Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 139 Aku Akan Datang


__ADS_3

"Maafkan aku ma. Aku gak bisa ikut ke acara mbak Selfina, aku lagi gak enak badan nih," ucap gadis cantik itu seraya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Merry datang mendekat dan mencoba membuka selimut itu tapi Yundha hanya membukanya sedikit untuk memperlihatkan sebagian dari wajahnya.


"Maaf ma," ucapnya dari dalam selimut yang cukup tebal itu. Ia sedang memakai pakaian yang cukup terbuka dan tidak ingin sang mama melihat tanda-tanda yang masih tersisa dari bibir pria brengsek itu pada tubuhnya.


"Lho kok bisa sih sayang? Eh beneran demam lho," ucap Merry seraya meletakkan tangannya di dahi sang putri.


"Iya ma. Aku gak enak badan ma. Jadi maaf ya kalau aku gak bisa ikut. Sampaikan salam aku sama mbak Sel dan juga kak Yudha."


"Iya deh sayang. Nanti mama akan bilang kakakmu kalau kamu gak enak badan."


"Makasih banyak ma." Yundha tersenyum.


"Kamu udah minum obat belum nih?"


"Belum ma. Nanti aku minum kok."


"Iya deh. Kamu juga harus banyak minum air putih ya sayang."


"Iya ma."


"Kalau kamu mau mama bisa antar kamu ke dokter dulu kok. Kamu gak pernah kayak gini lho sampai demam begini," tawar Merry seraya duduk disisi ranjang sang putri.


Yundha menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "Gak usah ma. Aku baik-baik saja kok. Bentar juga baikan."


"Hum, baiklah. Kalau begitu mama berangkat ya. Ada bik Nah yang akan temenin kamu disini."


"Makasih ma."


"Iya sayang." Merry pun berdiri dari duduknya kemudian mengelus kepala sang putri bungsu selanjutnya keluar dari kamar itu.


Yundha menghela nafasnya kemudian menutup wajahnya dan kembali menangis.

__ADS_1


"Maafkan aku ma hiks. Aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Oh ya Allah, bagaimana ini," ucapnya dengan tangis pecah.


Tring


Tring


Bunyi notifikasi pesan beruntun membuatnya menghentikan tangis dan penyesalannya. Ia segera meraih gawainya itu dan membuka pesan-pesan yang sepertinya sangat banyak dari seseorang yang selama ini ia harapkan menjadi calon suaminya.


"Kak Aril? Tumben mau chat duluan," ucapnya kemudian segera membuka semua pesan yang masuk dari pria yang saat sedang berada di luar negeri untuk pendidikan dokternya.


Ia pun menyusut airmatanya kemudian bangun dan duduk bersandar di head board ranjangnya.


[Assalamualaikum Yuyun Dada🤗]


[Tumben story wa sepi. Pa kabar?]


[Aku paling suka kalau ada postingan tentang kesibukan di Cafe dan di kampus, tapi kok udah dua hari ini sepi. Sibuk banget ya?]


Yundha merasakan dadanya semakin sakit. Airmatanya kembali mengalir dari pelupuk matanya. Jari-jarinya rasanya jadi sangat kaku untuk membalas chat pria itu. Ia sungguh sangat malu dan tak pantas untuk menyukai pria itu lagi.


Ia pun menutup aplikasi pesan itu dan melempar gawainya ke sembarang arah. Ia tak peduli kalau mungkin akan rusak maupun pecah.


"Huaaaa brengsek kamu Dewa! Aaargh! Aku benci padamu!" teriaknya seraya memukul dadanya dengan kedua tangannya.


🌹


Happy birthday to you!


Happy birthday to you!


Happy birthday happy birthday happy birthday to you!


Selfina tampak sangat kaget saat keluar dari kamarnya dan mendapati semua anggota keluarganya memberikan ucapan selamat padanya.

__ADS_1


Praja Wijaya beserta keluarga kecilnya juga hadir pun Ibu dan ayahnya dari kampung tak ketinggalan didatangkan oleh Yudha sebagai kado spesial untuk sang istri tercinta.


"MasyaAllah. Terimakasih banyak semuanya," ucap perempuan cantik itu dengan wajah penuh haru dan bahagia.


"Semoga panjang umur dan segera mendapatkan momongan," ucap Ardina seraya memeluk dan mencium mantan sekretaris suaminya itu.


"Aamiin!" Semua orang mengaminkan terkecuali Yudha. Hanya ia yang belum siap jika seandainya istrinya hamil dan memberinya anak. Ada banyak pertimbangan yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Potong kuenya potong kuenya potong kuenya sekarang juga. Sekarang juga! Sekarang juga." Yudhi yang baru masuk dari arah ruang tamu membawa kue ulang tahun yang sangat lucu ditangannya.


Selfina semakin merasakan dadanya menghangat bahagia. Adik iparnya itu mau datang ke apartemennya lagi adanya sebuah kado yang juga sangat luar biasa buatnya. Itu berarti sakit hati pria itu sudah sembuh dan juga kering.


"Ayo Tante Sel, potong kuenya dan berikan potongan yang pertama untuk aku," ucap David dengan gayanya yang sangat dewasa. Ardina sampai menghela nafasnya melihat gaya sang putra.


"Eh David ternyata ada juga disini ya? Tante lihat kok semakin ganteng ya?"


David tersenyum kemudian menyugar rambutnya yang tersisir rapi. Ia semakin tampak seperti pria dewasa dengan setelan tuksedonya.


"Apa tante harus minta izin sama om Yudha dulu sayang supaya kuenya untuk kamu?" tanya Selfina sembari mengulas senyum manisnya pada putra sulung dari mantan bosnya itu.


"Ah iya ya tante. Aku lupa kalau ada om Yudha yang jadi penjaga tante Selfina, hihihi." David tertawa karena merasa lucu sendiri dengan tingkahnya yang kurang sopan.


"Maaf ya om Yudha," lanjutnya seraya memandang Yudha yang sedang merengkuh pinggang sang istri.


"Gak apa-apa kuenya untuk David supaya kamu cepat besar hehehe," kekeh Yudha dan diikuti oleh semua orang.


Acara potong kue pun selesai kemudian dilanjutkan dengan makan dan nyanyi-nyanyi. Mereka semua nampak sangat bahagia dan melupakan keadaan salah satu anggota keluarga mereka yaitu, Yundha yang mengalami demam tinggi di kamarnya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2