Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 132 Pria Impoten


__ADS_3

"Hey, katanya mau ngajak aku pulang. Kok malah masuk ke tempat ini?!" tanya Yundha saat ia dan Dewa sudah berada di dalam sebuah unit apartemen di lantai yang sama dengan perempuan yang bernama Jessica itu.


"Kita pulangnya kesini. Ini unit apartemen aku juga. Biasa aku gunakan untuk bekerja," balas Dewa santai seraya membuka jaket yang sedang dipakainya dan melemparkannya ke arah sofa.


"Tapi aku ingin pulang. Aku tidak mungkin tinggal bersama denganmu di sini, kita tak ada hubungan apapun," ucap Yundha tak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Kamu dan aku akan tinggal dan tidur disini sampai besok. Itu perjanjian kita. Ingat kamu adalah istriku malam ini," ucap Dewa tak ingin berdebat.


Yundha menggelengkan kepalanya dengan dramatis.


"Tidak! Ini tidak benar. Aku adalah gadis baik-baik dari keluarga baik-baik. Jadi kita hentikan permainan konyol seperti ini!"


"Aku bukan perempuan murahan yang mau saja menghabiskan malam dengan seorang pria yang aku sendiri tidak kenal!"


Dewa menatap Yundha dengan tatapan tak biasa. Ia pun menghampiri gadis itu dengan rasa yang tak bisa ia lukiskan. Ia jadi sangat ingin memilikinya.


"Dan ya, kamu bahkan berani mencium aku?! Itu ciuman pertamaku yang harusnya aku berikan untuk suamiku!" teriak Yundha dengan sangat kesal.


"Maaf, aku khilaf tapi bukankah aku memang suamimu malam ini," ucap Dewa dengan dada berdebar. Ia belum pernah merasakan perasaan seperti ini pada gadis manapun yang pernah ia kencani.


"Khilaf? Ya ampun alasan apa itu?!"' Yundha mencebikkan bibirnya semakin kesal. Ia bahkan meraih beberapa lembar tissue dari atas meja kemudian melap bibirnya untuk menghilangkan rasa pria itu itu disana.


"Menjijikkan! Kamu telah mencuri ciuman pertamaku brengsek!"


Dewa terkekeh, ia jadi merasa sangat lucu dibuatnya. Ia sangat suka gaya gadis itu.


"Rasa ciuman aku tak akan pernah bisa kamu hapus begitu saja," ucapnya dengan langkah yang semakin dekat menghampiri tubuh gadis itu.


"Brengsek kamu!"


"Mau aku beri tahu caranya agar bisa hilang?" tanya pria itu kemudian dengan cepat menekan tubuh Yundha ke arah dinding. Ia mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangannya yang kuat.


"Mau apa kamu?!"


"Aku ingin memberikan cara agar rasa ciuman itu bisa hilang," ucap Dewa dengan suara rendah dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung mengulum lembut bibir gadis itu dengan penuh perasaan.


Sungguh, Ia masih ingin mengulangi rasa legit dan kenyal bibir Yundha dengan lama dan nikmat.


"Hmmmpt!"'

__ADS_1


Gadis itu berusaha mendorong pria itu hingga melepaskan dirinya.


Dan


Plak!


Satu tamparan keras mendarat cantik pada pipi Dewa hingga mengakibatkan tanda merah disana.


"Kamu benar-benar brengsek! Bawa aku pulang!" teriak Yundha dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa kalau dirinya dilecehkan dengan sedemikian rupa oleh seorang pria asing yang tidak ia kenal.


"Hey! Kita tak akan pulang sampai besok pagi agar permainan kita sempurna dan menyaksikan sendiri perempuan ****** itu pergi meninggalkan unit aku," ucap Dewa seraya menggerakkan tangannya ingin menyentuh bibir tebal dan juga ranum gadis itu.


Dewa tidak merasakan sakit sama sekali pada pipinya.


Rasanya ia ingin sekali menenggelamkan lagi dirinya pada arus kenikmatan dengan gadis itu. Ia sekarang sudah sangat terobsesi pada Yundha.


"Jangan sentuh aku lagi!"


"Kita akan bersama malam ini. Aku rela melakukan apa saja asalkan kamu menemani aku malam ini," bisik Dewa dengan suara beratnya.


"Aku tidak mau! Kalau begitu biarkan aku keluar dan akan menemui Jessica!"


"Untuk mengatakan kalau kita hanya membohonginya! Kita hanya ingin berakting sebagai suami istri!"


"Tidak akan pernah aku biarkan kamu mengatakannya!"'


"Lalu kenapa kamu mencium aku brengsek! Aku tidak suka! Kamu penipu!" Yundha kembali berteriak tapi Dewa tetap tak melepaskannya.


"Aku suka rasa bibirmu. Manis dan juga sangat nikmat. Sungguh beda dengan bibir Jessica."


Plak!


"Dasar laki-laki brengsek! Huaaa lepaskan aku! Atau aku akan berteriak!"


"Teriaklah. Aku sudah bilang malam ini kamu harus jadi istriku. Jadi aku bebas melakukan apa saja denganmu bukan?"


"Oh ya ampun! Berani kamu berpikir macam-macam tentang aku, maka aku tak akan segan-segan membunuhmu!" Dewa hanya tersenyum. Entah kenapa ia sangat suka bermain-main dengan gadis cantik dihadapannya ini. Ia merasa sudah tertawan pada pesonanya yang sangat berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikencaninya.


"Lakukan apa yang kamu ingin lakukan karena aku malah berharap bisa merasakan tubuhmu yang lain sayang," bisik Dewa menyeringai.

__ADS_1


Yundha meradang. Ia langsung mengangkat lututnya dan memberikan satu gerakan keras pada alat vital pria itu.


"Aaaaargh!" Dewa berteriak keras karena kesakitan. Ia berharap senjata andalannya itu tidak cedera karena perlawanan gadis itu yang ia tidak sangka-sangka.


Yundha berhasil lepas dari kungkungan pria itu. Ia pun segera berlari ke arah pintu dan ingin membukanya tapi ternyata terkunci. Semua unit di sini menggunakan password. Dan ia terjebak disana seraya berteriak dan memukul pintu. Ia berharap ada orang di luar sana yang bisa mendengar teriakannya dan bisa menyelamatkannya.


Dewa menghampirinya seraya memegang bagian vitalnya karena masih merasa kesakitan.


"Kamu harus bertanggung jawab kalau aku jadi impoten gara-gara tendanganmu tadi sayang," ucapnya dengan tatapan lurus pada Yundha.


"Heh! Dasar tidak punya malu. Itu deritamu kalau kamu impoten!"


Dewa meringis seraya mengelus lembut senjata andalannya yang masih merasa kesakitan. Ia berharap benda itu bisa segera bangun tapi ternyata ia benar-benar pingsan.


"Biarkan aku pergi dari sini Pak Dewa! Dan aku akan melupakan kalau kamu pernah mencuri ciuman aku!"


"Memangnya kamu bisa melupakan rasa ciuman aku? Kamu tak akan bisa seperti aku pun tak akan bisa melupakan apa yang sudah kamu lakukan pada diriku!"


Yundha memutar bola matanya malas. Ia sekarang berani menghadapi pria itu karena ia yakin tak akan diapa-apain olehnya lagi karena ia pasti sudah jadi pria impoten.


"Itu hukuman untukmu pria mesum! Aku sekarang yakin kalau kamu memang pria tak tahu malu yang suka mempermainkan perempuan. Jadi tak salah kalau Jessica juga berselingkuh darimu!"


Dewa menghela nafasnya. Ia tak ingin membalas gadis itu.


"Keluarkan aku dari sini! Atau aku akan melaporkanmu sebagai penculik dan pemerkosa!"


"Eh aku belum memperkosamu enak saja! Senjataku saja belum bangun dari tadi!" dengus Dewa kesal.


"Ish!" Yundha menggerutu tak kalah kesalnya.


"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini jika aku tidak mengizinkannya. Jadi sekarang tidurlah," ucap Dewa lagi dan segera menuju kamarnya.


Ia sekarang jadi sangat khawatir dengan kelangsungan hidup si senjata andalannya yang selalu ia agung-agungkan karena ukuran dan kehebatannya di tempat yang sangat indah.


🍁🌺


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2