
Langkah kaki Yudha bagaikan terbang di atas udara. Ia terlalu khawatir dengan keadaan Selfina di rumah sakit. Apalagi ia juga sempat mendengar selentingan kabar kalau istrinya langsung drop karena mendengar gosip miring tentang hubungan mereka berdua.
Marah?
Ia marah pada dirinya sendiri karena telah membuat masalah ini berlarut-larut. Akhirnya apa? Selfina yang sangat dicintainya yang menanggung ini semua.
Bergegas ia masuk ke dalam sebuah kamar perawatan yang di dalamnya ada istrinya. Memberi salam dan langsung menuju ranjang dimana Selfina berbaring.
"Assalamualaikum sayang," salamnya pada sang istri tercinta. Selfina membuka matanya dan memandang wajah suaminya yang sangat ia rindukan.
"Waalaikumussalam mas," ucapnya dengan suara tercekat karena perasaan sedihnya kembali mendominasi. Yudha langsung mengecup kening perempuan cantik itu lalu berbisik," Jangan bersedih, aku sudah mengkonfirmasi pernikahan kita di depan semua karyawan."
"Benarkah?" tanya Selfina dengan wajah tak percaya.
"Iyya, aku sudah mengubah aturan di perusahaan sayang. Semua orang sudah tahu kalau kita sudah menikah dan tidak melakukan yang mereka pikirkan," ucap Yudha meyakinkan.
Selfina terharu dan bahagia. Airmatanya menetes dari pelupuk matanya. Ia pun tersenyum dengan sangat manis. Yudha tak menyia-nyiakan kesempatan itu meraih bibir sang istri dan mengulumnya sangat lembut.
"Hey! Kamu gak lihat kalau mama ada di sini hah?!" tegur Merry dan langsung memukul punggung Yudha yang sedang membelakanginya.
"Eh mama," ucap Yudha setelah melepaskan tautan bibirnya pada istrinya. Pipinya menghangat karena malu kedapatan berciuman. Jangan ditanya bagaimana dengan wajah Selfina yang sudah berubah merah.
"Kamu udah tahu kalau kamu akan segera jadi papa?!" ucap Merry seraya menatap sang putra yang sedang meremas tengkuknya malu.
"Benarkah?" Yudha balik bertanya dengan dada berdebar. Ia memandang Selfina dan juga Merry bergantian.
"Iyya. Istrimu sedang hamil dan mengandung cucuku," ucap perempuan itu dengan wajah bahagianya.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Terimakasih banyak sayangku," ucap Yudha seraya mengulum lagi bibir Selfina yang sudah jadi candu buatnya.
Plak
"Ya, Allah. Kamu benar-benar ya?!" Sekali lagi Merry memukul punggung sang putra karena berani berciuman lagi di depan matanya sendiri.
"Eh maaf ma. Aku lagi sangat senang," ucap Yudha dengan senyum meringis. Merry berdecak kemudian pamit dari kamar itu dan membiarkan keduanya bebas mengekspresikan perasaan bahagia mereka berdua.
"Mama mau kemana?" tanya Yudha dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Mau mau pulang dulu, ini mau nelpon Yundha supaya ngantar mama istirahat di rumah," jawab Merry seraya meraih tas tangannya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kamar itu.
"Iya ma. Hati-hati." Yudha berucap seraya mengalihkan pandangannya ke arah sang istri tercinta. Wajah Selfina tampak berbinar bahagia.
"Kenapa kamu gak ngomong kalau kamu lagi mengandung sayang?" tanya Yudha dengan tatapan penuh cinta pada sang istri. Ibu jarinya bergerak mengelus bibir istrinya yang tampak selalu seksih dimatanya.
"Aku juga belum yakin mas. Aku baru menerka-nerka aja sih dan ternyata beneran positif, Alhamdulillah."
"Maafkan aku ya, gara-gara aku menyembunyikan pernikahan kita. Kamu jadi mengalami hal seperti ini."
Selfina tersenyum. Ia pun lantas meraih tangan besar suaminya dan mengecupnya.
"Kamu gak salah mas. Dan Alhamdulillah karena semua karyawan sudah tahu. Kita tinggal berhati-hati lagi kedepannya."
Yudha tersenyum lalu menyentuhkan lagi bibirnya disela-sela bibir Selfina. Ia masih belum puas dengan bibir manis dan legit itu. Selfina pun menekan tengkuk suaminya agar ciuman pria itu bisa lebih dalam dan intens.
Mereka berdua merayakan kebahagiaan mereka dengan bercumbu di dalam ruangan perawatan itu. Yudha tak peduli sekitar. Ia terlalu lapar untuk mengekspresikan rasa yang sangat membuncah itu dengan perlakuan yang sangat manis.
Selfina menerima apa saja yang dilakukan oleh suaminya padanya. Hatinya terlalu senang sampai ia tak malu menyebut nama Yudha dalam setiap hentakan-hentakan manis dan kadang agak kasar pria itu.
Yudha segera menarik dirinya dari dalam istana Selfina dan segera membersihkan istana itu dengan beberapa lembar tissue. Setelah itu ia meraih handphonenya.
"Mama? Ada apa?" tanyanya saat ia mendengar suara sang mama diseberang sana.
"Yundha gak bisa mama hubungi, jadi mama telpon Yudhi tapi anak itu katanya lagi berada jauh dari sini," ucap Merry melaporkan.
"Mama mau diantar pulang?" tanya Yudha dengan nafas yang masih ngos-ngosan karena baru saja tiba dari kayangan bersama dengan Selfina.
"Gak jadi. Mama sedang ada di depan kamar perawatan istrimu nih."
"Oh, jadi mama masih disini?" tanya Yudha tercekat.
"Iya. Kamu mengunci pintunya dari dalam dan mama tahu kalian melakukan apa!"
"Astaghfirullah, ma. Aku akan buka pintunya." Yudha langsung memakai kembali celananya dengan cepat kemudian memandang istrinya yang tersenyum padanya. Ia pun segera ke arah pintu dan membukanya.
"Kenapa mama gak ngetuk aja sih?"
__ADS_1
"Mama gak mau ganggu kalian. Lagian mama kesel banget karena handphonenya Yundha yang gak aktif padahal baru saja ia dari sini." Merry menggerutu tak jelas.
"Dari sini?"
"Iya. Dia sama Aril anaknya om Usman yang dari Harvard itu. Kamu ingat gak?"
"Ah iya. Yang katanya calon dokter itu ya ma?" ucap Yudha seraya mendudukkan tubuhnya diatas ranjang Selfina. Perempuan yang baru saja memberikannya kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"Iya. Kayaknya mereka sangat dekat deh Yudh."
"Hemm, gak apa-apa dekat asalkan bisa jaga jarak. Pergaulan anak muda sekarang lebih banyak tak sehatnya. Kalau mereka sama-sama suka kita restui aja hubungan mereka ma."
"Iya. Mama juga maunya begitu. Anak itu insyaallah bagus kok masa depannya. Dan juga mama lihat anaknya sopan dan baik juga."
"Iya ma."
"Tapi kok handphonenya gak aktif ya padahal ia tadi pergi untuk makan siang bersama Aril."
"Mama tahu nomornya Aril? Telpon anak itu aja ma," ucap Yudha memberi usul.
"Gak tahu. Tapi mama khawatir lho. Dua orang perempuan dan laki-laki dewasa kalau berdua saja bisa melakukan hal-hal yang mungkin tidak benar Yudh." Wajah Merry jadi sangat khawatir dibuatnya.
Yudha terdiam dan tampak berpikir. Untuk pria yang dekat dengan adiknya dari dulu ia memang selalu waspada. Yundha memiliki paras yang sangat cantik. Untuk itu ia sering mengawasinya kemanapun anak itu pergi tapi selama ia sibuk dengan Selfina ia jadi terlewat dengan anak itu.
"Tenang aja ma. Aku akan mencari tahu dari Yudhi nomornya Aril. Dia pasti tahu karena cukup akrab dengan anak om Usman itu."
Merry bernafas lega. Tapi tidak dengan Yundha yang sedang mereka khawatirkan. Gadis itu sedang dalam masalah dengan Dewa.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Selamat HUT Kemerdekaan RI ya gaess. Merdeka!!!
Nanti kita sambung. Author mau ikut lomba makan kerupuk dulu hehehehe.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1