Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 154 Pacar Gila


__ADS_3

"Pacar?" ucap Yundha dengan mata menyipit. Ia belum pernah punya pacar selama hidupnya. Ia menyukai Aril diam-diam tapi tak pernah menjalin hubungan karena pria itu tak pernah menanggapi perasaannya.


Dan juga, kedua kakaknya menjaganya dengan sangat baik. Tak ada pria yang bisa dekat dengannya tanpa sepengetahuan dari pria-pria itu.


Lalu siapa yang mengakui dirinya sebagai pacar?


Yundha berusaha menebak-nebak tapi kepalanya sedang malas untuk berpikir. Untuk itu ia pun berdiri dari duduknya dan mengajak semua orang untuk menuju bioskop di lantai teratas pusat perbelanjaan itu.


Ia tak ingin memikirkan siapa yang bayar barang belanjaan itu, yang penting uangnya aman. Dan ia yakin orang itu pasti akan mendapatkan pahala yang banyak karena telah beramal dengan bersedekah.


"Ayo ma. Kita harus buru-buru. Bentar lagi filmnya mulai nih," ucapnya agar sang mama mengikuti langkahnya.


"Iya iya," jawab Merry tersenyum. Mereka berdua pun segera menggunakan tangga eskalator untuk menuju ke tempat tujuan mereka semua.


"Kak Yudha kok belum datang ya ma?"


"Mungkin mereka sudah dalam perjalanan kemari. Tadi waktu mama nelpon katanya udah meninggalkan apartemen."


"Oh gitu ya? Artinya nanti kita langsung nonton saja ya ma. Ketemunya paling setelah nonton."


"Iya."


"Eh kamu kok gak pernah bilang kalau kamu udah punya pacar sih sayang," bisik Merry saat mereka sudah antri di depan bioskop untuk menonton film komedi sebagai akhir dari acara traktiran Yundha hari ini.


Yundha menghela nafasnya. Ia pikir semua orang akan melupakan pria misterius yang mengakui dirinya sebagai pacar. Ia pun meremas jari-jarinya karena tak nyaman.


"Dia baik hati lho Nda. Masak mama mau dibelikan perhiasan mahal saat tahu kalau mama adalah ibu kandung kamu, itu 'kan manis banget."


"Jadi beneran dia pacar kamu Nda?" Merry kembali menatap sang putri dengan pikiran melayang kepada pria yang mengaku bernama Dewa itu.


"Duh mama. Aku tuh tak pernah pacaran. Dan memangnya siapa dia?"


"Namanya Dewa. Dan ngakunya sebagai pacar kamu. Dan terus terang saja mama suka lho padanya."


"Dewa?" ucap Yundha dengan wajah yang sangat kaget.


"Kenapa? Memangnya ada seorang lain yang kamu harapkan?"

__ADS_1


Yundha tidak tahu harus menjawab apa karena ini terlalu rumit. Rasanya masalahnya kini semakin berhubungan satu dengan yang lainnya. Ia bingung karena Dewa si brengsek sudah berhasil mengambil hati semua orang.


"Maafkan Yundha ma. Sebenarnya masalahnya tidak seperti itu kok," jawab gadis itu dengan gelagapan. Ia benar-benar tak tahu harus mengatakan apa lagi pada sang mama dan juga pada semua anggota keluarga lainnya.


"Lalu bagaimana lagi masalahnya. Kalau ada pria yang rela menghabiskan uang sebanyak ini untuk seorang gadis itu artinya ia serius sayang. Dan mama sangat suka orangnya. Dia tampan dan kelihatannya sangat suka sama kamu." Merry tersenyum. Ia benar-benar sudah sangat setuju dengan pria yang tidak pelit seperti itu.


"Mama sudah dong. Pria itu gila ma. Dia suka gak waras gitu. Suka ngomong aneh dan bikin aku kesel banget. Pokoknya aku gak mau sama dia ma. Aku maunya sama kak Aril."


"Eh? Kok gitu sih?" Wajah Merry langsung berubah bingung.


"Kak Aril udah ngelamar aku ma. Jadi jangan mikirin dia lagi, okey?"


"Tapi dia udah keluar uang banyak lho sayang,"


"Biarkan saja ma. Dia itu punya utang ratusan juta sama aku. Jadi wajar kalau dia membayar, itupun sebenarnya belum cukup." Yundha berucap dengan wajah yang sangat kesal.


Mohon perhatian Anda.. Pintu teater satu telah dibuka.. Bagi Anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater satu..”


Sebuah pengumuman pun terdengar kalau film yang akan mereka tonton akan segera tayang dan semua dipersilahkan untuk masuk.


🌹


"Hey, kamu disini juga pak Dewa, lagi belanja juga nih," ucap Yudha saat bertemu dengan Dewa di dalam toko itu.


"Ah iya pak. Sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan." Dewa menjawab seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan relasi bisnisnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu.


"Perkenalkan ini istriku, Selfina," ucap Yudha seraya balas menjabat tangan pria itu.


"Oh, jadi?" Dewa tampak berpikir.


"Yap, kami sudah menikah. Dan sebentar lagi menjadi papa dan mama." Yudha langsung bisa menangkap kebingungan di wajah Dewa.


"Wow. Rasanya aku juga sudah sangat ingin menyusul. Pasti enak ya kalau mempunyai seorang istri," ucap Dewa dengan membayangkan Yundha sebagai istrinya. Sungguh, ia sudah sangat tak sabar.


"Hum, enak sekali pak Dewa. Semua urusan terjamin deh dari dapur sampai ke kasur, hahaha," jawab Yudha tertawa. Dewa ikut tertawa dan berharap usahanya kali ini untuk mendapatkan Yundha akan segera membuahkan hasil terbaik.


"Baiklah pak Dewa, sampai jumpa lagi. Kami dan keluarga akan nonton setelah ini."

__ADS_1


"Ah ya baiklah, aku juga ingin ikut nonton pak. Tapi aku sedang urus pembayaran beberapa barang di sini terlebih dahulu."


"Ah iya pak lanjutkan saja. Kami permisi bye."


"Bye."


Dewa pun kembali menunggu kasir mempergunakan kartu saktinya untuk membayar semua barang yang diambil oleh mama dan keluarga Yundha yang lain.


Di tangannya juga terdapat hampers untuk gadis itu saat mereka nanti bertemu langsung. Ia ingin memberikannya sebagai hadiah spesial darinya.


Setelah semua urusannya selesai. Ia pun menuju tangga eskalator untuk menuju ke bioskop yang terdapat di lantai teratas pusat perbelanjaan itu.


Sebuah karcis ia beli dan berharap semoga ia mendapatkan kursi di samping Yundha. Ia sungguh ingin menonton dengan berdekatan dengan gadis itu meskipun itu rasanya sedikit tak mungkin.


"Tak apa berjauhan karena saat ini ia bersama dengan keluarganya," ucap pria itu seraya mencari kursinya sendiri.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia duduk disamping gadis cantik yang sangat ingin ia nikahi itu.


Di tengah gelapnya gedung bioskop ia selalu mencuri-curi pandang gadis cantik dan sangat ia cintai itu. Film yang sedang tayang dihadapannya tak ia hiraukan. Ia benar-benar sangat menikmati semua ekspresi yang ditampilkan oleh Yundha saat menonton.


Tangannya tanpa sadar bergerak meremas tangan Yundha yang kebetulan sedang berada di samping tubuhnya. Gadis itu tidak menyadarinya apalagi saat sebuah adegan romantis tampak sangat jelas dihadapannya.


Yundha tanpa sadar menutup matanya dan membayangkan ada seseorang yang memberikan perhatian yang sangat besar padanya seperti yang ada dalam adegan romantis itu.


Dewa terbawa suasana. Dalam gelapnya gedung itu ia bergerak ke arah samping dalam gerakan yang sangat pelan dan berhasil mengecup bibir lembut dan kenyal milik Yundha.


Mata gadis itu langsung terbuka dan ingin berteriak tapi Dewa segera berbisik dengan suaranya yang sangat pelan.


"Kamu mau semua orang tahu hubungan kita?"


Yundha menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mau semua orang tahu tentang dia dan pria itu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke

__ADS_1


__ADS_2