Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 195 Obat Mujarab


__ADS_3

Acara bulan madu dadakan itu akhirnya berakhir di rumah sakit. Selfina dan Yundha merasakan mual dan mulas sampai lemas. Tak ada lagi acara enak-enak yang sudah ada di dalam benak mereka. Semuanya gagal total.


"Kalian ini gimana sih? Kok gak bisa jaga istri-istri kalian!" kesal Merry.


Yudha dan Dewa tak bisa lagi menjawab apalagi melawan. Mereka berdua memang merasa bersalah karena tak mampu menjaga perempuan kesayangan mereka dari hal-hal yang akan membahayakan kesehatan.


"Udah Mer. Aku yakin bukan kesalahan mereka semata. Yang penting mulai saat ini sampai seterusnya gak boleh lagi makan-makanan yang terlalu pedas apalagi kalau belum makan samasekali." Rania ikut bicara seraya mengelus lembut pucuk kepala sang menantu.


"Kalian dengar itu?" Merry bertanya pada empat orang tersangka dan juga saksi yang ada di dalam ruangan itu.


"Iya ma. Tapi 'kan gak enak makan kalau gak ada rasa pedasnya meskipun cuma level satu aja," ucap Selfina masih bertahan dengan keinginannya memakan makanan pedas yang selalu mampu menggugah seleranya.


"Sel, demi kesehatan kamu dan calon bayi kita sayang. Jangan lagi makan makanan yang seperti itu ya?" ucap Yudha membujuk. Ia benar-benar takut kalau terjadi apa-apa pada istrinya dan juga kandungannya


Seorang dokter pun memasuki ruangan itu dimana Yundha dan juga Selfina masih terbaring dengan lemah karena lemas.


"Maaf dokter, aku mau tanya nih," ucap Dewa ingin mendapatkan pencerahan atas apa yang ada di dalam benaknya tentang insiden ini.


"Silahkan pak." Dokter perempuan itu tersenyum kemudian mempersilahkan Dewa untuk bertanya.


"Boleh gak ibu hamil mengonsumsi makanan pedas dokter? Soalnya aku pernah mendengar banyak kabar mengenai pantangan makanan yang harus dipatuhi oleh ibu hamil. Salah satunya adalah makanan pedas. Makanan ini dianggap bisa menimbulkan keguguran bahkan dipercaya dapat menyebabkan bayi botak. Lantas, bagaimanakah kebenarannya. Apakah itu betul dokter?"


Dokter itu tersenyum dan memandang orang-orang yang ada di dalam kamar perawatannya itu bergantian. Selanjutnya ia pun bersiap menjawab, "Makanan pedas erat kaitannya dengan makanan yang mengandung cabai. Makanan pedas berbeda dari makanan lainnya karena dapat memberikan sensasi unik, yaitu rasa panas atau terbakar pada mulut dan lidah."


"Saya yakin ada sekitar lebih dari 50% orang pasti suka makanan pedas. Meski terdengar tidak nyaman, banyak orang yang menyukai sensasi ini, termasuk wanita-wanita yang sekarang mungkin sedang hamil. Beberapa bahkan mengatakan bahwa rasa pedas dapat meningkatkan nafsu makan mereka, betul gak para bumil?"


Yundha dan Selfina tersenyum kemudian mengangguk. Mereka memang sangat suka dengan makanan pedas.


"Ibu hamil boleh kok mengonsumsi makanan pedas. Hanya saja, kehamilan membuat bumil dituntut untuk lebih selektif dalam memilih makanan atau minuman. Hal ini karena segala yang bumil konsumsi bisa memengaruhi proses tumbuh kembang janin di dalam kandungan," jelas dokter itu dengan sabar.


"Mengonsumsi makanan pedas saat hamil sebenarnya boleh-boleh saja dan tidak akan membahayai janin, kok. Jadi, anggapan bahwa makanan pedas bisa menimbulkan keguguran dan menyebabkan kebotakan pada bayi hanyalah mitos yang tidak didukung oleh penelitian maupun bukti klinis."


Yundha dan Selfina menghela nafas lega begitu pun semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Meski begitu, efek samping makanan pedas yang bisa terjadi pada kebanyakan orang berupa nyeri ulu hati, mual, kembung, diare, dan asam lambung naik tentunya juga bisa terjadi pada ibu hamil, bahkan dengan gejala yang lebih berat."


"Nah, itu dia yang aku maksudkan dokter," timpal Merry dengan sangat antusias.


"Yundha punya riwayat sakit maag. Nah kalau ia makan pedas tanpa didahului dengan makan nasi terlebih dahulu, alamat akan seperti ini," lanjutnya dengan tatapan serius pada sang putri.


Dewa semakin merasa bersalah. Ia tidak tegas melarang sang istri mengkonsumsi seblak itu padahal seharusnya ia bisa menjadi seorang suami siaga.


"Maafkan aku ma. Aku harusnya bisa jadi suami siaga dan menjaga agar Yundha selalu baik-baik saja," ucap Dewa tak nyaman.


"Kami yang mau minta maaf sih karena menuruti kemauan sendiri padahal udah dapat teguran dari mas Yudha," timpal Selfina dengan wajah yang tampak menyesal.


"Nah, informasi yang saya berikan ini bukan berarti bumil gak boleh makan makanan pedas, namun, alangkah baiknya bila bumil tetap membatasi tingkat kepedasan dan porsinya. Selain itu, jangan lupa untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan menjaga kebersihan makanan, ya."


"Bila Bumil ingin membuat makanan pedas sendiri, pastikan untuk mencuci tangan dahulu sebelum mengolahnya. Selain itu, penting pula untuk memastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan bersih dan berkualitas baik."


"Iya dokter terimakasih banyak dokter," ucap mereka semua.


"Iya sama-sama. Dan satu tambahan lagi sih. Nanti kalau sudah melahirkan usahakan untuk tidak makan yang pedas kalau sedang menyusui, biasanya air susu akan ikut pedas dan mengganggu bayinya."


Setelah merasa lebih baik, Selfina dan Yundha pun kembali pulang ke rumah.


"Maaf ya Mer, Yundha aku bawa pulang ke rumah aku. Gak enak kalau gak ada mereka di sana. Rasanya rumah jadi sepi," ucap Rania meminta izin.


"Iya gak apa-apa. Bawa saja Ran. Aku percaya kamu bisa mengawasi mereka. Kalau Selfina sama Yudha sih biar ke rumah kami saja. Jangan kembali ke apartemen. Mama mau jaga apa yang kamu konsumsi," jawab Merry.


"Iya ma Siap!" seru Yudha tersenyum.


Mereka pun berpisah dan meninggalkan rumah sakit itu.


"Gimana sayang?" tanya Dewa saat mereka sudah sampai di dalam kamar mereka.


"Aku masih lemas mas," jawab Yundha seraya membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk mereka. Dewa ikut naik ke atas ranjang dan duduk di samping sang istri tercinta.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa? Nanti aku siapkan," ucapnya dengan tatapan penuh cinta pada perempuan cantik ya nampak pucat itu.


"Sebenarnya cuma mau makan kamu mas, tapi aku lemas banget," balas Yundha dengan senyum menggodanya.


"Nda, jangan pancing aku dong sayang. Kamu dalam keadaan seperti ini mana bisa aku melakukannya."


"Cuma bercanda mas hehehe," kekeh Yundha merasa sangat lucu dengan ekspresi suaminya.


"Aku minta maaf ya mas. Gara-gara gak ingat penyakit, bulan madu kita jadi gagal."


Dewa tersenyum kemudian meraih bibir perempuan itu dan mengulumnya sangat lembut.


"Gak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kamu sehat dan kuat kembali sayang," ucap Dewa dengan senyum diwajahnya. Tangannya pun bergerak membuka kancing depan pakaian Yundha sampai membuat perempuan itu kaget.


"Lho mas, katanya nunggu aku sehat dulu," ucapnya.


"Cuma mau icip-icip dikit bolehkan sayang," jawab Dewa tersenyum.


"Aku akan kasih obat supaya kamu cepat kuat, hem," lanjutnya dengan tatapan penuh hasrat pada perempuan yang sangat dicintainya itu.


Yundha balas tersenyum. Ia tahu suaminya ingin apa. Dan ia akan menyerahkan semua yang ia miliki yang penting pria itu senang dan juga puas.


Tak lama kemudian, pakaian bagian atas perempuan itu pun terbuka dan menampilkan pemandangan yang sangat disukai oleh Dewa.


"Kamu selalu bisa membuat aku gila Nda. Kamu sangat cantik dan indah sayang," bisik pria itu dengan suara beratnya.


Dan...


Menit berikutnya, Dewa sudah tenggelam dalam kenikmatan yang sangat memabukkan. Yundha hanya bisa mendessah nikmat dengan segala hal yang dilakukan suaminya padanya.


Sementara pria tampan dan sangat mesum itu yakin, Yundha akan segera sembuh dan menerima dirinya untuk berkunjung.


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?.


__ADS_2