Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 62 Mood Buruk


__ADS_3

"Kok gak dimakan?" tanya Yudha.


Selfina hanya mengaduk-aduk makanannya dengan malas. Ia masih sangat kesal pada pria dihadapannya ini dan lebih memilih untuk diam dan tidak makan.


"Mau aku suapin?" tanya pria itu lagi.


"Gak perlu pak. Saya bisa sendiri." Selfina menjawab kemudian segera membawa sendok berisi soto itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan wajah tak Iklhas.


Rasanya ia ingin mengunyah presiden direktur itu bulat-bulat saja dan menelannya tak pakai kuah. Dicampur dengan sambel level sepuluh pun rasanya sangat cocok.


"Aku tambah ya?" ucap Yudha seraya mengisi lagi piring Selfina dengan potongan daging empuk yang sengaja ia pesan untuk gadis itu.


Selfina hanya menghela nafasnya. Ia semakin kesal saja karena pria itu sangat tidak mengerti perasaannya saat ini.


"Nah, gitu 'kan lebih bagus. Tubuhmu bisa berisi sedikit kalau kamu makan banyak." Yudha tersenyum kemudian melanjutkan makannya.


Sementara itu Selfina malah merasakan dadanya semakin sangat sesak karena kesal.


Beberapa puluh menit yang lalu ia dibuat malu lagi oleh pria arogan itu. Pria itu tidak memberinya kesempatan bicara dengan Ishan, teman se fakultas nya dulu sewaktu menjadi seorang mahasiswa.


Padahal mereka baru bertemu setelah sekian tahun.


"Maaf ya, Selfina adalah sekretaris pribadi saya. Dan saat ini ia sedang bekerja. Dan itu berarti ia tidak boleh diganggu sama sekali oleh siapapun," ujar Yudha kepada Ishan saat itu.


Ya Allah, padahal saat ini kami hanya akan makan siang di jam istirahat, gerutu Selfina dengan perasaan kesalnya.


Ini kan juga bukan waktu bekerja pak presdir!


Selfina membuang nafasnya kemudian berucap, "Pak. Kami hanya akan reunian sejenak. Ada hal penting yang ingin aku ceritakan padanya."


Ia meminta izin tapi kenyataannya pria itu tetap tidak membiarkannya.


"Kamu tahu cara kerja aku 'kan Fin? Aku tidak suka kalau kamu tidak disiplin dengan membantah perkataan aku!" tegas Yudha.

__ADS_1


"Maaf ya Ishan, kita bisa bicara lewat telepon atau wa. Sebutkan saja nomor kamu," ucap Selfina dengan perasaan tak nyaman. Pasalnya ia sudah lama ingin membicarakan banyak hal pada pria itu.


Ishan hanya bisa tersenyum. Ia maklum. Dengan melihat pakaian yang sedang dipakai Selfina dan pria muda yang sedang bersamanya itu ia tahu kalau mereka adalah orang yang sibuk. Mereka pasti adalah eksekutif muda yang sedang bekerja di sebuah perusahaan besar.


Pria muda yang sedang menjadi seorang pemilik toko di pusat perbelanjaan itu langsung menyebutkan nomornya sementara gadis itu menyimpannya pada daftar kontak di handphonenya.


"Udah aku simpan. Makasih ya," ucap gadis itu tersenyum seraya memperlihatkan handphonenya. Ia juga menghubungi nomor pria itu agar Ishan menyimpannya.


"Oke Fin. Aku akan simpan nomor kamu juga," ucap pria itu dengan wajah yang nampak sangat gembira.


Seorang gadis yang sudah lama ingin ia temui tenyata bisa ia temukan di kota besar ini.


Yudha sudah tak tahan lagi, ia mengerang kesal dan langsung menarik tangan Selfina memasuki restauran yang tidak jauh dari mereka saat ini.


"Maaf ya Ishan. Aku harus bekerja," teriak gadis itu karena tubuhnya ditarik paksa oleh bosnya.


Dan sekarang disinilah ia, dengan hati yang masih sangat kesal. Ia merasa bahwa ia telah salah memilih bekerja pada perusahaan besar ini. Ia merasa tak pernah punya waktu untuk diri pribadinya sendiri.


"Mana handphone kamu?" tanya Yudha dengan tangan ia tengadahkan di depan wajah sang sekretaris.


Selfina mendengus pelan kemudian meraih handphonenya dari dalam tasnya. Ia pun menyerahkannya pada Yudha sang presiden direktur.


"Ceroboh!" ucap pria itu karena ia mendapati handphone itu gampang dibuka karena tidak mempunya password untuk membukanya.


Yudha mencari kontak pria yang bertemu dengan Selfina tadi dengan menelusuri riwayat panggilan keluar terakhir pada handphone itu.


Setelah itu ia memblokir dan menghapusnya dari dalam kontak.


"Aku kembalikan handphonemu dan lanjutkan makanmu," ucap pria itu dengan wajah santai. Selfina yakin pria itu telah melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada handphonenya.


Ia akan memeriksanya nanti.


Setelah itu ia pun memasukkan kembali handphone itu dan memaksakan lidahnya menelan makanan yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Nafsu makannya sudah hilang dan sekarang ia makan karena pria itu memaksanya.


"Kamu marah?" tanya Yudha dengan tatapan lurus pada wajah gadis itu. Ia yakin kalau sang sekretaris sangat kesal padanya saat ini.


"Apa saya harus mengatakannya pak?" Selfina balas bertanya.


"Tentu saja."


"Apa saya juga berhak untuk mengeluh pak?"


"Tentu saja."


"Baiklah, saat ini saya sedang dalam mood yang buruk pada bapak." Gadis itu akhirnya mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Ia tak mau makan hati dan membuatnya jadi bertambah kesal.


"Oh ya?" Alis Yudha terangkat. Ia sangat suka melihat wajah cemberut gadis cantik dihadapannya itu.


"Bapak udah sering bikin saya kesal tahu gak?" Wajah gadis itu semakin cemberut dengan bibir manyun.


"Maafkan saya kalau saya membandingkan anda dengan pimpinan saya sebelum ini. Tapi Pak Praja memang tahu cara menghargai orang lain daripada anda."


"Benarkah?" Yudha tersenyum samar dan tidak merasa bersalah samasekali.


Selfina sekali lagi menunjukkan wajahnya yang sangat kesal. Dan Yudha sangat suka itu. Ia merasa telah mendapatkan hiburan gratis yang sangat menyenangkan.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayang, mohon maaf karena author baru update.


Mood author lagi gak baik saat ini karena hadiah istimewa dari aplikasi pagi ini. Level novel ini turun 😭.


Author iklhas tapi sedih.

__ADS_1


Baiklah, like dan komentar ya biar othor semangat updatenya, hiks 🤭😭😬😅.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2