
"Ada apa Din, apakah si tua bangka itu berhasil menyentuhmu?" tanya Prilya seraya memeluk tubuh adik tirinya yang sedang tergugu.
Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, Ardina hanya diam dengan tangis sesenggukan.
Dan sekarang ia jadi sangat khawatir melihatnya, apalagi pakaian adik perempuannya itu tampak sobek.
"Kalau ia telah berhasil menodaimu kenapa kamu tidak mengatakannya. Aku bisa saja membunuhnya di tempat itu." geram Samuel seraya mencengkram kemudinya dengan sangat keras.
"Tidak kak," geleng Ardina dengan tangis yang semakin pecah.
"Lalu kenapa kamu menangis? Katakan ada apa?" tanya Prilya dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Pak Maher bilang, kak Praja sudah tiada kak, hiks."
"Oh ya Allah. Tapi maksudnya apa?"
"Itu juga yang buat aku khawatir dan takut kak. Soalnya sampai sekarang aku tidak bisa menghubungi nomor handphonenya. Apa mungkin pria itu yang melakukan kejahatan ini juga?"
"Tunggu sebentar, kita harus mengecek keadaan yang sebenarnya. Daripada kita bingung dengan ini semua 'kan?"
"Apakah ada nomor yang bisa kita hubungi? Atau kita langsung balik ke kota X, rumah mertuamu."
Ardina terdiam. Ia tampak berpikir.
"Ayo putuskan sekarang juga, mumpung kita sudah berada di daerah perbatasan. Kita bisa langsung ke sana." Samuel tampak tak sabar.
"Ah iya kak. Kita kesana saja. Aku juga tidak punya nomor yang bisa dihubungi. Dan oh ya ampun." Ardina memukul keningnya karena teringat sesuatu.
"Ada apa?" tanya Prilya khawatir.
"Handphoneku masih ada di mobil pak Maher kak." Perempuan itu semakin panik saja dibuatnya.
"Tenang saja, sebentar lagi polisi akan menjemput pria tua brengsek itu di sana. Handphonemu akan aman dan juga akan menjadi barang bukti untuk kejahatannya itu." Samuel Richard yang menjawab.
Ardina menarik nafas lega.
Ia berharap semua akan baik-baik saja. Suasana di dalam kendaraan roda empat itu pun berubah hening.
Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dan tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah rumah mewah yang nampak sangat sepi.
Ardina merasakan sebuah perasaan campur aduk di dalam hatinya. Ingatan tentang rumah yang pernah menorehkan luka yang teramat dalam padanya kini menyeruak ke permukaan.
__ADS_1
Tak terasa airmatanya menetes.
Dulu ia pergi karena cinta dan sekarang pun ia kembali karena cinta dan rindunya pada suaminya yang sangat besar.
"Tapi kenapa sepi? Apa semua orang sedang pergi?" tanya Prilya seraya memperhatikan keadaan rumah itu dengan seksama.
"Iya nih Kak kok bisa sepi begini ya?" Ardina ikut bingung sampai Bu Ani keluar dari rumah itu dan langsung memeluknya.
"Nyonya muda? Akhirnya kembali ke rumah ini," ucap kepala pelayan di rumah itu.
"Ah iya Bu An, apa kabarnya?" Ardina tampak terharu dan bahagia karena bisa bertemu lagi dengan perempuan yang telah sangat baik padanya itu.
"Alhamdulillah. Mari silahkan masuk semua," ucap perempuan paruh baya itu seraya mempersilahkan ketiga orang itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Bu An, Papa dan Mama kemana? Dan aku juga tidak melihat kak Praja."
"Oh, jadi nyonya gak dengar apa yang terjadi?" tanya Bu Ani dengan wajah serius.
"Ada apa Bu An?"
"Tuan muda sejak dari Jakarta waktu itu belum pulang juga sampai sekarang tuan besar dan nyonya sudah melapor ke kantor polisi karena tidak ada yang tahu keberadaan tuan muda."
"Oh ya Allah," ucap Ardina dengan tenggorokan tercekat. Tubuhnya gemetar, ia sangat takut dengan apa yang telah terjadi pada suaminya itu.
"Lalu apa sudah ada kabar baru Bu An?" tanya Ardina setelah berhasil menguasai perasaannya.
"Tuan dan Nyonya baru saja menelpon Kalau tuan muda ternyata kecelakaan di lereng bukit menuju ke pabrik akan tetapi mereka belum menemukan tubuh tuan muda Praja."
"Astaghfirullah. Ya Allah." Ardina semakin terpuruk. Ia histeris. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tumpah membasahi pipinya.
Prilya segera memeluknya memberinya penghiburan agar bersabar.
"Sabar ya dek. Kita akan mencari tahu kabar dari mereka dan tolong banyak berdoa."
"Bisakah kami bicara dengan pak Alif Wijaya Bu?" Samuel Richard yang sejak tadi diam saja kini mulai membuka mulutnya.
"Ah iya tentu saja tuan ini handphone saya silakan bisa dihubungi tuan dan nyonya besar."
Samuel pun segera menekan nomor orang tua dari Praja untuk mengetahui perkembangan informasi tentang pencarian Praja.
Pria itu sengaja keluar dari ruang tamu dan bicara di beranda depan saja agar tidak mengganggu perasaan Ardina dan Prilya yang kadang tak bisa mengontrol emosi mereka jika mendengar kabar buruk.
Setelah beberapa menit berbicara dengan Alif Wijaya pria itu pun masuk ke dalam rumah. I Ia meminta dua perempuan itu untuk bersiap mereka akan kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Menurut informasi dari pria paruh baya itu bahwa Praja Wijaya sedang dibawa oleh seorang perempuan bernama Yusuf ke rumah sakit.
"Kita balik ke Jakarta sekarang juga."
"Ada apa kak? Apa ada kabar baik?"
"Suamimu ada di rumah sakit di Jakarta."
🌹
Praja Wijaya membuka kelopak matanya dengan perlahan. Setelah beberapa menit, ia baru menyadari kalau ia sedang berada di dalam sebuah kamar perawatan rumah sakit.
Rasa nyeri pada kepalanya baru terasa kini. Efek anestesi sepertinya sudah mulai menghilang. Belum lagi kakinya yang terasa nyeri juga.
"Uggghh," erangnya pelan saat ia menggerakkan kakinya. Yusta Yusuf yang sedang terkantuk-kantuk di samping ranjangnya langsung tersentak kaget.
"Praja? Udah sadar kamu?' tanyanya dengan wajah yang berubah sangat cerah.
"Alhamdulillah, tapi kita lagi dimana?" tanya Praja dengan wajah yang masih tampak bingung.
"Kita ada di rumah sakit. Kamu tidak ingat kalau telah kecelakaan di lereng bukit itu?"
"Ah iya aku ingat. Tapi bagaimana dengan Kamal, apa ia selamat seperti aku?" tanya Praja dengan kening mengernyit. Rupanya kakinya masih terasa sangat nyeri.
"Yang aku tahu pria itu sudah tidak ada di tempat kejadian perkara saat aku tiba di tempat itu."
"Oh ya? Semoga saja dia tidak apa-apa. Karena kamu lihat sendiri 'kan kakiku bagaimana? Ini sangat sakit. Apa mungkin patah Yus?"
"Kata dokter sih tidak. Tapi kalau sakit, sini aku lihat." Yusta Yusuf pun membuka kain yang menutupi kaki panjang Praja Wijaya. Ia meraba betis kuat pria itu dengan perasaan yang sangat berbeda.
Ia berusaha untuk menepis perasaan aneh itu tapi sayangnya ia tidak bisa.
Ia sudah lama menginginkan Praja menjadi miliknya, dan sekarang entah kenapa ia merasa sangat egois dan ingin menyembunyikan pria itu dari dunia luar.
Meskipun pria itu sudah mempunyai seorang istri.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1