
Katanya perempuan kalau kesal dan ngambek cara bujuknya adalah dengan membawanya shopping atau berbelanja. Itulah yang sedang dipelajari oleh Yudha lewat mbah Gugel.
Selfina sejak tadi tidak memberinya senyum seperti yang sangat ia suka. Gadis itu benar-benar ngambek dan tidak membalas perkataannya.
Dan sekarang disinilah ia, di sebuah pusat perbelanjaan. Ia memaksa Selfina untuk memilih semua yang ia inginkan.
"Kamu pilih apa saja yang kamu mau," ucap pria itu seraya menunjuk beberapa perlengkapan perempuan dengan segala perintilannya.
"Bapak mau membujuk saya?" tanya gadis itu dengan bibir yang masih manyun. Hatinya tiba-tiba merasa luluh dan tersentuh.
"Gak."
"Lalu untuk apa saya disuruh memilih barang-barang mewah seperti ini?" Bibir Selfina semakin manyun. Ia kembali kesal.
Yudha tersenyum samar lalu menjawab, "Ini dalam rangka kerja juga. Aku ingin lihat sejauh mana selera belanjamu." Yudha menjawab dengan santai.
"Eh?"
"Apa?" Mata bulat gadis itu semakin membulat.
Yudha semakin gemas saja dibuatnya.
"Gak usah kaget seperti itu. Perusahaan kita perusahaan besar. Hampir semua urusan perekonomian di negara ini kita yang ikut memberikan kontribusi. Jadi wajar kalau aku ingin survei giat ekonomi melalui dirimu."
Hahaha asal saja sih
"Baiklah pak presdir yang baik hati. Kalau aku belanja banyak apa gajiku tidak akan dipotong sebagai biaya operasional?"
Yudha terkekeh dalam hati.
"Menurut kamu?" tanya Yudha balik. Ia menatap gadis cantik itu dengan tatapan serius.
Selfina tampak berpikir.
"Gak usah banyak mikir, pilih saja apa yang kamu mau," ucap Yudha akhirnya. Selfina tersenyum kemudian segera menghampiri rak-rak berisi tas-tas branded yang tidak pernah ia miliki selama ini.
Yudha mengikutinya saja dengan sabar sambil sesekali memotret gadis itu sembunyi-sembunyi.
"Apa ada budget khusus untuk acara shopping ini pak?" tanya gadis itu dengan wajah meringis. Yudha langsung menyimpan handphonenya.
Sedangkan Selfina sudah mulai merasa risih dengan semua harga barang yang ada pada barang-barang dihadapannya.
Harganya sangat fantastis sampai ia tak mampu menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Yudha santai.
"Saya gak enak nih pak."
__ADS_1
"Kenapa lagi?"
"Barangnya mahal semua. Takutnya saya ambil banyak dan berakibat tidak baik untuk masa depan dompet bapak, hehehe," kekeh Selfina.
"Gak akan. Dompetku masih aman yang penting roda ekonomi lancar. Ayo cepetan. Kita 'kan harus segera kembali ke kantor."
"Ini beneran aku bisa milih sepuasnya pak?" tanya Selfina lagi. Senyumnya merekah dengan mata berbinar-binar senang-senang.
"Gak akan diutangin 'kan pak?" tanya lagi dengan wajah manja. Mata gadis itu berkedip-kedip menggemaskan.
Yudha tersenyum. Ia berusaha menahan dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu dan membuatnya kehabisan nafas.
Sabar, ini tempat umum! Jerit hatinya mengingatkan.
"Apa perlu aku bayar semua ini untukmu Fin biar kamu percaya?" tanyanya tak sabar. Ya untuk gadis cantik ini, ia benar-benar harus banyak bersabar untuk tidak menyentuhnya.
"Ah tidak perlu pak. Mubazir nanti." Selfina menjawab santai seraya mengibaskan tangannya. Ia pun segera meninggalkan pria itu. Ia mengambil 2 buah tas, sepasang sepatu dan juga beberapa potong pakaian.
Yudha hanya tersenyum. Dan meninggalkan gadis itu untuk menelpon seseorang. Setelah itu ia langsung menuju ke arah kasir dan memberikan kartu saktinya.
"Untuk gadis itu ya mbak," ucapnya pada seorang gadis kasir yang sudah sangat mengenalnya.
Toko itu adalah langganan keluarganya jadi mereka sudah seringkali bertemu. Ia menunjuk Selfina yang sedang berjalan ke arah tempat itu.
"Aku mau ke toilet dulu. Katakan untuk menunggu aku ya," ucap Yudha pada sang kasir.
"Kamu sekertaris barunya Yudha ya?" tanya seseorang yang tak lain adalah Desy, istri Maher Abdullah. Rupanya perempuan itu juga sedang berada di toko itu.
"Eh ibu, selamat siang. Saya Selfina sekretarisnya Pak Yudha yang baru." Gadis itu langsung membungkukkan badannya hormat di depan Desy. Ia pernah melihat perempuan itu di rumah Ardina saat itu.
"Oh, gitu? Jadi kamu kesini bersama dengan Yudha?" tanya Desy dengan tatapan menelisik pada tubuh Selfina. Dari atas kebawah seolah-olah sedang ingin mengulitinya.
"Iya Bu."
"Semua ini belanjaan kamu?" tanya perempuan itu dengan mata terhenti pada tangan gadis itu.
"Iya Bu."
"Yudha yang bayar?" tanya Desy lagi dengan tatapan serius.
"Ah iya Bu."
"Enak bener ya? Apa Yudha punya perasaan khusus padamu?"
Selfina terhenyak. Ia balas menatap perempuan itu dengan tatapan serius.
"Maaf Bu saya tidak tahu itu. Hubungan kami hanya sebatas bos dan juga karyawan, tak lebih dari itu."
__ADS_1
"Lalu untuk apa ia membelikan kamu barang sebanyak dan semahal ini?"
Selfina tampak berpikir.
"Kamu bukan gadis bodoh bukan? Kamu pasti tahu mana pria yang ingin menarik perhatianmu dan mana yang tidak. Tapi untuk Yudha, putraku itu anak yang sangat baik. Pada semua orang ia baik dan loyal jadi jangan terlalu cepat Ge Er."
Selfina tersenyum meringis. Ia membenarkan kata-kata perempuan itu. Yudha memang sangat loyal kalau soal uang tapi tidak soal perlakuan pada orang.
Ia sering ditindas dan juga dibuat sangat kesal oleh pria itu jadi ia tidak akan membawa-bawa perasaan dan gede rasa akan perhatian pria itu.
"Tenang saja Bu. Saya tidak akan merasa gede rasa kok. Saya hanya ingin menyenangkan pak Yudha," ucap Selfina dengan senyum diwajahnya.
"Baguslah. Kamu memang sektretaris pintar. Dan ya asal kamu tahu, kami sekeluarga juga sudah menyiapkan calon menantu yang sangat cocok untuk Yudha."
Deg
Entah kenapa Selfina merasa dadanya tiba-tiba langsung terasa sangat sesak mendengar hal itu.
"Maaf mbak. Pak Yudha meminta anda menunggunya di kasir," ucap seorang pelayan toko yang langsung membuatnya tersentak dari lamunannya.
"Ah iya mbak terimakasih. Saya akan segera kesana. Saya sudah selesai kok," ucap Selfina tersenyum.
"Mari Bu, saya duluan," ucapnya lagi pada Desy untuk berpamitan.
Desy langsung menahan tangan Selfina kemudian berucap, "Bisa minta tolong gak nih?" ucap Desy dengan wajah yang mulai melembut.
"Ah iya Bu. Ada apa?"
"Nitip ya, kamu gabung dengan barang belanjaan kamu. Yudha yang bayar 'kan?" Desy dengan cepat meletakkan semua barang belanjaannya di depan troley yang sedang di dorong oleh Selfina.
"Lho Bu?"
"Eh dengarkan aku ya, aku ini adalah mama kesayangannya Yudha dan ia sangat menghormati aku. Jadi bawa saja kesana. Yudha pasti membayar semuanya."
Selfina pun menurut. Ia tak ingin berdebat dengan perempuan itu.
Desy tersenyum licik. Ia harus mengambil banyak keuntungan melalui gadis itu.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Updatenya lambat lagi ya🤗
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1