
"Ada apa sih di dalam?" bisik Maya saat melihat beberapa manager tampak masuk ke dalam ruangan presiden direktur setelah meminta izin lewat Selfina.
"Masalah intern perusahaan. Kita gak usah mikirin," jawab Selfina seraya melanjutkan pekerjaannya.
"Wajah para manager itu kok pada tegang ya mbak? Aku jadi merinding dibuatnya," ucap Maya seraya memperlihatkan lengannya yang putih.
"Aku bilang gak usah dipikirin, kita tunggu aja hasilnya."
"Iya sih, tapi kalau penasaran aku suka sakit perut mbak. Boleh ngintip gak sih?" ucap Maya berpura-pura meminta izin dan langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu. Setelah itu ia menempelkan kupingnya di sana.
"Kedengaran gak?" tanya Selfina ikut penasaran. Ia sampai mengikuti langkah Maya dan ikut menempelkan kupingnya juga pada daun pintu. Niatnya tak lain dan tak bukan untuk mengetes pendengarannya.
Sebenarnya, ia ingin meyakinkan dirinya atas perkataan suaminya tadi kalau ruangan itu kedap suara. Pasalnya beberapa jam yang lalu ia sempat merintih-rintih nikmat saat presiden direktur mesum itu melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan pada dirinya.
"Kedengaran gak mbak?" tanya Maya pada dirinya. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dramatis.
"Kalau kamu?" tanyanya balik. Maya langsung menggelengkan kepalanya juga.
"Oh syukurlah," ucapnya bernafas lega. Maya langsung mengernyit bingung.
"Kok malah bersyukur sih mbak? Heran deh," dengus Maya.
"Ngapain coba nguping kalo syukur gak kedengaran?" lanjut gadis itu dengan bibir cemberut.
"Itu karena pak presdir udah bilang kalau ruangan di dalam ini kedap suara jadi semua orang tak akan bisa mendengar apa yang sedang terjadi di dalam sana." Selfina tersenyum seraya mengangkat alisnya sebelah.
"Ish! Mbak ini gimana sih? Kita ini sengaja nguping supaya tahu apa yang terjadi, lah kalau sudah tahu ngapain lagi kita ada disini?"
Maya menghentakkan kakinya kesal kemudian kembali ke kubikelnya.
"Hahaha, benar juga ya. Kita jadi tampak sangat bodoh di sini," ucap Selfina tersenyum lucu.
"Kamu aja mbak. Aku gak ikutan. Bye!"
"Eh mau kemana?"
"Mau makan di kantin. Ini udah waktunya istirahat. Jadi aku mau istirahat dulu ya!"
"Tunggu aku dong mbak May. Aku mau tanya Presdir dulu."
"Eh, tanya apa?" ucap Maya seraya menghentikan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
"Pak Yudha juga belum sarapan yang benar tadi pagi. Cuma minum susu dan kue apem. Pasti sekarang sudah sangat lapar," jawab Selfina santai.
"Lho kok tahu sih kalau pak Yudha cuma sarapan itu. Kalian se rumah ya?!"
Selfina tak menjawab dan malah meraih handphonenya untuk mengirim pesan pada sang suami tercinta. Maya mendekat seraya menatapnya curiga.
__ADS_1
[Mas, gak makan dulu?]
Belum dibalas.
"Kalian kok semakin mencurigakan ya?" tanyanya dengan wajah serius.
"Sana duluan makan, aku nunggu jawaban pak Yudha dulu," ucap Selfina seraya mendorong tubuh Maya yang ingin mengintip apa yang ia ketik.
"Oh, bikin penasaran saja, emang sih kalau cuma minum susu dan kue apem pasti sekarang sudah lapar. Eh, ngomong-ngomong apa mas Yudhi yang masak kue apemnya? Secara 'kan dia paling suka masak-masak di rumah pak Yudha," ucap Maya dengan tampang berpikir.
Selfina mendengus. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan gadis itu.
Tring
Balasan pesannya pun masuk.
[Aku gak lapar]
Selfina mengetik pesan balasan lagi.
[Ingat makan mas. Tadi pagi 'kan cuma minum susu. Mau aku pesankan makanan gak?]
[Gak usah. Aku lagi sibuk]
[Mas, awas sakit mag Lho]
Selfina menghela nafasnya kemudian menutup aplikasi pesan itu. Suaminya benar-benar tak ingin diganggu dalam bekerja. Ia pun menatap Maya yang sedang menatapnya juga.
"Kenapa? Ditolak ya?" tanya Maya dengan bibir mencibir.
"Okey, kita makan sama-sama. Pak Presdir lagi sibuk," jawab Selfina kemudian menyimpan handphonenya ke dalam tas tangannya.
"Gak usah ngerayu pak presdir. Kalau dia lapar pasti ia akan makan sendiri," ucap Maya prihatin. Ia bisa menebak kalau sang sekretaris pasti sangat kecewa dengan balasan dari sang presiden direktur.
"Hem, iya juga ya. Baiklah, hari ini kita akan makan bersama dan aku yang traktir," ucap Selfina dengan wajah berubah ceria.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka menuju kantin perusahaan yang ada di lantai 1.
🌹
"Jelaskan apa maksud kalian melakukan hal ini?!" titah Yudha pada beberapa manager yang sedang jadi tersangka pada kasus perampokan berjamaah dana di perusahaannya.
"Kami tidak melakukan apapun pak. Ini pasti tuduhan sepihak dari pak Hendra," jawab Gunawan dengan wajah yang sama sekali tak bersalah.
"Kalau anda pak Herry? Apa pembelaan anda?!"
Herry sang manager Marketing hanya menundukkan wajahnya. Ia nampak gelisah dan juga takut.
__ADS_1
"Tunjukkan bukti ketidakterlibatan kalian semua! Saya tunggu sampai sore."
Mereka semua saling bertatapan kemudian bergerak tak nyaman. Mereka harus mencari cara agar lolos dari masalah ini.
"Silahkan kembali ke ruangan kalian masing-masing. Dan aku tunggu bukti kalian 3 jam kedepan atau pihak berwajib yang akan menjemput kalian hari ini juga!" tegas Yudha tak terbantahkan.
Para manager itu pun keluar dari ruangan presiden direktur dengan wajah kusut. Mereka nampak sangat khawatir.
"Brengsek kamu Hendra! Kamu yang bertandatangan tapi kenapa kami yang harus bertanggung jawab hah?!" ucap Gunawan dengan rahang mengeras sempurna.
Hendra hanya tersenyum miring kemudian menatap mereka semua.
"Aku sudah menduga ini akan terjadi, makanya bukan tandatangan saya saja yang ada dalam berkas pencairan itu tetapi juga tandatangan kalian."
"Apa?!" Gunawan langsung meraih kerah kemeja pria itu dan bersiap untuk memberikan satu pukulan tapi Herry langsung menahannya.
"Wan Jangan! Kalau Hendra tak ingin mengakui kalau semua tandatangan itu adalah tandatangannya juga maka putrinya akan kita amankan dan kita jadikan sebagai pengemis di jalanan, bagaimana Hen?"
"Lakukan kalau kalian berani! Karena mulai sekarang aku tidak akan mau jadi budak kalian semua!"
"Heh? Kamu sudah berani melawan ya?!" Gunawan merangsek maju lagi dan langsung memberikan satu pukulan di rahang Hendra.
Bug!
Bug!
Mereka berdua saling memukul sampai Yudha yang melihat mereka dari kamera CCTV di ruangannya langsung keluar dan merelai mereka.
"Hentikan!"
"Kalian semua benar-benar tak tahu malu ya?! Sudah melakukan hal yang sangat buruk pada perusahaan sekarang malah menambah masalah lagi?!" teriak Yudha dengan perasaan yang sangat marah.
Tiga orang itu langsung terdiam tetapi saling menatap dengan tatapan benci.
"Saya sudah bilang agar kembali ke ruangan kalian dan bawa bukti kesini tentang masalah laporan keuangan itu!"
"Brengsek kalian!"
Yudha meninggalkan tempat itu dengan sangat marah.
Sebenarnya bisa saja ia langsung melaporkan mereka tapi ia masih punya rasa empati dan ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan tapi kenyataannya inilah yang ia dapatkan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1