
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah, barakallahu laka wabaroka alaihi wa jamaah kuma wa barokah fi Khoir."
"Aamiin." Semua orang yang hadir mengaminkan doa yang dibacakan oleh penghulu.
Resmi sudah Dewa mempersunting Ayunda Abdullah. Nama mereka telah sah tertulis di negara dan juga agama. Senyum penuh haru terpancar dari wajah tampan dan maskulin itu.
Ia sangat bahagia dan juga bersyukur karena telah berhasil menikahi seorang perempuan yang selama hampir dua bulan ini membuat hidupnya penuh warna.
Akan tetapi tidak bagi Yundha, perempuan cantik itu tampak tidak bahagia. Airmatanya terus saja meleleh dari kedua bola matanya yang Indah. Hatinya sangat sedih karena ia harus menikahi orang lain di depan orang yang selama ini ia sukai.
"Yundha, ayo cium tangannya suamimu sayang," bisik Merry pada sang mempelai yang langsung membuatnya tersentak kaget.
"Ah iya ma. Maaf," ucap Yundha dengan berusaha untuk tersenyum. Ia lalu memandang wajah tampan Dewa dengan mata berkabut penuh air mata.
"Mana tangan kamu," lirih Yundha. Dewa tersenyum kemudian menyerahkan tangan kanannya pada sang istri. Setelah itu ia balas mencium kening sang Yundha dengan penuh perasaan. Lama ia di sana seraya membaca doa keberkahan agar hubungannya dengan perempuan itu mendapatkan restu dari Allah.
"Aku sangat mencintaimu," bisik Dewa sangat lembut hingga hanya Yundha saja yang mendengarnya. Merry dan Rania saling bertatapan dengan penuh suka cita.
Kedua orang tua tunggal itu nampak sangat bahagia karena akhirnya mereka berbesanan. Prosesi yang sama pun dilakukan oleh Yudha dan Selfina. Mereka berdua benar-benar menikmati seluruh rangkaian acara karena merasa sedang dimabuk asmara.
Setelah akad, dua pasang pengantin itu pun berdiri di atas pelaminan yang sangat mewah dan elegan di dalam sebuah ballroom hotel.
"MasyaAllah, kedua pasang pasangan cantik dan gantengnya makasih semua," ucap salah satu tamu yang hadir. Yang lain pun setuju.
Selfina dan Yundha adalah perempuan-perempuan cantik pada asalnya begitupun dengan Yudha dan juga Dewa, mereka juga sangat tampan dengan wajah yang sangat maskulin dan berkarakter.
__ADS_1
Semua orang bahagia. Tak sedikit yang cemburu dengan keempat pasangan di di atas pelaminan. Dewa tak berhenti melirik Yundha yang begitu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang sedang ia pakai.
"Kamu sangat cantik sayang," bisiknya pada Yundha yang sejak tadi hanya diam saja.
"Terimakasih. Tapi semua pengantin memang cantik."
"Tapi kamu berbeda. Auramu sangat luar biasa," lanjut pria itu dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.
"Ya, tentu saja sangat berbeda karena cuma aku yang merupakan pengantin yang sedang mengandung." geram Yundha seraya mencebikkan bibirnya.
"Mbak Selfina juga aku dengar sedang hamil sayang, jadi kamu bukan satu-satunya pengantin yang mengalaminya? Kalian tahu tidak? Kalau kalian adalah perempuan-perempuan yang sangat hebat."
Yundha langsung mencebikkan bibirnya masih kesal.
"Hebat apanya? Yang ada cuma hebat di perut."
Dewa hanya tersenyum samar. Ia tak ingin berdebat lagi dengan istrinya yang sedang mengandung anaknya. Hari ini adalah hari bahagia dan ia tak ingin dirinya dimakan oleh ikan piranha yang sangat cantik di tempat itu.
Mereka pun diam dan mulai sibuk menerima doa restu dari para anggota keluarga, teman, dan juga tetangga. Tak terkecuali Aril Oesman. Pria itu datang untuk memberikan selamat dan doa restu pada keempat pasangan pengantin itu. Semua orang ia salami tak terkecuali Yundha dan juga Dewa.
"Selamat ya Nda. Ternyata ini yang kamu sembunyikan dariku," ucapnya dengan dada sesak.
"Semoga kamu berbahagia. Dan ya, andaikan pak Dewa tidak berhasil membuatmu bahagia, aku masih Aril yang sama yang akan menerimamu apa adanya."
"Pak Aril, terimakasih atas kedatangan anda. Tapi sepertinya anda terlalu banyak bicara saat ini. Jadi saya mohon untuk kembali duduk dan nikmati pestanya," ucap Dewa dengan rahang mengeras sempurna.
Aril Oesman tersenyum kemudian menatap Dewa dengan tajam.
"Aku bisa melihat kalau istri anda sangat tidak ikhlas dengan pernikahan ini, jadi jaga ia baik-baik atau ia akan mendatangiku."
__ADS_1
"Sialan kamu!" geram Dewa dan ingin memukul wajah pria itu tapi ia langsung ingat kalau saat ini ia sedang dalam pesta pernikahannya sendiri yang harus ia jaga agar aman sampai selesai.
"Yundha, selamat karena berhasil membuatku sangat kecewa," ucap Aril dan langsung meninggalkan tempat itu untuk langsung pulang. Ia sudah tak sanggup berlama-lama di sana.
Yundha semakin merasakan dadanya sesak dan sakit hati. Airmatanya kini semakin membanjiri pipinya yang mulus.
"Jaga kehormatan keluargamu dengan tidak menunjukkan rasa tidak bahagiamu di depan semua orang," bisik Dewa seraya merengkuh pinggang ramping istrinya.
"Brengsek kamu. Ini semua gara-gara kamu, tahu gak?"
Dewa hanya tersenyum kemudian langsung menyentuhkan bibirnya pada sang istri. Ia tak peduli kalau saat ini semua orang sedang melihat mereka berdua.
"Aku mencintaimu, dan kamu akan lihat seberapa besar cinta yang aku punya untukmu," bisiknya pelan di telinga sang istri.
Para hadirin menahan nafas. Mereka tak menyangka kalau pengantin pria yang satu ini sangat agresif dan bernafsu sekali pada sang istri.
Yudha sendiri sudah sangat gatal ingin melakukan yang sama pada istrinya tapi Selfina langsung menatapnya tajam.
"Tidak bisa sekarang!"
"Hum, baiklah."
"Kita bisa melakukannya sebentar lagi di dalam kamar sayang," ucap perempuan itu dengan mata ia kedipkan menggoda.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊