
"Bapak tidak menghargai perasaan saya!" teriak Selfina tak tahan lagi. Yudha tersentak kaget. Tak biasanya gadis itu berteriak seperti itu padanya. Dan untungnya ruangan kerjanya kedap suara. Jadi hanya mereka berdua yang akan saling mendengar keluhan mereka nantinya.
"Oh ya?" Yudha kembali berusaha untuk santai. Ia ingin gadis itu mengeluarkan ketidakpuasannya selama bekerja pada dirinya.
"Ya. Dan lihatlah! Anda bahkan tidak merasa bersalah samasekali!" ucap Selfina lagi dengan tatapan lurus ke arah wajah sang atasan. Pandangan matanya kabur karena cairan bening yang siap kembali tumpah.
"Apa kesalahan aku Sel? Kenapa kamu jadi sangat marah seperti ini?" tanya Yudha memancing untuk jujur.
"Bapak egois! Tak punya perasaan sedikitpun. Tak pernah mengerti perasaan aku!" kembali Selfina berucap dengan nada suara yang sudah mulai menurun sedikit. Suaranya bergetar. Jelas sekali menunjukkan kalau ia benar-benar kecewa berat padanya.
"Memangnya apa yang aku lakukan padamu heh?!"
"Apa? Anda bertanya apa? Cih! Benar-benar tak peka perasaan orang lain!" Bibir Selfina mencibir. Terlihat ada kebencian dalam ekspresinya saat ini.
"Ya, karena aku memang tak punya salah padamu. Jadi kenapa?" pancing Yudha lagi. Selfina menyusut kembali airmatanya di jari-jari lentiknya kemudian menatapnya tajam.
"Meja kerjaku saja kamu berikan pada mbak Maya! Saya tidak suka pak! Seharusnya bapak minta izin dulu padaku!" Dada gadis itu naik turun karena emosi.
Yudha merasakan bibirnya berkedut. Ia tak menyangka kalau hanya hal sepele seperti itu Selfina sampai menangis dan sangat marah padanya. Ia pun segera menghampiri gadis kesayangannya itu dan meraih pinggangnya dan merapatkannya pada tubuhnya. Ia sangat gemas sekarang.
"Lepaskan aku Pak Presdir! Saya tidak suka dipermainkan seperti ini!" teriak Selfina lagi berusaha untuk memberontak. Akan tetapi tangan kuat pria itu tak memberinya kesempatan untuk lepas.
"Kamu cemburu pada Maya Hem?" tanya Yudha dengan suara yang sangat rendah bagaikan bisikan.
Untuk beberapa detik gadis itu tidak bisa menjawab. Jarak mereka begitu sangat dekat saat ini dan itu membuatnya tak bisa berpikir waras.
"Tidak!"
"Benarkah?"
"Tidak! Untuk apa saya cemburu?! Kita tak ada hubungan apapun jadi lepaskan saya!" Ia terus memberontak tapi Yudha bertahan. Ia tak ingin melepaskan tubuh gadis cantik ini dan membiarkannya pergi.
"Aku sengaja membiarkan Maya duduk di sana karena kamu harus berpindah tempat," ucap Yudha seraya menatap wajah cantik dihadapannya dengan penuh perasaan.
"Bapak ingin memecat saya?" jawab Selfina dengan perasaan was-was.
"Menurutmu?"
"Lepaskan saya!" Selfina kembali memberontak. Ia kembali emosi. Sungguh, pria ini adalah pria yang sangat menyebalkan yang pernah ia kenal. Perasaannya benar-benar dipermainkan dengan begitu rupa.
__ADS_1
"Hey, dengarkan aku Selfina sayang, kamu akan berpindah tempat ke dalam ruangan aku. Kita akan seruangan dalam bekerja. Jadi biarkan Maya yang mengambil kursimu di luar."
"Ta-tapi kenapa?" tanya gadis itu dengan wajah sedikit bingung. Yudha tersenyum kemudian merapatkan tubuh Selfina lagi padanya hingga bongkahan kenyal milik gadis itu bisa ia rasakan menyentuh dada bidangnya.
"Karena kamu adalah sekretaris pribadi aku Sel, 24 jam kamu harus melayaniku sayang," bisik Yudha seraya menyentuhkan keningnya pada kening Selfina. Bibirnya pun segera meraih bibir gadis itu dan mengecupnya singkat.
Tubuh Selfina menegang. Ia tak mampu mengeluarkan kata satu katapun. Sentuhan Yudha padanya membuatnya merasakan dunia berhenti seketika.
Yudha tersenyum penuh arti. Ia pun kembali ingin meraih bibir lembut dan indah itu tapi Selfina tiba-tiba tersadar dan mendorong pria itu agar tubuh mereka berjarak.
"Tidak! Saya tidak mau pak. Saya ingin keluar saja dari tempat ini!" gusar Selfina. Ia takut kalau pria itu akan menyentuhnya lebih jauh lagi. Ia sendiri sudah hampir kehilangan kewarasannya.
Yudha kembali meraihnya kedalam pelukan pria itu kemudian berbisik lembut, "Selfina sayangku, aku sangat mencintaimu."
"Aku tidak percaya!"
"Sel, aku benar-benar mencintaimu. Kamu milikku dan akan selamanya seperti itu."
"Kalau begitu nikahi aku sekarang juga!" tantang Selfina. Sekarang lah saatnya ia meminta pembuktian. Ia tak ingin lagi dipermainkan oleh pria itu.
"Boleh. Kalau itu maumu."'
"Kenapa? Kamu tidak percaya Hem?"
Selfina menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar belum percaya.
"Ayo bersiaplah. Aku akan melamar kamu pada kedua orangtuamu."
"Ta-tapi?"
"Kenapa lagi?"
"Apakah harus secepat ini?!"
"Tentu saja. Aku sudah tak kuat menahan ini lama-lama sayang," ucap Yudha seraya meraih bibir gadis itu lagi dan mengulumnya dengan sangat lembut.
Selfina merasakan tubuhnya melayang ke langit ke tujuh. Ia tak menyangka kalau saat ini pria itu bisa begitu manis padanya.
"Aaaaw!"
__ADS_1
"Hey ada apa?" tanya Yudha saat gadis itu meringis sakit.
"Apa ciumanku menyakitimu sayang?" tanyanya lagi seraya mengelus lembut bibir gadis itu yang membengkak akibat perbuatannya.
Selfina tersenyum meringis karena telah mencubit lengannya sendiri. Ia ingin memastikan kalau ini benar-benar nyata dan bukannya hanya khayalannya semata.
Gadis itu menundukkan wajahnya semakin dalam karena malu. Entah bagaimana warna pipinya saat ini.
"Sel, lihat aku, sayangku. Hari ini aku sudah membatalkan semua janji meeting aku. Kita akan ke rumah orangtuamu. Aku ingin memilikimu secepatnya okey?"
Selfina hanya mengangguk pelan. Ia setuju saja asalkan pria itu mau bertanggung jawab padanya di hadapan kedua orangtuanya.
"Ayok. Bersiaplah." Yudha pun melepaskan rengkuhan tangannya pada tubuh sang kekasih kemudian mengecup bibir Selfina lagi singkat.
Dua orang itu pun keluar dari ruangan itu dengan hati yang berbunga-bunga. Kebahagiaan mereka sungguh sedang sangat sempurna sekarang. Mereka sudah bisa mengetahui perasaan masing-masing.
"Mas Yudha mau kemana?" tanya Maya saat mereka sudah berada di depan meja gadis itu.
"Kamu di sini saja ya, aku dan Selfina akan mengikuti meeting penting di luar kota. Kemungkinannya kami kembali setelah dua hari." Yundha menjawab dengan santai. Akan tetapi tidak bagi Selfina. Ia gugup setengah mati. Barang-barang pribadinya yang ia masukkan ke dalam tasnya sampai berjatuhan. Maya sampai menatapnya curiga.
"Lho, kok lama sekali ya mas? Lalu aku disini sama siapa?" tanya Maya dengan wajah merenggut kecewa.
"Ada OB dan karyawan lain yang akan menemanimu di sini. Jadi belajarlah dengan baik. Dan berikan pesan ini jika ada tamu yang datang mencari aku." Yudha pun memberikan secarik kertas untuk Maya yang akan dijadikan sebagai jawaban jika sewaktu-waktu pria itu kedatangan tamu.
"Ah iya mas. Tapi apa mbak sekertaris akan ikut mas Yudha sampai hari itu juga?" Maya menatap kedua orang itu dengan tatapan menelisik tak suka.
"Iya, kenapa? Selfina 'kan sekretaris pribadi aku May. Ah sudahlah. Sekarang jaga ruangan aku ya. Gak boleh ada yang masuk ke dalam kecuali ada izin dariku, mengerti?"
"Iya mas. Mengerti. Selamat bekerja."
"Makasih May. Ayok Sel," ucap Yudha seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu. Selfina mengikutinya dari belakang dengan dada berdebar kencang.
"Ih boring nih. Masak hari pertama bekerja aku ditinggal sama mereka sih?!" ucap Maya dengan perasaan kesalnya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong 🤭
__ADS_1