Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 94 Gara-gara Ransun


__ADS_3

"Aaargh Selfina!"


Yudha mengerang frustasi. Ia meraup wajahnya kasar. Kepalanya pusing dengan dada berdebar sangat menyiksa.


Hasratnya sudah sampai di ubun-ubun tapi sang istri malah meninggalkannya dengan sangat kejam.


Pria itu langsung melonggarkan ikatan dasinya kemudian membuka suitnya. Ia pun melangkahkan kakinya ke dalam toilet.


Sungguh, ia ingin mendinginkan kepalanya dengan mencuci wajahnya dengan air segar.


Sementara itu, Selfina yang sedang membuka pintu ruangan dan bersiap keluar tampak sangat kaget dengan sosok seorang pria yang ia kenal tiba-tiba ada dihadapannya. Pria itu nampak sangat rapih dan juga necis tak seperti biasanya.


"Mas Yudhi?" ucapnya dengan wajah kaget.


Yudhi tersenyum lebar lalu berucap, "Hai mbak Selfina."


"Hai!" Selfina tersenyum.


"Aku datang membawakan mbak Selfina sarapan, ini adalah buatan aku sendiri," ucap pria itu seraya mengangkat sebuah rantang di tangannya.


"Oh, buat saya mas? Kebetulan banget ih, aku juga belum sarapan sih," ucap Selfina dengan senyum diwajahnya.


Yudhi semakin gembira saja. Ia pun segera menghampiri perempuan itu berniat memberikannya rantang yang ia bawa. Akan tetapi sebelum Selfina menerimanya Yudha terlebih dahulu yang mengambilnya.


"Terimakasih banyak Di. Kamu memang adik yang sangat pengertian," ucap Yudha tersenyum.


Wajah Yudhi langsung berubah kecewa sedangkan Selfina hanya bisa tersenyum meringis.


"Aku juga belum sarapan. Adik kesayanganku ini pasti tahu itu. Iyyakan Di?" ucap Yudha dengan tatapan lurus pada wajah sang adik. Yudhi mengangguk. Ia tahu kalau kakaknya itu hanya minum segelas susu tadi pagi.


"Nah, ini adalah rezeki yang tidak bisa ditolak, Jadi kamu juga harus ikut sarapan denganku," ucap Yudha seraya menarik tangan Selfina ke dalam ruangannya. Yudhi hanya bisa menatap mereka berdua cengo.


Bugh


Pintu ruangan presiden direktur itu langsung tertutup rapat dan meninggalkan dirinya berdiri sendiri seperti orang bodoh.


"Mas Yudhi, sini deh bantuin aku periksa berkas-berkas ini. Tanganku udah lelah banget nih," panggil Maya dari arah samping pria itu. Yudhi tersentak kaget.

__ADS_1


"May, kamu masih magang di sini?" tanya Yudhi dengan wajah yang masih tampak bingung.


"Ya, tentu saja mas. Aku 'kan pengen banget jadi wanita karir yang pintar supaya bisa jadi pendamping mas Yudha nantinya."


"Oh gitu ya? Sama dong. Aku juga ingin kerja kantoran supaya bisa jadi pendamping mbak Selfina." Yudhi menjawab dengan senyum diwajahnya.


"Kalau gitu kita belajar sama-sama yuk," ucap Maya seraya memperlihatkan beberapa bundel file yang ada di ditangannya.


"Tapi? Aku 'kan mau lihat mbak Selfina makan hasil masakan aku May," ucap Yudhi dengan mata masih berada pada pintu ruangan sang kakak. Kakinya sungguh gatal ingin masuk ke dalam sana tapi sayangnya ia juga tak ingin menggangu.


"Nanti kalau udah makan, mbak sekretaris itu pasti kasih pujian padamu deh," ucap May dengan wajah tak sabar. Ia sungguh ingin ada seseorang yang menemaninya mengerjakan semua pekerjaan yang sangat banyak di hadapannya.


"Ah ya, tapi gimana ya, aku mau masuk saja ah," ucap Yudhi seraya melangkahkan kakinya ke arah pintu tapi Maya langsung memanggilnya.


"Bantuin aku dulu lah mas, kalau udah bolehlah masuk. Gimana?" ucap Maya dengan tangan memperlihatkan pekerjaannya lagi.


Yudhi tampak ragu. Antara ia ingin maju atau pun mundur.


"Mas Yudhi, ayolah. Bantuin aku dong. Nanti aku juga akan bantuin mas dapetin mbak Selfina deh," tawar Maya dengan wajah cerahnya.


Sementara itu di dalam ruangan presiden direktur, Yudha sedang menatap sang istri yang juga sedang menatapnya.


"Kamu beneran lapar?" tanya Yudha dengan tatapan penuh cinta pada Selfina.


"Kalau pak Presdir?" Selfina balik bertanya seraya menggigit bibir bawahnya sensual. Ia sangat suka melihat ekspresi frustasi suami mesumnya jika ia melakukan hal itu.


"Aku hanya ingin memakanmu Sel," jawab Yudha seraya meraih pinggang perempuan cantik itu dan merapatkannya ke dalam tubuhnya.


Tangannya langsung meremas dua bongkahan bagian belakang Selfina yang sangat kencang, montok, dan padat.


"Kamu berani mempermainkan aku Sel," bisik Yudha seraya membenamkan bibirnya pada leher jenjang perempuan yang sudah sah ia sentuh itu.


Selfina mendessah tertahan. Yudha sekarang lebih sangar daripada yang tadi. Pria itu benar-benar tak mau melepaskannya.


"Sel, aku benar-benar tak tahan sayang. Sejak tadi si junior tak mau tidur. Ia ingin sekali bertemu denganmu," ucap Yudha dengan suara bergetar penuh hasrat.


Selfina tersenyum kemudian berusaha melepaskan dirinya dari kuasa sang suami.

__ADS_1


"Sel, plis. Kamu menyiksa aku sayang," ucap Yudha dengan tatapan memohon. Rasanya ia bisa gila kalau hanya diberikan mencicipi tubuh sang istri dan harus meninggalkan nya dipuncak hasrat.


"Maafkan aku suamiku tersayang. Tahan dulu ya, kita makan dulu masakan mas Yudhi," ucap Selfina dengan mengedipkan matanya menggemaskan.


"Selfina, kamu kejam padaku sayang," rengek Yudha dengan tatapan memelas. Ia benar-benar tersiksa dengan tingkah istrinya yang menarik ulurnya seperti itu.


Ia pun membuka ikat pinggangnya karena merasakan juniornya mengembang dan juga semakin kuat.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Selfina khawatir. Ia pun melihat ke arah pintu dan juga suaminya bergantian.


"Kamu tidak percaya padaku Sel. Si junior tak bisa bernafas di dalam sini sayang," ucap pria itu seraya membuka resleting celananya tapi tiba-tiba saja pintu terbuka hingga Yudha langsung melompat ke arah kursinya.


"Lho, kalian belum makan?" tanya Yudhi dengan tatapan bingung. Ia menatap rantang yang masih utuh di atas meja bergantian dengan dua orang yang langsung nampak gugup itu.


Selfina cepat merapikan rambut dan juga pakaiannya kemudian tersenyum kepada Yudhi.


"Ini kita baru saja mau makan mas, tapi karena kamu datang jadi batal deh," jawab Selfina dengan pandangan ke arah Yudha yang nampak sangat gelisah.


"Oh, jadi aku mengganggu ya mbak?" ucap Yudhi tak nyaman.


"Ah gak kok, iyyakan pak presdir?" jawab Selfina seraya mengedipkan matanya pada Yudha.


Yudha hanya menghela nafasnya seraya menutup kembali celananya. Ia berjanji akan membuat Selfina merasakan hukuman yang sangat kejam darinya jika ia mendapatkan kesempatan.


"Kalau gitu mbak Selfina makan dong, aku mau tahu gimana rasanya hasil masakan aku," ucap Yudhi dengan tangan sibuk membuka rantang susun yang ia bawa.


"Ah iya mas. Pak Yudha juga udah lapar banget tuh, hihihi," ucap perempuan itu cekikikan.


Yudha tak membalas. Ia hanya sibuk menidurkan si junior dengan menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali.


Selfina menatap pria itu dengan perasaan kasihan. Ia merasa kalau ia sudah sangat berlebihan menghukum suaminya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Adakah sedekah Vote atau bunga? Like dan komentar dong 🤭

__ADS_1


__ADS_2