
Dewa menggeliat pelan kemudian membuka matanya perlahan. Ia memandang keadaan sekitar kamarnya mencari seseorang yang ia temani menghabiskan malam yang sangat indah sepanjang malam.
"Dimana gadis itu?" ucapnya dengan perasaan khawatir. Ia tidak melihat Yundha ada di atas ranjangnya saat ini. Segera ia membuka selimutnya dan berniat untuk membersihkan diri.
Tanpa sadar ia tersenyum melihat bercak merah dan cairan putih kental di atas sepreinya. Ia yakin sekali kalau tanda itu adalah miliknya dengan gadis itu.
"Aku tidak impoten 'kan? Aku yakin itu sangat kental dan bisa membuatmu hamil sayang," ucapnya menyeringai.
Sungguh, ia merasa sangat bangga telah melakukan hal terlarang itu dengan seseorang yang telah menawan hatinya sejak pertemuan pertama dengannya.
Sebenarnya ia tak berniat untuk merusak gadis cantik itu tapi ia cukup terpengaruh dengan kata impoten dari bibirnya makanya itu ia ingin membuktikannya semalam.
Ia pun menonton film berwarna biru dari dalam handphonenya tapi ternyata senjata andalannya tidak bisa juga bangun dan bereaksi.
Pria tampan itu jadi takut dan khawatir.
"Brengsek! Ini gara-gara gadis itu!" umpatnya dengan wajah yang sangat kesal. Ia pun mondar-mandir di tengah malam itu dengan emosi tak tertahankan.
Ia sungguh sangat khawatir tentang masa depannya sebagai seorang pria yang hanya merupakan anak tunggal.
"Sial! Bagaimana mungkin aku bisa langsung tak berfungsi seperti ini!" ucapnya lagi seraya mengacak-acak rambutnya.
Semua foto gadis seksih yang pernah dikencaninya ia lihat kembali untuk menguji si senjata andalan agar bisa bereaksi tetapi ternyata tidak bisa juga. Ia pun mengelus dan membujuk miliknya memohon agar ia mau bangun tapi hasilnya nihil.
"Baiklah, aku harus membalas gadis itu. Aku harus menikahinya meskipun aku impoten karena ini semua akibat dari perbuatannya sendiri!" ucapnya dengan hati sakit.
"Setidaknya bukan aku saja yang menderita dalam sisa hidup ini tapi kamu juga," ujarnya menyeringai. Ia pun memasuki sebuah kamar tamu tempat gadis itu tidur dengan pulas.
"Heh, enak saja ia tidur dengan nyenyak seperti itu sedangkan aku menderita seperti ini," geramnya seraya menghampiri tempat tidur Yundha.
Dadanya berdebar kencang saat melihat gaun gadis itu tersingkap dan memperlihatkan kakinya yang panjang dan putih mulus.
"Oh tidak, apa mungkin ini pertanda baik?" ucapnya tersenyum. Ia pun menyentuh miliknya tapi ternyata belum juga bangun.
__ADS_1
"Baiklah mari kita tes, jangan-jangan kamu yang memberi luka kamu pula yang harus jadi penawarnya," ucap Dewa dengan sebuah ide yang cukup brilian di dalam otaknya.
Ia pun keluar kamar dan membawa sesuatu ditangannya. Karena Yundha tertidur dengan sangat pulas, ia pun meletakkan sebuah gelas yang berisi air yang telah ia campur obat tidur dengan dosis tinggi hingga apapun yang ia lakukan pada gadis itu tak akan membuatnya sadar dan melawan.
Dan saat tengah malam Yundha terbangun dan ingin minum, ia yakin ia pasti akan meminumnya. Dan betul saja gadis itu menghabiskan air yang ia siapkan tanpa curiga sedikitpun.
Dewa pun masuk ke dalam kamar dan membuka semua pakaian Yundha dan bisa merasakan senjatanya yang telah pingsan dan tak bereaksi selama beberapa jam ternyata bisa bangun dengan garang hanya karena melihat tubuh gadis itu.
Tak ingin rugi dan ingin membalas gadis itu, ia pun melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.
Malam itu ia benar-benar merasakan nikmat yang sangat luar biasa. Yundha memberikannya pengalaman yang tak pernah ia rasakan dengan teman kencannya selama ini.
Dewa tak lagi mengingat Tuhan dan dosa. Ia melakukannya sampai senjata andalannya puas dan tak bisa lagi bergerak karena telah memuntahkan semua pelurunya di dalam istana Yundha.
Kembali ke saat ini.
Pria itu telah segar karena sudah mandi dan membersihkan dirinya. Ia pun segera melakukan dari kamar itu untuk mencari gadis itu yang tak mungkin bisa keluar karena ia mengunci pintu unit itu dengan kode password yang hanya ia yang tahu.
Sementara itu,
Setelah menenangkan dirinya, ia pun kembali ke kamar itu untuk membangunkan pria itu.
Akan tetapi belum juga ia sampai di dalam, Dewa sudah berada di hadapannya dengan senyum diwajahnya.
"Aku akan mengantar kamu pulang," ucapnya dengan ekspresi yang sangat tenang. Yundha pun berusaha untuk tidak panik dan marah. Ia harus pergi darisana dan melupakan semua yang telah terjadi.
Ia hanya masih berharap ia masih perawan meskipun itu hanya harapan yang sangat sedikit yaitu 1 persen saja.
"Terimakasih," ucapnya dengan suara yang terasa tenggelam di dalam kerongkongannya.
Dewa pun membuka pintu unitnya dan mempersilahkan Yundha keluar terlebih dahulu. Perempuan itu bernafas lega. Saat ini ia sudah bisa pergi dari pria bajingan ini dengan cepat.
Ia pun mendapatkan kesempatan untuk pergi saat melihat Jessica muncul dari depan pintu unitnya dan menghalangi pria itu. Rasa nyeri dari pangkal pahanya tak ia perdulikan.
__ADS_1
Ia berjanji tidak ingin bertemu pria itu lagi dan berharap ini hanya sebuah mimpi buruk yang tak pernah terulang lagi dalam hidupnya.
Cafetaria adalah tempat pertama yang akan ia datangi untuk mengambil mobil dan handphonenya. Setelah itu ia akan pulang ke rumahnya untuk menenangkan dirinya.
"Nda, kamu darimana? Kok baru datang?" tanya Yudhi yang menjemputnya di depan Cafe itu.
Yundha tersenyum lalu menjawab dengan suara setenang mungkin. Ia sudah mengatur alasan yang sangat kuat agar ia tidak tampak gugup.
"Aku habis nginap di rumah teman kak, dan ya, aku lupa membawa handphone. Jadi maafkan aku kak," jawab Yundha seraya berlalu dari hadapan sang kakak.
"Nginap? Teman yang mana?" tanya Yudhi seraya mengikuti langkah sang adik. Ia tidak bisa langsung percaya begitu saja pada jawaban Yundha yang sangat mencurigakan.
"Dewi. Dia lagi gak ada teman di rumahnya dan ngajakin aku kak," jawab gadis itu dengan tatapan serius pada sang kakak. Ia berharap dengan begitu ia tidak ditanyai lagi oleh pria itu.
"Kenapa kamu gak hubungi nomor rumah. Kan bisa lewat handphone teman kamu itu."
"Iya maaf kak. Banyak hal yang kami lakukan semalam jadi aku lupa," ucap Yundha lagi memberikan alasan. Yudhi pun terdiam tapi entah kenapa ia merasa ada hal yang disembunyikan oleh sang adik.
Yundha tak pernah menginap di rumah temannya segenting apa pun urusan yang ingin dilakukannya.
"Baiklah. Tapi kalau kamu ada masalah, katakan padaku," ucap Yudhi dengan tatapan lurus ke dalam mata bening Yundha. Ia berharap gadis itu mau jujur padanya.
"Iya kak. Pasti. Tapi aku baik-baik saja kok," ucap Yundha dengan senyum diwajahnya.
Yudhi pun meninggalkan sang adik dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk memberi tahu beberapa menu baru yang akan mereka sediakan di cafe itu. Sedangkan Yundha sendiri memasuki ruangan kerjanya dengan perasaan yang sangat tak nyaman.
Ia ingin menangis dan berteriak tapi ia tak ingin semua orang tahu masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Ia malu dan merasa jadi perempuan yang sangat hina dan kotor di dunia ini.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊