Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 51 Mama Butuh Kamu


__ADS_3

Pagi yang tidak begitu baik bagi Ardina. Yudha ternyata memiliki sifat sebelas dua belas dengan Maher Abdullah.


Pria muda yang sudah menjabat sebagai presiden direktur di perusahaan itu ternyata lebih disiplin daripada pimpinannya yang lama.


Agenda dan pekerjaan yang sudah disusunnya untuk pria muda itu harus dikerjakan se sempurna mungkin. Tak ada kesalahan yang dia tolerir.


Izin untuk istirahat pun jarang ia dapatkan. Sampai ia benar-benar berharap ada seseorang yang mengirimkannya sebuah paket berisi calon sekretaris yang bisa ia bina untuk menggantikannya.


Perempuan itu menatap layar laptopnya. Beberapa email belum ia balas. Ia masih menunggu keputusan dari Yudha Abdullah terkait tawaran kerjasama dengan perusahaan dari luar negeri itu.


Dan sekarang ia mulai memijit batang hidungnya. Kepalanya sedikit pusing karena kurang tidur semalaman.


Praja Wijaya, sang suami di akhir pekan ini datang ke Jakarta dan membuatnya kembali begadang untuk melayani hasrat pria itu yang begitu besar padanya.


Belum lagi David yang sangat butuh perhatian. Anak itu selalu ingin keluar rumah ketika papanya datang. Jadilah ia tidak ada waktu istirahat ketika weekend tiba.


Tempat wisata mereka kunjungi dan menemani anak itu sepanjang waktu.


Akhir pekan adalah Family time. Siang untuk David dan sepanjang malam adalah suami time untuk membuat bekal yang banyak persiapan hubungan jarak jauhnya selama satu pekan untuk Praja.


Dan hari ini di hari Senin, saat semua pekerja seperti dirinya bersemangat untuk bekerja, ia malah kelelahan dan tak ada semangat.


"Aaa badanku terasa sangat lelah sedangkan pekerjaan ini begitu banyak," keluhnya setelah membaca agenda kerja Yudha untuk hari ini.


Perempuan itu meletakkan kepalanya di atas meja kerjanya karena merasa bumi terasa berputar. Keringat dingin pun mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


Padahal aku sudah sarapan yang banyak. Tapi kenapa lambungku terasa perih? ujarnya membatin.


Dan ya ampun, aku juga merasa mual.


Dengan cepat ia berlari ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya. Setelah itu ia pun keluar dari tempat itu dengan tubuh yang sangat gemetar.


"Bu Ar, gimana dengan file yang aku minta, udah selesai belum?" tanya Yudha saat melewati Ardina yang sedang berdiri di atas heelsnya dengan sekuat tenaga.


Ia berusaha menahan dirinya untuk tidak jatuh.


"Bu Ar?"


Langkah Yudha terhenti dan menatap perempuan yang tampak sangat pucat itu.

__ADS_1


"Bu Ar tidak apa-apa?" tanya pria itu dengan wajah yang berubah khawatir.


Bugh


Belum juga ia sampai di mejanya dan menjawab pertanyaan pria itu, ia sudah jatuh ke lantai.


"Astaghfirullah, Bu Ar?" Pria itu dengan sigap langsung menahan agar perempuan itu tidak sampai mendarat dengan keras ke atas lantai.


Ia pun mengangkat tubuh Ardina dan membawanya ke dalam ruang kerjanya. Sofa yang ada di dalam ruangan itu ia gunakan untuk membaringkan sang sekretaris.


"Yudha! Apa yang kamu lakukan?!" Sebuah teriakan keras terdengar dari arah pintu ruangan kerjanya.


Desy, sang mama tiri berdiri di sana dengan tatapan tajamnya.


"Mama?"


"Apa yang kamu lakukan sama sekretaris sialan ini hah?!" Teriak istri ketiga dari papanya itu.


"Aku tidak melakukan apapun ma. Dia pingsan dan aku bawa ia kemari." Yudha menjawab dengan perasaan tak bersalah samasekali.


Desy langsung mencari air dari dalam toilet dan memercikkannya pada wajah Ardina.


"Kamu mau menjebak Yudha dan menghancurkan keluarga kami iyya? Tidak cukupkah mas Maher sekarang ada di dalam penjara?" Desy menatap wajah pucat Ardina dengan perasaan yang sangat marah.


Ardina berusaha untuk bangun lalu duduk dengan kepala yang masih sangat pusing. Ia tidak menjawab tuduhan Desy karena ia tak perlu menjawabnya.


"Sekarang kamu bisa keluar! Untung saja saya cepat datang, kalau tidak? Mungkin kamu akan membuat drama akan diperkosa oleh Yudha!"


"Astaghfirullah mama! Ngomong apa kamu?" teriak Yudha dengan perasaan tak nyaman dari dalam dadanya.


"Mama ngomong yang benar. Lihat saja dia. Sangat pintar memperlihatkan wajahnya yang sok cantik dan baik." Desy mencibir.


"Maaf Bu Ar, Apa bisa jalan keluar sendiri?" tanya Yudha berusaha membuat Ardina keluar dari ruangannya dengan sopan.


Ia tidak mau melihat perempuan yang ia hormati itu dipermalukan oleh sang mama.


"Iya, bisa kok pak. Aku udah baikan sekarang," jawab Ardina seraya berusaha untuk berdiri sendiri.


Akan tetapi tubuhnya yang masih sangat gemetar itu langsung jatuh lagi ke sofa.

__ADS_1


"Hey, gak usah dibantuin!" titah Desy saat Yudha ingin membantu perempuan itu.


"Nanti sidik jari kamu nempel di pakaiannya trus kamu dapat tuduhan lagi. Bisa-bisa keluarga mereka yang menguasai perusahaan ini!"


"Astaghfirullah mama! Bisa gak sih ngomong yang baik-baik saja?" Yudha sudah mulai kesal. Ia merasa kesal dengan kata-kata pedas dari perempuan itu.


"Mana bisa mama ngomong baik-baik kalau semua kebaikan yang kami lakukan padanya dibalas dengan sangat kejam seperti ini! Papamu mendekam di penjara dan sudah mulai sakit-sakitan." Desy membalas ucapan Yudha seraya menghampiri Ardina yang nampak sangat tak berdaya.


"Hey! Kamu perempuan tak tahu terimakasih. Saya pastikan hidupmu akan menderita!"


"Mama! Keluar dari ruangan ini sekarang juga!" Yudha sudah tidak tahan dengan kata-kata mamanya .


"Ya ampun. Kamu diberi makan apa sih sama perempuan ini? Sampai kamu dan papamu selalu punya perhatian sebesar ini padanya hah?!"


"Kamu bahkan berani menantang mamamu sendiri!" Desy semakin meradang. Ia sangat kesal dan marah karena Yudha tak pernah membelanya.


"Maaf ma. Mama lihat sendiri bagaimana kondisi kesehatan Bu Ardina. Dan tolong untuk memiliki rasa empati sedikit saja pada orang lain." Yudha melipat tangannya di depan wajahnya.


"Halah, untuk apa? Dia sendiri tak memiliki perasaan seperti itu untuk orang lain. Ia tak punya belas kasihan pada keluarga kita. Suaminya pun sama."


"Bu Ar, maafkan mama ya?" Yudha menghampiri Ardina dan berharap kalau perempuan itu bisa istirahat saja dan tidak perlu datang bekerja.


"Gak apa-apa pak. Aku kayaknya memang butuh istirahat. Aku izin saja ya pak?" ucap Ardina dengan wajah pucatnya.


"Aku akan meminta sopir perusahaan untuk mengantar Bu Ar pulang." Yudha berucap seraya meraih handphonenya dari dalam saku jasnya.


Desy mencibir. Tadinya ia anggap Ardina adalah temannya tapi sekarang ia sangat membenci perempuan itu. Ia merasa seperti sedang ditusuk dari belakang.


Dan sekarang ia ingin membalaskan dendam suaminya pada perempuan itu.


Dan setelah Ardina pergi dari ruangan itu ia langsung menghampiri Yudha dengan wajah yang berubah sangat ramah.


"Yudha, mama butuh sesuatu sayang," ucapnya dengan tatapan penuh arti pada sang putra.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2