
"Mau kemana lagi kamu?" tanya Wicaksono, sang papa dengan tatapan tajam.
"Eh Papa, assalamualaikum," balas Tiara dengan wajah meringis. Ia langsung meraih tangan pria paruh baya itu kemudian menciumnya.
"Ayo masuk. Sudah berhasil pulang kok mau pergi lagi," ucap pria itu dengan senyum yang paksakan.
Sebenarnya ingin ia marah dan memberikan hukuman pada anak gadisnya itu tapi karena ada banyak tamu yang sedang duduk di dalam ruang tamu itu akhirnya ia tunda dulu marahnya.
"Aku gak enak pa lewat depan para tamu dengan pakaian seperti ini," ucap Tiara memberi alasan. Kemeja Yudhistira yang kedodoran ditubuhnya terasa tampak sangat tak sopan dipandang di depan banyak orang.
"Kalau gitu kamu lewat samping saja dan cepat ganti pakaianmu. Pak Jaka udah lama menunggu kamu. Keluarganya ingin cepat-cepat membicarakan waktu pernikahan kalian."
Deg
Dada Tiara berdebar tak nyaman. Tiba-tiba ia merasa sangat takut untuk menikah dengan seorang kakek tua seperti pria itu. Ia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian mengikuti perkataan papanya itu.
Ia tak ada pilihan lain sekarang. Mau lari pun ia tak tahu mau lari kemana. Yudhi yang ia harapkan membawanya pergi jauh ternyata adalah seorang pria yang sang menjijikkan.
Huffft
Perempuan muda itu pun membuang nafasnya pelan.
Hilang sudah cita-citanya untuk bebas dan melanjutkan pendidikan. Dengan bahu menurun ia melangkahkan kakinya ke arah garasi tempat dimana ada pintu penghubung menuju ke dalam rumahnya tanpa harus melewati ruang tamu.
Akan tetapi sekali lagi langkahnya tertahan karena mendengar suara ribut-ribut dari arah ruang tamu. Ia pun berbalik dan berniat ke tempat itu tapi akhirnya ia urungkan. Penampilannya saat ini bisa saja menjadi pusat perhatian orang-orang disana jika ia ke tempat itu.
Huffft
Sekali lagi ia membuang nafasnya gelisah.
Urusan orang tua gak usah aku ikut campur, ucapnya membatin. Setelah itu ia segera melanjutkan langkahnya ke bagian dalam garasi.
Sementara itu di ruang tamu.
Wicaksono dan orang-orangnya langsung menghadang seorang pria yang pernah datang ke rumahnya mencari Tiara. Siapa lagi kalau bukan Yudhistira.
"Kamu lagi?!" tanya Wicaksono dengan tangan mencengkram erat kerah kemeja pria itu. Ia berusaha menahan agar pria itu tidak masuk ke dalam rumah dan berakhir mempermalukan keluarganya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini hah?!" tanyanya lagi dengan emosi tertahan.
"Aku datang membawa putri bapak dengan baik-baik seperti yang pernah yang bapak katakan waktu itu." Yudhistira menjawab dengan senyum diwajahnya.
Mulai saat ini ia akan berlaku sopan agar pria itu bisa nanti menerimanya sebagai menantu.
"Lalu?" tanya Wicaksono dengan tangan segera melepaskan cengkeramannya pada Yudhistira.
"Apa yang kamu inginkan? Uang? Mobil?!" lanjut pria paruh baya itu dengan rahang mengeras.
Yudhistira tersenyum tipis seraya menepuk pakaiannya yang sempat dibuat kusut oleh pria yang pernah memukulnya itu.
"Maaf pak. Aku tidak butuh uang ataupun mobil. Aku hanya ingin bertanggung jawab pada putrimu."
Wicaksono melotot dan segera mendorong tubuh Yudhistira ke arah dinding.
"Tanggung jawab apa hah?!" geram pria paruh baya itu dengan emosi kembali memuncak.
"Aku sudah tidur dengan Tiara pak," jawab Yudhistira dengan suara rendah bagaikan bisikan. Wicaksono langsung mencekik leher pria itu saking marahnya.
"Apa yang kamu katakan Brengsek! Berani kamu mempermalukan aku di depan Calon menantuku hah?!" ucap Wicaksono disela gigi-giginya. Ia tetap berucap dengan suara berbisik agar tak ada yang mendengar mereka berdua.
Tidur dengan pria di luar nikah adalah aib. Dan ia tak ingin mempermalukan Tiara di depan semua orang. Ia hanya ingin Wicaksono tahu apa yang ia inginkan.
"Hey ada apa ini? Kenapa kalian berdua seolah-olah sedang membicarakan hal yang sangat rahasia?" ucap Jaka yang merasa curiga pada dua pria itu. Yang awalnya karena kedatangan pria muda yang disambut dengan keributan orang-orang Wicaksono kini malah tampak akrab dan berbisik-bisik.
Wicaksono langsung menghampiri Jaka dengan wajah dibuat sangat santai meskipun hatinya sangat khawatir.
"Tak ada masalah pak Jaka. Kami hanya membicarakan sebuah bisnis kecil-kecilan. Pak Jaka tidak perlu khawatir. Jadi silahkan dinikmati hidangannya pak," ucap Wicaksono dengan perasaan yang sangat tak nyaman.
"Untuk kamu!" ucapnya pada Yudhistira.
"Kamu bisa pergi dari sini. Urusan bisnis itu nanti kita bahas dilain waktu." lanjutnya memerintah tapi sayangnya pria itu tak mengindahkannya.
"Aku tak akan pergi pak sebelum aku bertanggung jawab pada Tiara. Masa depannya ada di tanganku." Yudhistira menjawab dengan penuh percaya diri.
"Hey! Tanggung jawab apa dan masa depan apa?" tanya Jaka dengan perasaan yang mulai curiga. Ia yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh dua orang itu.
__ADS_1
Wicaksono terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Untuk itu Yudhistira lah yang membuka mulutnya dan siap untuk bicara.
"Aku adalah Yudhistira Maher Abdullah. Aku adalah kekasih Tiara pak," ucap pria muda itu memperkenalkan dirinya. Wajah Jaka dan keluarganya langsung berubah warna. Mereka semua saling bertatapan.
"Apa maksudnya ini? Kamu bilang Tiara adalah gadis yang tidak terikat dengan orang lain. Tapi mana buktinya?" ucap Jaka dengan wajah marah. Ia menatap Wicaksono dengan tatapan tajam.
"Semua itu tidak benar. Tiara itu memang tidak punya kekasih. Dan kalaupun punya aku tetap tidak setuju karena hanya pak Jaka yang sangat cocok dengannya." Wicaksono menjawab dengan cepat karena takut pria tua kaya raya itu akan marah.
Jaka langsung tersenyum puas dengan jawaban calon mertuanya itu.
"Dimana Tiara. Saya sudah tak sabar berjumpa dengannya," ucap pria berusia 60 tahun itu dengan pandangan ia edarkan ke sekeliling ruangan. Sepertinya ia tidak peduli kalau Tiara mempunyai seorang kekasih atau tidak.
Yang terpenting baginya adalah kekasih perempuan itu nanti akan ditinggalkannya jika ia sudah menikahinya.
"Aku tidak akan mengizinkan Tiara menikah dengan anda pak," ucap Yudhis dengan wajah serius.
"Hahaha! Kamu pikir saya peduli?" Tawa Jaka meledak dengan maksud merendahkan.
"Tiara akan tetap menjadi istriku. Paham kamu?!" lanjut pria tua itu dengan tatapan tajam pada Yudhis.
"Tidak. Maafkan aku karena tidak paham. Terus terang, aku bisa saja membawa pergi lagi Tiara dan tidak mengembalikannya. Tapi aku adalah pria yang bertanggung jawab dan menginginkan doa restu dari kedua orangtuanya. Untuk itu aku, atas nama pribadi melamar Tiara hari ini."
"Hah? Berani sekali kamu?!" ucap Jaka murka. Ia pun menatap Wicaksono dengan tatapan tajam.
"Lihat! Apa kamu mau diam saja atau semua usahamu akan saya tutup hari ini juga dan kamu akan bangkrut?!"
"Tidak pak Jaka. Tentu saja saya tidak akan mengikuti kemauan pria asing ini. Pernikahan bapak akan tetap terjadi meskipun Tiara mempunyai suami sekalipun!"
"Papa!" teriak Wana sang istri. Sejak tadi ia hanya menyimak saja tapi sekarang ia sudah tidak tahan lagi.
Wicaksono memandangnya tajam. Ia nampak sangat marah karena ada yang berani memotong perkataannya.
"Tiara bukan anak kandungmu! Jadi kamu tidak berhak memaksakan kehendak padanya seperti ini!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊