ya, 😍😘