Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 69 Desy Dan Maya


__ADS_3

Setelah sholat subuh, Selfina sudah bersiap-siap berangkat ke ibukota. 3 jam perjalanan insyallah cukup lah waktunya untuk masuk kerja meskipun ia akan terlambat sedikit.


"Hati-hati ya sayang," ucap sang mama dengan segala harapan terbaik dari dalam hatinya.


"Iya ma pa. Aku berangkat ya," ucap gadis itu kemudian melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.


Hari masih sangat gelap tapi ia harus pergi atau sanksi berat akan ia dapatkan lagi dari presiden direktur yang sangat menyebalkan itu.


Ia tidak mengantuk karena hatinya sibuk memikirkan alasannya yang masuk akal meninggalkan pekerjaan tanpa izin.


Tepat pukul sembilan pagi, ia sudah sampai di perusahaan. Ia baru memperbaiki pakaian dan dandanannya di toilet sebelum masuk bekerja.


Beberapa karyawan yang melihatnya ada yang menyapa dan ada juga yang menatap dengan tatapan ganjil. Pasalnya ia datang dengan sangat lambat.


Selfina tak perduli. Ia hanya perlu bertemu dengan presiden direktur untuk menyetor wajahnya dan menyatakan diri hadir pada hari itu.


"Darimana kamu? Sekretaris kok datangnya terlambat?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba saja berada di hadapannya.


"Bu Desy? Selamat pagi Bu." Selfina membungkukkan badannya sopan pada mama tiri dari Yudha Abdullah itu.


"Masuk kerja kok semau-maunya banget sih. Kayak perusahaan milik bapaknya saja," ucap perempuan itu dengan bibir mencibir.


"Iya, nih. Tahu begini bisa datang semau-maunya aku aja yang daftar jadi sekretarisnya mas Yudha." Maya, ikut menimpali. Selfina tercekat. Ia baru menyadari kalau ada gadis itu juga di sini.


"Heh dengarkan kami baik-baik. Jangan hanya karena kamu diistimewakan oleh presiden direktur di sini hingga kamu mau bekerja semaumu!" tunjuk Maya dengan tatapan tajam.


"Maafkan saya bu. Lain kali saya tidak akan melakukannya lagi," ucap gadis itu dengan perasaan bersalah. Ya, ia salah dan pantas mendapatkan teguran.


Hanya karena bawa-bawa perasaan, ia jadi tidak bisa bersikap profesional. Dan ini adalah hal buruk pertama yang dilakukannya selama berkarier.


Diam-diam ia malah menyalahkan Yudha yang telah banyak berkontribusi pada mood buruknya akhir-akhir ini.


"Baguslah. Kalau kamu cepat menyadarinya. Itu artinya kamu sangat tahu posisimu saat ini," ucap Desy mencibir.


Perempuan itu tahu betul kalau semua ini pasti adalah gara-gara gadis yang bernama Selfina ini sampai Yudha menolaknya dan bahkan meminta Maher Abdullah untuk menceraikannya.

__ADS_1


Jadi, mumpung Yudha tidak ada di tempat, ia sengaja membawa-bawa Maya untuk bekerja sama dengannya merusak mental gadis dari kampung ini. Dengan begitu rencana balas dendamnya pada Yudha bisa ia lakukan.


"Kamu dengarkan aku baik-baik. Aku adalah putri dewan direksi di perusahaan ini dan juga adalah calon istri dari presiden direktur, Yudha Abdullah. Jadi mulai sekarang kamu harus ikuti apa yang aku mau!" titah Maya seraya menatap Selfina dengan tatapan tajam.


"Saya? Apakah saya tidak salah dengar mbak?" ucap Selfina dengan balas menatap tajam gadis muda dihadapannya. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan wajah tak percaya.


"Kenapa? Memangnya apa yang ingin kamu dengar hah?" tantang Maya.


"Saya bukan orang bodoh ya. Kamu pikir saya sekolah sampai universitas trus mau saja dirundung seperti ini iyya?" Selfina balas menantang.


"Saya tahu struktur organisasi perusahaan. Siapa yang seharusnya saya taati dan siapa yang seharusnya saya abaikan. Jadi jangan buat saya tertawa ya mbak." Selfina menjawab dengan tegas.


"Heh! Kamu mulai berani padaku ya?" Maya terdesak. Ia tak menyangka gadis yang nampa lugu ini ternyata lebih cerdas daripada yang ia perkirakan.


"Iya saya berani. Dan kalian berdua kalau tidak ada urusan penting di ruangan ini silahkan keluar atau saya akan panggil sekurity!"


"Apa?!" Desy dan Maya berteriak bersamaan.


"Kenapa? Ini bukan rumah pribadi yang anda bebas masuk begitu saja! Ini Perusahaan tempat orang-orang bekerja. Jadi silahkan cepat keluar dari tempat ini!"


"Kamu berani padaku putri dewan direksi?!" Maya berteriak histeris. Ia tidak suka ditolak dan ditantang seperti itu.


"Ya, saya berani. Saya bahkan bisa meminta presiden direktur untuk membuat aturan baru saat ini juga di sini," ujar Selfina dengan dagu terangkat.


Ya, aku akan memaksa presiden direktur menyebalkan itu membuat aturan baru untuk kalian. Meskipun aku sendiri harus menantang sanksi yang sangat tak masuk akal itu. Ujarnya dalam hati.


"Bukankah kalian mengatakan kalau saya istimewa di hati pak presdir? Maka akan saya buktikan itu. Aturan akan keluar beberapa saat lagi!" lanjut Selfina semakin diatas angin.


Iya, semoga saja Presdir menyebalkan itu tidak membuatku malu. Dan aku akan mengikuti semua keinginannya yang penting harga diriku tidak diinjak-injak oleh perempuan Brengsek ini.


Maya mengepalkan tangannya di sisi kiri kanan tubuhnya. Ia benar-benar sangat marah saat ini. Ia pun merangsek maju ingin mencakar wajah cantik Selfina tapi gadis itu mundur beberapa langkah dan,...


"Aaaaw!," ucapnya kaget.


"Maaf pak." Ia merasa bersalah karena tidak sengaja menabrak seorang pria muda yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Eh, kamu gak apa-apa?" tanya pria itu seraya membantu Selfina yang terhuyung ke samping.


"Eh iya. Saya gak apa-apa. Terimakasih banyak," ucap Selfina seraya berusaha berdiri dengan tegap kembali.


"Oh, syukurlah."


"Yudhi?" Desy langsung tercekat karena pria muda yang datang itu adalah adik kandung dari Yudha.


Untuk apa anak itu kemari?


"Mama?" ucap pria itu juga saat melihat istri ketiga dari papanya juga ada di tempat itu. Ia pun mendatangi Dessy kemudian mencium tangan perempuan itu.


Desy tersenyum. Ia sangat senang karena pria muda itu masih memanggilnya mama. Itu berarti Yudha dan Maher Abdullah belum memberitahu semua anggota keluarga kalau ia sudah diceraikan dan bukan lagi anggota keluarga mereka.


"Kamu ada apa kesini Yudi?" tanya Desy penasaran.


"Kak Yudha memintaku ke ruangannya untuk mengambil sesuatu. Ada beberapa barang yang diminta suruh bawa pulang ke rumah," jawab pria itu dengan tatapan ke arah pintu ruangan kerja sang kakak.


"Oh begitu? Emangnya Yudha kemana?" tanya Desy pura-pura. Ia memang tidak melihat pria itu ada di ruangannya sejak tadi pagi.


"Kak Yudha ada urusan bisnis di Belanda ma."


"Ohhh pantas gak ada disini. Untunglah," ucap Dessy dan Maya bersamaan.


"Maaf, saya sedang terburu-buru. Jadi minta mbak Selfina bantuin ya," ucap Yudhi dengan pandangan ia alihkan pada seorang gadis cantik berlesung pipi yang ia tahu adalah sekretaris kakaknya.


"Ah iya baiklah. Saya akan bantu." Selfina pun meniggalkan dua orang perempuan tak tahu malu itu dan langsung masuk ke dalam ruangan kerja Yudha Abdullah.


"Ayo May. Kita pulang. Beritahu saja Papamu untuk memberikan tekanan pada Yudha agar mau menikahimu," ucap Desy dengan seringai diwajahnya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan komentar dong 🤭😍

__ADS_1


__ADS_2