Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 123 Masalah Keuangan


__ADS_3

"Selamat pagi pak presdir," ucap Selfina sesaat setelah mereka berdua sampai di dalam ruangan kerja mereka berdua.


"Selamat pagi juga sekretaris cantik ku," balas Yudha tersenyum. Ia menatap sang istri tercinta dengan tatapan penuh cinta.


Pria itu bersandar di belakang pintu kemudian meraih sang istri kedalam rengkuhannya.


"Katakan padaku, apa aku bisa bekerja di dalam ruangan ini bersamamu tanpa melakukan hal yang menyenangkan sayang?" bisiknya kemudian mengecup bibir sang istri singkat.


Selfina tersenyum kemudian mengelus bibir suaminya dengan ibu jarinya. Tak ada bekas lipstiknya di sana karena ia sudah menggunakan pewarna bibir waterproof tapi ia sangat senang melakukannya.


"Apa tadi belum cukup pak presdir sayang?" jawabnya dengan tatapan menggoda. Yudha tersenyum kembali kemudian menjawab seraya mengeratkan pelukannya.


"Junior masih terasa ngilu sayang, jepitanmu masih sangat terasa dan bikin aku berkedut terus."


"Ya Allah mas. Kamu ya. Gak capek apa, minum obat sih sampai kuat banget," jawab Selfina dengan wajah kaget sekaligus senang.


"Gak ngapa-ngapain. Kamu aja yang terlalu lezat, Hem," ucap Yudha kemudian meraih bibir sang istri dan mengulumnya sangat lembut dan menuntut.


"Mas, udah dong. Kapan kita kerja kalau kayak gini terus," rajuk Selfina manja karena suaminya mulai ingin membuka pakaiannya lagi.


"Pahaku gemetar mas. Kamu sih gak ada capek-capeknya," lanjut Selfina dengan bibir mengerucut. Ia berpura-pura kesal supaya pria itu tidak mengacaukan dandanannya yang sudah rapih.


"Iya deh. Akan aku tahan, kalau begitu kamu di luar saja dulu ya, ada banyak berkas yang perlu aku periksa. Kalau kamu disini aku tak bisa bekerja dengan baik Sel," ucap Yudha seraya meremas bagian belakang sang istri dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Iya mas. Ngerti kok, aku 'kan lezat hehehe," kekeh perempuan itu dan berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan sang suami.


"Iya, kamu tambah lezat lho." Yudha tersenyum penuh makna. Dan Selfina langsung merasakan gelenyar aneh dari dalam pembuluh darahnya. Dadanya berdesir hanya karena tatapan suaminya padanya.


"Sel," panggil Yudha dengan tatapan lurus ke dalam mata perempuan cantik itu.


"Iya, raja modus," jawab Selfina tersenyum. Ia tahu suaminya menginginkan apa darinya dan ia harus mewanti-wanti untuk tidak tergoda lagi pada kemesuman pria itu atau sepanjang siang itu mereka akan beradu tenaga lagi.


"Gak! Keluarlah. Kamu bisa-bisa bikin aku gila," ucap Yudha seraya menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia sedang berusaha meredakan hasratnya pada perempuan cantik itu lagi.


"Baiklah, selamat bekerja," ucap Selfina tersenyum lega.


"Kalau mas butuh bantuan nelpon saja ya," lanjut perempuan itu kemudian segera keluar dari ruangan dengan membawa perlengkapan kerjanya.


Ia pun segera duduk di meja kerjanya dan mulai membuka tumpukan berkas dari berbagai divisi yang sudah lama ingin disentuh oleh tangannya.


Keningnya berkerut melihat laporan keuangan yang ada di tangannya. Ia merasa ada yang janggal dengan banyaknya pengeluaran pada satu divisi di dalam perusahaannya itu.


Ia pun segera membuka file laporan keuangan akhir bulan lalu pada divisi tersebut dan ia menemukan hal yang sangat mengkhawatirkan.


"Oh tidak. Sepertinya mereka sedang berusaha untuk merampok dana yang sangat besar seperti ini!" geramnya dengan rahang mengeras sempurna.


Segera ia memencet nomor telepon divisi keuangan agar menjelaskan apa yang telah terjadi selama ia tidak berada di perusahaan selama beberapa hari ini.

__ADS_1


"Ke ruangan aku sekarang juga pak Hendra!"' titah pria itu kemudian membanting pesawat telepon itu sebelum mendengar respon dari pihak lawan bicara.


"Wah gawat!" ucap Hendra dari balik panggilan telepon itu.


"Ada apa pak Hendra?" tanya salah satu karyawan yang sedang bersama dengan pria itu di dalam ruangannya.


"Pak presiden direktur ternyata sudah masuk kerja dan aku lupa membereskan urusan ini," ucap Hendra dengan wajah pucat.


"Tenang saja pak. Minta maaf dan semuanya akan cepat beres."


"Ah tidak segampang itu. Pak Yudha sangat berbeda dengan almarhum pak Maher. Dia sangat jujur dan juga disiplin," ucap Hendra kemudian segera meninggalkan tempat itu menuju ruangan presiden direktur.


Sepanjang jalan, ia terus berdoa semoga urusan pekerjaan ini segera beres atau ia akan meminta berhenti saja dasi perusahaan ini.


"Oh Tuhan. Tolonglah aku," ucapnya dengan harapan yang sangat tinggi.


Ia sudah tahu kalau ini pasti akan terjadi. Dan saat ini sepertinya bom akan segera meledak karena ketidaktegasan nya dalam bekerja.


Langkahnya ia percepat dengan tak berhenti merapalkan doa agar semua urusannya cepat selesai meskipun ia yakin kalau urusan keuangan perusahaan bukanlah hal yang remeh.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2