Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 149 Ikut Tegang


__ADS_3

Pegangan tangan Dewa terlepas. Tubuhnya terhuyung kebelakang. Pukulan Yudha benar-benar tepat sasaran.


Satu tendangan kembali disarangkan oleh Yudha ke arah Dewa tapi pria itu berhasil berkelit dan menghindar hingga serangan Yudha hanya mengenai angin.


"Kak Yudha, cukup! Biarkan ia pergi!" teriak Yundha dengan wajah ketakutan. Ia tidak mau ada korban diantara dua pria tampan yang sama-sama mempunyai tubuh atletis itu.


Ia segera berlari ke arah sang kakak dan memeluknya agar tidak lagi ingin menyerang.


Dewa yang mempunyai tinggi tubuh yang sama dengan Yudha langsung bersiap dengan kuda-kudanya. Ia tak ingin ada serangan lagi disaat ia sedang tidak siap.


"Pak Dewa, bisa jelaskan padaku apa yang sedang anda lakukan dengan adik saya?" tanya Yudha dengan rahang mengeras. Ia paling tak terima jika ada yang berani melecehkan sang adik tersayang.


"Tidak kak!"


Dewa bersiap membuka mulutnya tapi Yundha segera berteriak keras dan menarik tangan kakaknya untuk menjauh. Pria itu yakin gadis kesayangannya itu pasti melarangnya untuk bicara.


"Kakak mengenalnya? Dia orang gila bukan? Gak usah diladeni. Aku sudah melupakan apa yang sudah dilakukannya padaku. Jadi gak usah tanya apapun padanya." Yudha berucap dengan wajah serius.


"Hey? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku Nda?" tanya Yudha dengan dahi berkerut. Ia bingung sendiri dengan sang adik yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tidak kak. Aku cuma tidak mau kamu berhubungan atau cari masalah dengan pria gila itu. Kami baru saja bertemu dan aku yakin ia pasti salah orang. Ia mungkin mengira aku adalah orang yang ia kenal. Jadi mari kita pergi dari sini."


Yundha gelisah. Ia sungguh tak mau kakaknya tahu semua yang terjadi antara dirinya dan juga pria itu.


"Kalau begitu aku ingin minta maaf padanya karena telah memukulnya. Aku rasa pukulan aku tadi sangat keras," ucap Yudha dengan wajah meringis. Ia berharap gigi Dewa tidak rontok karena pukulannya tadi. Sesungguhnya, ia pun masih merasakan sakit juga.


"Gak usah kak. Nanti dia sadari sendiri kesalahannya, gak usah minta maaf. Ayo cepat pergi dari sini," ucap gadis itu seraya menarik tangan sang kakak untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Hey, tapi aku mau ke ruangan administrasi. Mbak mu minta pulang jadi aku harus mengurusnya cepat."


"Ah iya kak. Kalau begitu pergilah," ucap Yundha dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Ia pun melepaskan rengkuhan tangannya pada sang kakak dan membiarkan pria itu pergi menuju ruangan administrasi.


Yudha yang merasa tak enak pada Dewa langsung menghampiri relasinya itu dan menyalaminya kemudian meminta maaf sebelum melanjutkan tujuannya.


"Aku minta maaf pak Dewa. Aku pikir anda ingin berbuat macam-macam pada adik aku," ucapnya dengan senyum tak nyaman. Ia berharap pria itu tidak marah dan juga membalas pukulannya.


"Ah iya. Aku juga minta maaf karena tidak tahu kalau Yundha adalah adikmu pak Yudha. Maafkan aku karena sudah bertindak tak sopan padanya." Dewa balas menggenggam tangan pria itu dengan sangat erat. Mereka kemudian berpelukan.


"Maaf pak. Aku tinggal dulu. Aku harus ke bagian administrasi karena istriku sudah ingin keluar dari rumah sakit ini."


"Istri?" Dahi Dewa mengernyit heran.


"Nanti aku jelaskan. Dan berikan selamat padaku karena aku akan jadi papa," ucap Yudha dengan senyum lebar diwajahnya. Dewa tersenyum kemudian menjawab, " Selamat pak Yudha. Semoga istri dan calon bayinya sehat."


"Aamiin terimakasih banyak pak Dewa."

__ADS_1


Aku juga sebentar lagi akan menyusul, ucap Dewa membatin dengan tatapan tak lepas dari Yundha yang berdiri tak jauh dari mereka berdua.


Yudha pun segera pergi dari sana dengan terburu-buru setelah urusannya dengan Dewa selesai. Yundha tanpa berkata-kata lagi juga bersiap melangkahkan kakinya ke arah ruangan perawatan Selfina.


"Aku ikut," ucap Dewa seraya mensejajarkan langkahnya dengan gadis cantik itu.


Yundha menghentikan langkahnya dan langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Kalau kamu mengikuti aku maka aku pastikan aku akan berteriak disini kalau kamu ingin melakukan hal yang buruk padaku!"


Dewa tertawa renyah dengan wajah yang membiru akibat pukulan Yudha tadi. Ia pun berucap dengan santai, "Terserah. Teriak saja. Aku malah suka."


"Ya ampun. Kamu benar-benar gila ya!" Yundha berdecak. Ia semakin kesal saja pada pria tidak tahu malu itu.


"Aku sudah gila karena mu sayang. Dan ya, kenapa kamu sangat takut kalau aku memberitahu semua orang kalau aku memang sudah melakukan hal itu denganmu."


"Ish! Dasar gila!" Yundha menghentakkan kakinya kesal kemudian memutar arah. Ia membatalkan niatnya ke ruangan Selfina karena Dewa tetap saja mengikutinya. Ia tidak mau kalau pria itu bertemu dengan mamanya dan akan bercerita macam-macam.


"Kok gak jadi?" tanya Dewa bingung.


"Aku mau balik ke restoran tadi. Tas aku ada di sana."


"Baik. Aku antar." Dewa tersenyum. Itu berarti ia mempunyai kesempatan untuk bersama dengan gadis itu lebih lama lagi.


Yundha tidak menjawab. Ia tak punya pilihan lain selain ikut karena ia tak punya kendaraan dan juga tak punya uang untuk membayar taksi.


Yundha menghampiri seorang karyawan dan menanyakan dimana tasnya berada.


"Ada di dalam ruangan manager Bu," ucap karyawan itu mempersilahkan. Yundha tersenyum kemudian mengucapkan terimakasih.


"Gak usah panggil aku ibu. Aku masih muda lho," protes Yundha tak suka. Karyawan itu hanya menunduk. Ia tak berani melanggar perintah Dewa kalau gadis itu harus dipanggil ibu karena sebentar lagi akan jadi istrinya.


Yundha memasuki ruangan itu dengan langkah cepat. Ia harus mendapatkan segera tasnya dan harus pergi dari sana.


Klik


Pintu tiba-tiba tertutup dari dalam setelah Dewa berada di dalam ruangan itu juga. Yundha berbalik dan langsung melihat siapa yang mengikutinya ke dalam.


"Kamu ada lagi di sini?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Seperti yang kamu lihat sayangku. Aku akan ikut kemana pun kamu pergi." Dewa menjawab dengan santai kemudian segera duduk di kursi kebesarannya.


"Ish! Dasar gila!"


Yundha langsung meraih tasnya dan memeriksa isinya. Semuanya lengkap tak ada yang berkurang. Setelah itu ia bersiap untuk keluar tapi Dewa menahan langkahnya.

__ADS_1


"Jangan pergi dulu. Duduklah disini dan kita bicara baik-baik," ucap Dewa.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku sudah lupa kalau kita pernah bertemu dan berkenalan. Jadi aku akan pergi!"


"Oh ya? Bagaimana kalau kamu mengambil sesuatu dari ku? Apa aku harus diam saja?"


"Apa maksudmu hah!" ucap Yundha tak mengerti.


"Aku tak pernah mengambil apapun darimu brengsek! Aku bukan pencuri!"


"Kamu membawa calon anakku di dalam kandunganmu." Dewa menjawab dengan sangat santai.


"Dasar gila!" geram Yundha emosi. Ia pun mengangkat tangannya ke atas dan meremas udara. Rasanya ia ingin menelan pria itu bulat-bulat.


Dewa tersenyum saja kemudian mengeluarkan selembar cek berisikan angka ratusan juta dan diberikannya pada gadis itu.


"Apa ini?!" tanya Yundha dengan wajah bingung.


"Aku sudah pernah mengatakan kalau aku akan membayarmu malam itu tapi sayangnya kamu keburu pergi."


Yundha mencibir dan langsung merobek cek itu dan melemparkannya pada Dewa.


"Aku bukan gadis murahan yang mau kamu bayar seperti itu brengsek! Aku tidak apa-apa jadi kamu tak perlu bertanggung jawab apalagi harus kamu berikan uang seperti ini!"


"Tapi aku ingin bertanggungjawab padamu," tegas Dewa tak ingin dibantah.


"Aku menyukaimu dan mencintaimu. Aku ingin saat bayi itu lahir, ia akan mempunyai seorang papa."


"Gila! Kamu benar-benar gila dan bisa membuat aku ikut gila juga! Pria impoten mana mungkin bisa mempunyai anak hah!"


Dewa tersentak kaget dengan perkataan gadis yang sangat ia cintai itu.


"Mungkin tubuhku pernah kamu lihat tapi aku yakin kamu adalah pria impoten yang tak bisa melakukan apapun!" sarkas Yundha dengan perasaan emosi dari dalam dadanya.


"Aku pergi dan tidak usah merasa bersalah dan juga ingin bertanggung jawab!"


Yundha segera pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah di dalam dadanya sedangkan Dewa mengepalkan tangannya kuat-kuat saking kesalnya.


"Baiklah Yundha. Kamu akan segera melihat buktinya dan merasakan kekuatan senjataku sayang," geram Dewa seraya mengelus senjatanya yang sejak tadi ikut menegang karena perdebatan mereka berdua.


Apapun yang berhubungan dengan Yundha selalu bisa membuat si senjata andalan ingin memberontak dan mengeluarkan pelurunya yang mematikan.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2