Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 119 Kupu-kupu Malam


__ADS_3

Ruangan itu semakin panas saja. Selfina dan Yudha tak berhenti mengayuh untuk mendapatkan kenikmatan dunia yang tak pernah bosan mereka raih.


Malam yang semakin larut tak menyurutkan mereka mencoba hal baru yang kadang ekstrim tapi benar-benar sangat menantang.


Mereka berdua seakan lupa waktu. Selfina berkali-kali dibuat melayang oleh Yudha ke langit ke tujuh dengan segala keindahannya. Perempuan itu bahkan tak malu merintih-rintih nikmat meminta ampun dengan kekuatan suaminya yang tak berkurang sedikitpun.


"Masss, uuggh capek," rintih Selfina diantara hentakan-hentakan yang dilakukan oleh suaminya. Ia tak tahu multivitamin apa yang telah diminum oleh pria tampan itu hingga mempunyai stamina yang sangat luar biasa seperti ini.


"Bentar lagi sayang, aku hampir sampai nih, uggghh," balas Yudha dengan semakin mempercepat laju hentakannya dibawah sana.


Selfina tak mampu lagi berkata-kata. Ia sangat suka dengan semua yang dilakukan Yudha padanya tapi ia juga sudah sangat lelah. Pria itu benar-benar tahu cara membuatnya melayang dengan cara di bolak balik bagaikan daging barbekyu.


"Mass, udah dong. Ngantuk banget nih," rengek perempuan cantik itu memohon. Yudha hanya tersenyum dengan berusaha untuk berkonsentrasi agar pelepasan itu bisa segera tiba.


Dan...


"Uggghh..."


Yudha mengerang nikmat saat ia sudah sampai di tujuannya. Sebuah garis finish yang sudah ia raih dengan kemenangan yang sangat memabukkan.


Pria itu akhirnya menyudahi pergumulan itu dengan melakukan penutupan yang sangat manis hingga kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta itu terkapar di lantai dengan napas memburu.


Lelah, itu lah yang mereka rasakan. Sampai mereka tertidur di ruangan itu dan tidak bersedia kembali ke kamar tidur mereka. Tenaga mereka sudah habis. Yudha hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka yang sudah berjuang sangat keras malam itu.


Tak lama kemudian nafas teratur mereka sudah menunjukkan kalau mereka sudah tertidur pulas.


Akan tetapi berbeda dengan yang terjadi di sebuah ruangan perawatan di sebuah rumah sakit internasional di kota itu.


Yudhi sejak tadi hanya diam saja tanpa mau makan dan minum. Obat yang harus dikonsumsi untuk membuatnya sehat kembali pun tak ingin disentuhnya.


Pria itu hanya memandang langit-langit kamar perawatannya dengan tatapan kosong. Ia seperti berada di dunia lain. Cairan bening tanpa sadar keluar dari sudut matanya menggambarkan begitu sakitnya hatinya saat ini.


Indy, sang psikiater hanya bisa menghela nafasnya berat. Ia sudah cukup bersabar sepanjang hari ini menghadapi pasien yang sedang patah hati itu.


"Mas, Abang, kakak, kalau gak mau minum obatnya gak apa-apa sih. Aku juga gak ingin maksa. Aku cuma kasihan saja dengan keadaanmu saat ini." Indy berusaha menjalin komunikasi dengan baik dengan pria itu.

__ADS_1


Yudhi tak bergeming.


"Bukankah lebih baik kalau kamu makan sesuatu kemudian minum obat agar luka di tubuhmu itu bisa segera sembuh?" ucap Indy lagi seraya menghampiri ranjang pria itu. Ia membawa beberapa biji obat untuk diminum oleh Yudhi.


Yudhi belum juga bereaksi. Indy kembali menghela nafasnya. Ia harus bersabar mengingat ia sudah dibayar mahal oleh saudara pria itu.


"Apa perlu aku bawakan kamu kaca hingga kamu bisa lihat betapa menyedihkannya dirimu saat ini?" lanjut dokter cantik itu dengan suara tenangnya.


Yudhi pun mengalihkan pandangannya ke arah dokter cantik itu. Indy tersenyum kemudian mengangkat alisnya.


"Mau aku ambilkan kaca? Kasihan lho dirimu. Udah gak tampan dengan luka dimana-mana."


"Aku tak perduli!" balas Yudhi dengan tatapan marahnya. Pria itu bahkan langsung melepaskan jarum infus yang sedang menempel ditangannya hingga darah langsung keluar dan menetes dari sana.


Indy begitu kaget melihatnya. Ia tak menyangka akan reaksi pria itu dengan ucapannya. Ia pun dengan cepat mengambil beberapa lembar tissue untuk menutupi bekas tusukan itu agar darahnya segera berhenti.


"Gak perlu kamu bantuin. Aku memang menyedihkan. Mati pun sepertinya akan lebih baik untukku saat ini." Yudhi menolak seraya berteriak.


"Heh, dasar lebay. Kamu pikir dengan mati sekarang maka semua urusanmu selesai hah?!" Indy rupanya sudah mulai terpancing.


"Tak ada yang menyayangiku. Semua mengkhianatiku!" Yudhi membalas dengan nada suara yang masih meninggi.


"Mereka peduli padamu. Mereka menyayangimu mas Yudhi. Mereka semua keluarga yang sangat baik."


Yudhi menundukkan wajahnya seraya menyusut airmatanya.


"Begitu banyak orang diluar sana yang sangat ingin berada pada posisi kamu saat ini. Ada mama dan saudara peduli padamu. Ada pekerjaan yang mapan. Ada wajah yang tampan. Bukankah itu harus kamu syukuri mas?"


"Tapi ada kakak yang mengkhianati. Apa itu yang harus aku syukuri juga?" balas Yudhi dengan tatapan tajam pada sang dokter.


"Pak Yudha tidak mengkhianatimu. Jodoh saja yang sedang berpihak padanya saat ini. Masih banyak lho perempuan lain yang bisa kamu dapatkan di luar sana. Kamu hanya perlu membuka diri."


"Gak! Aku maunya sama mbak Selfina saja. Aku tidak mau yang lain!" kekeh pria itu kemudian berjalan ke arah balkon. Ia keluar dan duduk di sana seraya menatap langit malam yang bertabur bintang.


Indy mengikutinya dengan sabar.

__ADS_1


"Lihatlah bintang di atas sana. Semuanya indah dan mampu menghiasi malam. Semuanya cantik dengan peranannya masing-masing. Dan aku yakin semua perempuan di luar sana juga seperti itu. Semuanya baik jika kamu bisa melihatnya dengan pikiran yang baik."


Terdengar Yudhi membuang nafasnya kasar.


"Hanya mbak Selfina yang cantik dan mampu menerangi hatiku. Tapi sekarang, ia juga mengkhianatiku," lirih pria itu.


"Semua perempuan sama saja! Bahkan kamu pun pasti seperti itu, iyyakan?!" ucap Yudhi seraya memandang Indy dengan tatapan tajam.


"Heh. Jangan karena satu orang saja, kamu jadi asal nuduh perempuan ya?! Aku tidak seperti perempuan yang lain."


"Lalu untuk apa kamu sampai mau menemani aku sampai larut seperti sekarang ini? Apa maksud kamu dokter? Kamu ingin menarik perhatianku iyya? Setelah itu kamu juga akan mencampakkan aku dengan sangat buruk seperti mbak Selfina?!"


Indy tercekat. Matanya melotot tak kalah tajam dengan pria itu. Ia tidak menyangka akan mendapat tuduhan seperti itu.


"Terserah apa yang kamu pikirkan mas Yudhi. Aku hanya seorang dokter yang dipercayakan oleh pak Yudha untuk merawat kamu. Jadi jangan pernah berpikir macam-macam karena aku sangat profesional dalam bekerja."


"Ah persetan dengan semuanya! Kalian semua sama saja!"


"Ya sudah!" Indy pun mulai kesal dan marah.


"Terserah dengan apa yang kamu pikirkan. Hanya saja berada di luar ruangan diwaktu yang seperti ini sangat tidak tepat untuk pasien yang masih butuh perawatan seperti kamu. Jadi aku mohon agar kamu mau masuk dan istirahat di dalam kamar saja."


"Aku ingin di sini. Kamu pulanglah."


Indy melihat penanda waktu di pergelangan tangannya. Waktu sudah hampir dini hari dan pasien itu masih betah duduk di balkon kamarnya tanpa mau mendengarkan kata-katanya.


Ia menguap karena sudah mengantuk. Ia juga sudah mulai tak sabar tapi ia ingat kalau ia sudah menerima bayaran yang sangat banyak dari Yudha.


"Mas Yudhi, kita masuk yuk," bujuknya dengan suara pelan. Ia bahkan meraih lengan pria itu ke dalam pelukannya.


"Heh, apa-apaan ini. Kamu itu dokter atau kupu-kupu malam hah?!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2