
Rania dan Merry bisa melihat kalau Yundha tampak malu dan juga gugup. Mereka adalah perempuan yang sudah berpengalaman dalam hal seperti ini. Untuk itu mereka berinisiatif agar meninggalkan Dewa dan juga Yundha di meja makan berdua saja agar mereka bisa nyaman.
"Kalian makanlah. Kami akan duduk santai di ruang keluarga," ucap Merry seraya memberi kode pada Yudha dan juga Selfina agar meninggalkan dua orang pengantin baru itu.
"Ah iya ma. Makasih." Dewa yang menjawab karena Yundha masih sibuk menundukkan wajahnya.
"Sayang, kok nunduk terus sih? Kenapa?" tanya Dewa seraya mengangkat dagu istrinya saat sisa dia dan istrinya yang berada di dalam ruangan makan itu.
Yundha mengangkat wajahnya dengan pipi merona merah.
"Aku malu sama mereka mas," cicitnya pelan. Dewa tersenyum.
"Lho? Malu karena apa? Mereka keluarga kita lho. Ada mama kak Yudha dan mbak Selfina. Mereka bukan orang lain."
Yudha mengerucutkan bibirnya yang terasa tebal dan membengkak karena perbuatan suaminya.
"Lihat bibirku, kayak tebal dan dower gara-gara kamu. Aku kan gak enak banget sama mama apalagi mbak Selfina. Rasanya mereka memperhatikan aku gitu mas."
"Hahaha, ya Allah. Kamu justru makin seksi lho kayak Angelina Jolie," ucap Dewa tertawa. Yundha semakin manyun saja dibuatnya.
"Ish!"
"Eh, sini deh, aku kasih obatnya supaya gak kerasa kebas dan tebal," ucap pria itu lagi seraya meraih tengkuk istrinya dan menekan ke arahnya. Ia mengulumm kembali bibir Yundha dengan lembut dan penuh perasaan.
Perempuan cantik itu tak berkutik. Dewa benar-benar sangat berani dan juga tak punya malu sedikitpun.
"Gimana? Masih kerasa kebas?" bisik pria itu setelah melepaskan tautan bibirnya pada bibir sang istri tercinta. Pipi Yundha semakin memerah saja. Ia semakin malu.
"Kamu mas, ya ampun," ucap Yundha dengan perasaan campur aduk. Antara kesal dan juga senang suaminya memperlakukannya seperti itu.
"Kenapa? Masih mau?" goda Dewa seraya menyentuh bibir istrinya itu dengan ibu jarinya.
"Ish! Mas kamu mesum banget sih!" kesal Yundha.
"Hahaha, aku mesumnya cuma sama kamu sayang. Sekarang makanlah supaya kamu kuat ngadepin aku," ucap Dewa dengan senyum diwajahnya.
"Ish! Dilihat sama orang bisa tambah malu aku mas."
__ADS_1
"Gak ada orang yang berani melihat apa yang dilakukan oleh Dewa sayang. Mereka semua takut kecuali mama."
"Ish!"
Yundha mencibir.
"Dan sekarang kamu. Kamu sudah melihat semua yang ada padaku. Tak ada rahasia yang aku simpan."
"Iya aku percaya mas mesum, hhhh."
Dewa tersenyum kemudian mengecup tangan sang istri tercinta.
"Makanlah," ucapnya mempersilahkan.Yundha pun mengisi piringnya dan mulai makan. Begitupun dengan Dewa. Mereka makan dengan tenang sambil lirik-lirikan. Dada mereka jangan ditanya. Debarannya sampai mengguncang ruangan makan itu.
Setelah makan mereka berdua bergabung di ruang keluarga untuk mengobrol santai.
"Kamu gak apa-apa 'kan kemarin?" tanya Yudha pada sang adik.
"Iya kak, aku gak apa-apa. Alhamdulillah mama Rania datang tepat waktu." Yundha tersenyum seraya melirik sang mama mertua yang duduk tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Alhamdulillah. Tapi siapa pelakunya dek? Apa ada masalah denganmu?" Yudha kembali bertanya. Ia sangat khawatir dengan kejadian yang sangat buruk ini.
"Nda? Ayo jawab dek. Kalo kamu ada masalah dengan seseorang ada baiknya kita semua juga tahu supaya kalau ada apa-apa kita bisa tahu lebih cepat."
Yundha masih bungkam.
"Sebenarnya pelakunya gak ada masalah sama Yundha kak," ucap Dewa dan langsung duduk di samping istrinya. Ia menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Dia ada masalah denganku. Kami pernah menjalin hubungan dimasa lalu dan ia tak ingin kami berpisah," lanjutnya dengan suara tenang.
"Lalu bagaimana sekarang? Apakah kamu bisa jamin ia tidak akan mengganggu Yundha lagi?" Yudha menatap Dewa intens. Ia ingin mendapatkan kepastian dari masalah ini.
"Insyaallah kak. Aku sudah menjebloskan mereka ke dalam penjara. Dan aku yakin ia tak akan mengulangi perbuatan jahatnya itu lagi."
"Baguslah. Aku hanya tidak mau adikku mendapatkan masalah baru lagi kedepannya hanya karena masalah dengan mantan yang belum usai."
"Yundha sekarang adalah tanggung jawab aku kak. Dan aku pastikan ia akan aman bersama denganku." Dewa berucap dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah. Aku percaya padamu."
Dewa tersenyum kemudian merengkuh bahu Yundha kedalam pelukannya. Ia ingin memperlihatkan pada seluruh keluarga istrinya kalau mereka tidak perlu khawatir. Ia akan menjaga Yundha dengan sangat baik.
"Mas, Jangan serius-serius gitu dong ngomongnya. Sekarang gimana kalau kita pulang. Aku udah ngantuk nih," bisik Selfina pada suaminya.
Yudha tersenyum kemudian mengangguk. Rasanya memang mereka sudah cukup lama di rumah Dewa. Ia juga mengantuk dan ingin tidur di kamarnya sendiri.
"Baiklah, kami sangat senang mendengarnya. Kamu adalah suaminya Yundha dan semua hal yang berhubungan dengan kenyamanan dan kebahagiaannya adalah tugas kamu Wa," ucap Yudha tersenyum.
"Sekarang, kami minta pamit dan terima kasih banyak atas jamuannya," lanjutnya seraya berdiri dari duduknya.
"Eh, kok buru-buru banget sih. Istirahatlah di sini. Hari ini 'kan weekend, kapan lagi lho kita bisa ngumpul-ngumpul seperti ini." Rania berusaha menahan dua orang tamunya itu.
"Gak apa-apa Tante. Kami udah lama lho disini dan insyaallah kami akan datang lagi nanti." Selfina menjawab seraya menyalami Rania sang pemilik rumah.
"Aku juga pamit Ran. Titip Yundha ya," ucap Merry seraya memeluk dan mencium besan sekaligus sahabatnya itu.
"Iya, nanti deh kita atur waktu untuk ngumpul-ngumpul lagi," ucap Rania saat mereka semua sudah berada di depan pintu dan bersiap untuk pulang.
"Iya. Kamu calling aku saja. Insyaallah akan ada banyak waktu untuk kita ngumpul-ngumpul lagi." Merry menjawab kemudian naik ke mobil Yudha.
"Daah mama!" ucap Yundha seraya melambaikan tangannya.
Mereka yang ada di atas mobil balas melambaikan tangan mereka dan tak lama kemudian mereka pun tak nampak di pandangan. Mobil mewah itu meninggalkan rumah kediaman Sadewa Pranawijaya.
"Yuk masuk. Aku ngantuk banget," ucap Dewa dan meraih tangan sang istri ke dalam kamarnya. Rania hanya tersenyum. Ia memaklumi pengantin baru itu yang sudah mengantuk di jam seperti ini.
Pasti mereka terlalu lama begadang tadi malam.
"Maaf ma, aku mau nemenin mas Dewa dulu," izin Yundha tak enak hati pada sang mertua.
"Iya sayang. Mama ngerti kok. Istirahat saja." Rania tersenyum kemudian meminta asisten rumah tangga untuk membereskan ruangan keluarga dan juga ruang makan. Ia juga pengen ke kamarnya untuk beristirahat.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?