Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 66 Harus Berpisah


__ADS_3

"Mau apa kamu?" tanya Yudha khawatir. Desy bergerak semakin mendekat padanya dengan jari-jari sudah mulai membuka kancing bagian depannya.


"Yudha, mama kesepian sayang, dan dengan melihatmu saja rinduku pada papamu bisa sedikit terobati," ucap Desy dengan tatapan laparnya.


"Kamu pasti lebih hebat dari dirinya yang sudah tua dan sakit-sakitan seperti itu Yudh," lanjut perempuan itu dengan penampilan yang sangat menggoda. Buah dadanya yang lumayan besar itu ia tampakkan dengan sangat menggiurkan.


"Tolong berikan mama obat sayangku." Desy memohon dengan bertekuk lutut dihadapan sang putra.


Yudha mundur saat perempuan itu meraih tangannya. Pria itu merasakan dua tanduk muncul di atas kepalanya.


"Entah apa yang kamu berikan pada papa hingga ia tak mau menceraikan kamu brengsek! Kamu benar-benar tak tahu malu!" geram Yudha dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.


"Aku selalu bisa memberikan servis yang sangat memuaskan padanya Yud. Aku mengunjunginya di penjara dan memberikan apa yang ia inginkan. Aku tak malu yang penting mas Maher tidak stress karena ia berniat mengakhiri hidupnya. Tapi aku? Aku tidak puas. Aku ingin yang lebih dari itu sayang. Dan itu ada padamu." Desy berdiri dan kembali mendekati Yudha.


"Aku hanya sebagai pemuas papamu selama ini. Tapi apa yang aku dapatkan? Aku jarang mendapatkan kepuasan yang sama. Aku menderita Yudha. Aku juga ingin bahagia lahir dan batin."


Desy menangis. Tubuhnya bergetar. Sedangkan Yudha hanya mencibir. Ia tahu betul kalau perempuan itu sangat pintar bersandiwara.


"Mari kita saling memuaskan. Aku tidak akan minta kamu nikahi aku Yudha karena itu sangat tidak mungkin sayang. Hubungan keluarga ini biarlah tetap seperti ini. Aku tetap jadi istri papamu di atas kertas."


"Benar-benar tak tahu malu! Kamu tak lebih dari seorang pe*lacur!" geram Yudha dengan tangan mengepal sempurna disisi kanan kiri tubuhnya.


Andai bukan perempuan yang ada di hadapannya ini, ia yakin akan membuatnya hancur tak bersisa.


"Yudha sayang. Kalau kamu penasaran bagaimana rasanya, kamu bisa mencobanya dengan aku. Kamu pasti ketagihan, " ucap Desy dengan wajah yang semakin tebal tak tahu malu.


Pakaiannya kini sudah terbuka dan hanya menampilkan sebuah bra dan panty yang sangat tipis.


"Pakai pakaianmu sekarang atau aku akan melempar mu keluar dari jendela besar itu!" teriak Yudha seraya menunjuk kearah jendela.


Desy tersenyum kemudian lebih mendekat kearah Yudha dan bahkan langsung memeluknya. Ia menggesekkan dadanya yang besar itu ke tubuh bagian depan Yudha tapi pria itu langsung mendorongnya dengan keras.

__ADS_1


"Aawww kamu kasar sekali Yudha!" Desy berteriak keras karena kesakitan. Bagian belakangnya yang menabrak lantai terasa sangat nyeri.


"Pakai pakaianmu sekarang dan keluar dengan baik-baik. Kamu sengaja ingin membuat skandal ya?!"


Desy tersenyum miring. Ia memang sengaja datang untuk membuat skandal yang akan menguntungkan dirinya.


"Aku tidak akan melakukannya lagi kalau kamu mau menambah jatah bulanan aku," ucap Desy membuat penawaran.


"Jangan mimpi! Jatahmu sudah sangat banyak padahal kamu hanya sendiri dan tidak punya anak seperti istri papa yang lain," tegas Yudha.


Ia pun segera kembali duduk di kursinya. Ia menunggu perempuan itu berpakaian. Sebenarnya bisa saja ia menyeret perempuan itu keluar dari ruangannya tapi ia tak mau memancing pikiran buruk dari semua karyawannya.


Terkadang apa yang terlihat tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan Desy bisa saja sengaja memancing opini yang buruk dari orang lain.


"Aku tidak cukup dengan pembagian jatah dari mas Maher. Aku masih muda dan masih butuh bersenang-senang. Jadi tolonglah aku Yudh, atau aku akan menjual diri untuk memenuhi kebutuhanku yang banyak."


"Terserah! Yang sekarang pun kamu sudah berniat menjual dirimu padaku, jadi sekarang pergilah atau kamu tak akan mendapatkan apa-apa meskipun satu rupiah."


"Yudha sayang,"


"Apa tubuh sekretarismu itu lebih menggoda dari pada tubuhku sayang?" tanya Desy seraya meremas payu*daranya dengan sensual di depan mata Yudha.


Rupanya ia belum putus semangat untuk mendapatkan Yudha.


"Astaghfirullah!" Yudha beristighfar berkali-kali. Ia mulai merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Bagaimana pun juga ia adalah pria normal. Dengan apa yang dilakukan Desy di depan matanya itu ia kesal dan juga sangat terganggu.


Ingin ia memanggil OB atau sekuriti untuk menyeret perempuan itu dari dalam ruangannya dengan paksa tapi ia memikirkan bagaimana akhir cerita ini akan terjadi.


Nama baik keluarganya akan semakin hancur di mata semua orang.


"Untuk apa kamu memanjakan Selfina Hem? Aku bisa memberikan lebih padamu Yudha sayang. Aku lebih baik dalam segala hal daripada sekretaris mu itu."

__ADS_1


Desy mulai membuka semua pakaiannya dan akhirnya tampil polos di depan sang putra. Ia benar-benar sangat tangguh dan tak ingin mundur.


Yudha hanya bisa menghela nafasnya kemudian memijit kepalanya yang seketika langsung berdenyut. Iblis sudah hampir menguasai jaringan otaknya apalagi Desy bahkan lebih berani. Ia menari layaknya seorang penari telanjang yang sangat profesional.


"Ya Allah, dimana Selfina?" tanyanya pada Tuhan. Entah kenapa ia jadi sangat menginginkan gadis itu sekarang.


Pria itu kemudian memilih meninggalkan Desy di dalam ruangan dan menguncinya dari luar. Kepalanya jadi pusing menghadapi perempuan yang tak tahu malu seperti itu.


"Yudha! Kamu mau ke mana sayang?!" teriaknya sangat kesal.


"Tinggallah di sini. Biar aku saja yang keluar."


Desy menghentakkan kakinya sangat marah. Ia tidak punya pilihan lain selain memakai kembali pakaiannya dan menggedor-gedor pintu ruangan itu agar ia bisa keluar dari sana.


Seorang OB yang sedang menunggu di depan pintu atas perintah sang presiden direktur langsung membuka pintu.


"Silahkan Bu. Kami ingin membersihkan ruangan ini atas perintah pak presdir," ucap OB itu dengan senyum diwajahnya.


"Eh, memangnya kamu belum membersihkan ruangan itu hah?!" teriak Desy dengan wajah kesalnya.


"Sudah Bu. Setiap pagi saya selalu membersihkannya tapi kata pak Presdir baru saja ada ulat bulu di dalam sana. Takutnya bulu-bulunya rontok dan membuat semua orang jadi gatal."


"Ish!"


Desy mencibir. Ia merasa kalau ia sedang disindir oleh pria itu. Ia pun segera pergi dari sana dengan emosi menggunung.


Sedangkan Yudha langsung menuju Lapas untuk menemui sang papa yang katanya sedang sakit. Sekaligus memaksa pria itu untuk menceraikan perempuan Lucknut itu.


Bukti-bukti perilaku perempuan itu sudah ada di dalam handphonenya melalui rekaman suara.


Maher Abdullah harus ia paksa untuk berpisah dengan Desy atau ia tak akan lagi mau mengurusi pria itu. Dan tentang kebutuhan s*eksual dari pria itu. Masih ada dua mamanya yang akan datang untuk memenuhinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


*Bersambung


__ADS_2