
Meskipun perasaannya belum baik seratus persen pada suaminya, Ardina tetap memaksa Yundha untuk pulang ke rumahnya. Ia banyak memberikan wejangan dan nasihat meskipun ia bukanlah seorang orang tua.
Selain itu ia juga menakut-nakuti perempuan itu tentang hubungannya dengan Dewa.
"Maaf nih ya, 99 persen laki-laki itu kalau otaknya gak mesum ya gak normal Nda. jadi kalau suamimu sudah terlalu lama tidak melakukan ritual ranjang denganmu bisa-bisa ia jajan di luar lho."
Yundha langsung bergidik ngeri. Melihat pria yang sangat dicintainya itu bersama dengan seorang perempuan di depan umum hatinya sudah sangat hancur apalagi kalau mendengar dia jajan dengan perempuan lain di tempat yang tersembunyi.
"Na'udzu Billah. Semoga tak terjadi deh mbak."
"Iya aamiin. Makanya itu kita sebagai istri harus menjaga jangan sampai ia mencobanya di tempat lain yang tidak seharusnya," balas Ardina dengan wajah serius.
"Survei membuktikan Nda, Berawal dari tidak mendapatkan hal yang sangat diinginkannya pada istrinya maka laki-laki akan mencarinya di tempat yang lain."
"Jadi, usahakanlah untuk memberikan apa yang ia inginkan. Aku kasih tahu lagi ya, suamimu itu keren banget. Yakin deh, ada banyak perempuan yang sangat mengharapkannya di luar sana."
"Iya mbak. Aku bukannya gak mau melayani sih, aku cuma lagi kesal aja sebenarnya."
"Iya gak apa-apa. Itu wajar. Ada kalanya kita lagi gak mood meskipun itu kegiatan yang menyenangkan sebenarnya hehehe," kekeh perempuan itu kemudian melanjutkan, "Yang penting jangan lama-lama ya keselnya. Para suami suka gak tahan kalau udah lebih dari seminggu Nda, katanya kepala pusing hihihi," jelas perempuan berhijab itu dengan tawa cekikikan.
Yundha ikut tertawa, ia pun sebenarnya juga sama dengan suaminya. Ia sangat suka bermain bersama dengan pejantan tangguh itu di ranjang tapi ia sendiri heran dengan kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini tidak mengizinkannya bertemu dengan si Otong.
"Apalagi kalian udah lama lho musuhannya, pasti udah rindu banget tuh," lanjut Ardina semakin memanas-manasi.
"Iya mbak. Aku usahakan gak kesel deh kalo deket-deket sama mas Dewa."
"Nah gitu dong. Di saat-saat seperti ini kamu butuh sesuatu sebenarnya. Cuma rasa ego mu yang terlalu tinggi. Coba deh Ingat-ingat kebaikan suami padamu selama ini, setelah itu bersyukur karena telah mendapatkan suami seperti suamimu. Insyaallah kamu akan melupakan keburukan yang pernah dilakukannya. Toh manusia itu memang tak ada yang sempurna."
"Iya mbak makasih banyak. Mbak Ar udah baik sama aku dengan menjadi teman cerita yang menyenangkan. Juga karena aku udah ditampung disini untuk mendapatkan pencerahan."
Ardina tersenyum kemudian mengelus punggung perempuan itu.
"Aku bukan ngusir ya, ayo cepat bersiap pulang. Suami kamu udah gak sabar tuh. Udah pengen cepat-cepat saja dia hahaha," ucap Ardina tertawa renyah.
"Iya mbak. Aku sekalian ngucapin selamat untuk David ya. Semoga semakin ditingkatkan belajarnya."
"Iya aamiin."
__ADS_1
Yundha pun mengambil kunci mobilnya sendiri dan bersiap untuk pulang. Semua anak-anak ikut dengannya. Sedangkan Dewa memakai mobilnya sendiri mengikuti mobil sang istri.
Dewa sangat bersyukur karena urusannya dengan Yundha bisa cepat beres hari ini. Tak masalah istrinya belum rela dan ikhlas menerimanya yang penting perempuan itu dalam pengawasannya dan tidak berada di tempat orang lain.
Sore itu, akhirnya Yundha diboyong pulang oleh Dewa setelah Praja, Ardina, dan David pulang membawa kemenangan.
"Mas, aku mau singgah di Cafe dulu, pengen lihat yang namanya Tiara itu," ucap Yundha lewat telepon selulernya.
"Iya. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi sayang," ucap Dewa narsis.
"Ish!"
Dewa tertawa di balik layar. Sedangkan Yundha kembali bersungut-sungut.
Yundha pun turun di cafe itu dengan membawa anak-anak. Ia sangat penasaran dengan perempuan bermasker itu. Apakah mungkin ia adalah cewek cantik?
"Selamat pagi mbak Yundha. Silahkan duduk," ucap seorang pelayan Cage yang melihatnya datang bersama dua anak itu.
"Eh, aku cuma mau tanya," ucap perempuan itu dengan berbisik.
"Tanya apa Mbak?"
"Tiara siapa Mbak?" Pelayan itu tampak bingung dengan berusaha mengingat-ingat perempuan yang bernama Tiara itu.
"Ah sudahlah. Mas Dewa katanya membawa perempuan yang bernama Tiara ke tempat ini semalam, mungkin kamu belum sempat bertemu."
"Iya. Bisa jadi sih."
"Ah sudahlah. Lebih baik aku tanyakan pada karyawan lainnya," ucap Yundha dan segera mencari karyawan laki-laki yang mungkin melihat keberadaan Tiara.
"Tiara mbak?"
Yundha menganggukkan kepalanya.
"Kayaknya gak masuk kerja mbak. Mungkin ia shock sama pekerjaan yang kami berikan yang terlalu banyak semalam."
"Lho, pekerjaan kayak gimana?" tanya Yundha penasaran.
__ADS_1
Pelayan itu tersenyum meringis, cuci piring mbak."
"Oh, padahal aku ingin sekali bertemu," ucap Yundha seraya menghela nafasnya. Hanya perempuan itu yang harus menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Dewa, suaminya.
🌹
Di malam sebelumnya, di Cafe milik Yudhi.
Semua pengunjung satu persatu meninggalkan tempat itu. Acara reuni dadakan itu harus selesai karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam.
Mereka ngantuk dan juga lelah. Begitupun para karyawan yang sengaja dibayar lembur oleh sang pemilik Cafe.
Seorang perempuan muda sedang berada di depan wastafel untuk mencuci piring dan gelas kotor. Nampak sekali kalau ia sudah sangat kelelahan dan juga mengantuk. Akan tetapi pekerjaan itu harus ia selesaikan karena itu adalah tugasnya sebagai karyawan baru. Perempuan itu adalah Tiara Wicaksono.
Yudhi memasuki ruangan dapur itu dengan kening mengernyit. Seingatnya, tak ada karyawan perempuan yang lembur malam itu. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat.
"Gak usah diselesaikan. Dilanjutkan besok saja. Ini sudah larut. kamu pasti capek," ucapnya dengan kalimat beruntun. Tiara tersenyum. Ia memang sudah sangat capek. Kakinya saja sudah gemetar karena telah lama berdiri dengan cucian piring yang terasa tak ada habisnya.
Tapi sayangnya cucian piring kotor itu sisa sedikit. Rasanya ia tak ingin meninggalkan pekerjaan yang tak selesai. Akhirnya ia lanjutkan lagi pekerjaan nya.
"Kamu gak denger aku? Ini sudah hampir dini hari. Aku juga mau pulang."
"Maaf pak. Aku selesaikan ini dulu sisa sedikit soalnya," ucap Tiara seraya menyusun piring-piring itu ke atas rak. Setelah ia mengeringkan tangannya kemudian berbalik.
Mata indahnya melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
"Kamu?" ucap Tiara masih dengan ekspresi kagetnya.
Yudhi mengernyitkan dahinya bingung kemudian menyadari satu hal. Ia ingat mata indah itu.
"Kembalikan dompetku!" ucap perempuan itu dengan tangan ia tengadahkan di depan wajah Yudhi.
"Hem enak saja! Gara-gara dompetmu itu aku hampir mati babak belur!" balas pria itu dengan wajah dibuat kesal.
"Sembarangan kalo ngomong. Ini kamu lihat sendiri 'kan? Gara-gara kamu juga nih aku jadi batal berangkat ke luar negri. Dan sekarang malah jadi tukang cuci piring di sini!"
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?