
Sesampainya di apartemennya, David langsung menuju kamarnya. Ia perlu mandi dan istirahat yang cukup.
Malam ini ia ada acara di sebuah hotel untuk malam ramah tamah dengan beberapa dosen yang baru dikukuhkan sebagai Doktor.
Setelah mandi dan sholat. Ia pun naik ke atas ranjangnya. Ia ingin tidur sejenak sebelum berangkat lagi menghadiri acara malam ini. Berbaring dan menutup mata sejenak bisa membuat tubuhnya sedikit relaks, begitu pikirnya.
Triiing
Triiing
Triiing
Matanya kini terbuka kembali karena panggilan telepon yang begitu nyaring dan tak sabar ingin dijawab. Dengan malas-malasan, ia pun meraih benda pipih elektronik itu dan me non aktifkannya.
Pokoknya ia tak ingin diganggu untuk saat ini. Waktu kerja adalah waktu kerja begitupun waktu yang lainnya. Itu yang ia tanamkan di dalam dirinya. Jadi ia tidak peduli lagi pada siapa saja yang mungkin sedang menghubunginya.
Selanjutnya, ia pun menyimpan benda itu dibawah bantal tanpa mau melihat siapa yang memanggilnya.
Tak ingin ia diganggu karena Ia harus istirahat supaya bisa segar pada acara sebentar malam.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
"Oh ya Allah. Gak tahu apa kalau aku ingin tidur sejenak saja," ucapnya kembali kesal kemudian membuka bantalnya dan meraih handphonenya.
"Eh?" ucapnya dengan mata melotot tak percaya. Handphonenya ternyata sudah ia matikan tapi bunyi panggilan itu terus saja mengganggunya. Makanya ia jadi bingung sendiri.
Ia pun bangun dan mencari sumber suara. Di atas meja kerjanya di dekat kunci mobilnya, ia menemukan benda yang sejak tadi berbunyi. Dan ternyata handphone itu adalah milik Revalda.
"Zackketz ❤️?" ucapnya seraya menatap nama yang memanggil di layar handphone gadis itu dengan dahi mengernyit. Gambar profil di dalam layar itu adalah seorang cowok tampan dengan topi hitam di kepalanya.
Seketika ia langsung kesal. Hatinya mendidih cemburu.
Triiing
Triiing
__ADS_1
Triiing
Handphone itu berteriak kembali meminta untuk diangkat.
"Udah mau menikah denganku tapi masih punya kontak cowok pake emoticon love?"
"Cih!" ucap pria itu dengan wajah mengeras cemburu.
Rasa lelah dan ngantuknya kini menguap. Ia segera menggulir tombol hijau dan menerima panggilan itu.
"Halo!" ucap seseorang dari seberang sana. Bukan suara pria seperti yang ada di dalam bayangannya tapi itu adalah suara yang sepertinya ia kenal.
"Ya halo!" balasnya.
"Maaf. Assalamualaikum, selamat sore, aku pemilik nomor dan handphone yang sedang bapak eh mas pegang. Aku melupakannya di Cafe Agra."
David tersenyum samar. Suara yang sedang berbicara itu adalah suara Revalda. Dadanya jadi berdebar.
"Kalau boleh minta tolong, plis, aku mohon tolong dikembalikan handphoneku itu ya pak, eh mas, karena ada banyak data yang aku simpan di dalam sana. Akan aku beri ucapan terimakasih kok."
David hanya tersenyum dan tak ingin bicara. Ia hanya ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu.
"Aku beneran serius lho pak eh mas. Aku bisa bayar sesuai harga handphone itu tapi tolong kembalikan sekarang ya?" kali ini suara Revalda kedengaran memohon. David semakin senang dibuatnya.
"Mas? Pak? Kamu masih ada di sana 'kan?" ucap Revalda lagi karena David belum juga menjawab.
"Iya," jawab David singkat. Ia tak ingin bicara lebih banyak karena ia khawatir gadis itu akan mengenali suaranya.
"Iya apa pak?"
"Ya iya saja." David menjawab dengan senyum diwajahnya.
Revalda jadi gregetan sendiri. Rasanya ia ingin meremas wajah orang yang sedang bicara dengannya itu. Tapi ia ingin berusaha untuk bersabar dan membujuk agar pria itu mau melakukan yang ia inginkan.
"Jadi bapak mau 'kan?" tanya Revalda lagi.
"Mau apa?" balas David dengan berusaha menahan untuk tidak tertawa. Ia jadi merasa sangat bahagia bisa membuat gadis itu kesal.
"Mau kembalikan handphone aku lah. Bapak eh mas ini bagaimana sih?" Gadis itu benar-benar jadi sangat kesal.
__ADS_1
"Iya." David tersenyum.
"Okey pak. Terimakasih banyak, kita bisa ketemu dimana ya?" ucap Revalda tak sabar.
"Dimana saja."
"Tentukan tempatnya sekarang pak eh mas. Tapi ingat, jangan berani membuka galeri atau file aku!"
"Memangnya ada apa di dalam sana?" tanya David dengan senyum tertahan. Revalda langsung curiga. Ia sepertinya kenal dengan suara pria yang sedang mengobrol dengannya.
"Kamu siapa sebenarnya?!"
David tidak menjawab.
"Pokoknya jangan buka apapun apa yang ada di dalam atau bapak aku laporkan ke polisi!" geram Revalda dengan emosi tertahan.
"Hahaha! Coba saja," balas David dengan tawanya yang sangat menyebalkan di telinga Revalda.
"Siapa kamu hah!" teriak gadis itu dengan perasaan yang sangat kesal.
"Tebak saja sendiri!" ucap David kemudian mematikan sambungan telepon itu. Ia sungguh ingin tertawa tanpa didengarkan oleh gadis yang sangat dicintainya itu.
Grrrrr
Revalda meremas handphone yang ada ditangannya dengan sangat keras sampai terasa ingin pecah.
"Hey. Awas handphoneku pecah!" tegur Zacky, sang sepupu.
Grrrrr
"Kalian semua menjengkelkan!" teriak Revalda kemudian meninggalkan tempat itu.
"Val. Kembalikan handphone aku!' teriak Zacky.
"Bodo!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?