Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 84 Mama Geli


__ADS_3

"Assalamualaikum mbak Sel," ucap Yudhi dengan dada berdebar. Ada berbagai macam rasa yang bercampur di dalam hati pria itu saat ini.


"Waalaikumussalam mas Yudhi," jawab Selfina dari ujung sambungan. Yudhi terdiam sejenak kemudian menarik nafas panjang.


"Apa mbak sedang bersama dengan kak Yudha?" tanya Yudhi dengan tenggorokan yang tiba-tiba tercekat. Tangannya bahkan sedang gemetar sekarang.


"Ah iya mas. Kami sedang bersama saat ini," ucap Selfina tersenyum penuh cinta pada sang suami. Ia sungguh sedang berusaha mati-matian untuk tidak mendessah manja.


Yudha, suami mesumnya sedang menariknya ke atas pangkuan pria itu. Tangan nakalnya sedang menyusup ke dalam pakaian Selfina dan meremass dua squisinya dengan sangat lembut.


Terdengar suara lenguhan nafas Yudhi dari ujung sambungan hingga membuat Selfina mengernyit.


"Ada apa ya mas? Kok kayak kedengaran kayak ada masalah begitu?" tanya Selfina dengan perasaan tiba-tiba tak nyaman. Perempuan itu menatap suaminya seraya memperbesar volume suara telepon agar Yudha juga mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mbak,"


"Iya mas,"


Yudha meremas squisi Selfina agak kasar karena tak suka mendengar suara Yudhi dan istrinya yang terkesan sangat manja. Selfina tahu kalau suaminya kesal. Ia pun mengecup bibir pria itu agar tidak nampak kesal lagi.


"Mbak,"


"Iya mas. Ada apa?" Selfina menjawab dengan sabar.


"Tolong beritahu kak Yudha kalau papa sedang dibawa ke rumah sakit karena sedang dalam masa kritis."


"A-apa mas? Astaghfirullah, ya Allah!" Selfina tercekat kaget. Yudha pun langsung mengeluarkan tangannya dari pakaian sang istri dan meraih handphone itu dari tangan perempuan itu. Ia pun segera mengambil alih pembicaraan.


"Di? Apa yang kamu bicarakan hah?!" teriak pria itu pada sang adik.


"Kak Yudha? Iya kak. Cepatlah pulang. Penjaga lapas baru saja memberi kabar kalau papa baru saja berusaha membunuh dirinya. Saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit."


"Innalilahi, kamu tidak sedang bohong 'kan!" teriak Yudha dengan perasaan paniknya. Selfina langsung turun dari pangkuan suaminya karena ikut takut dan tegang.


"Tidak kak. Sungguh. Mama pun bahkan belum tahu hal ini. Mbak Selfina yang pertama aku hubungi."


"Awas kalau kamu bohong Di!"


"Tentu saja tidak. Jadi cepatlah pulang kak."

__ADS_1


"Ya, aku akan segera pulang."


Yudha menutup panggilan telepon itu dan menatap sang istri dengan perasaan yang sangat kacau.


"Sayang, aku harus pergi sekarang. Papa sedang berada dalam masa kritis," ucap Yudha seraya mengelus lembut pipi sang istri. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar.


"Pak, aku ikut," ucap Selfina seraya menahan tangan suaminya.


"Biarkan aku pergi sendiri Sel, kamu disini saja ya."


"Aku mau ikut. Papamu adalah papaku juga," ucap Selfina dengan mata berkaca-kaca. Ia cukup terpukul juga mendengar kabar ini. Yudha tersenyum kemudian mengecup singkat bibir sang istri.


"Baiklah, bersiaplah. Kita akan kembali ke Jakarta secepatnya," ucap Yudha kemudian meninggalkan Selfina untuk berpamitan pada semua orang yang masih ada di rumah itu.


Selfina hanya mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual kemudian ikut keluar dari kamarnya. Ia harus cepat-cepat dan tidak akan membawa banyak barang.


"Hati-hati nyetirnya Yudh. Jangan panik. Insyaallah kami akan menyusul besok pagi," ucap Gani seraya menepuk pelan bahu sang menantu.


"Iya pa. Aku izin membawa istriku bersamaku pa ma," ucap Yudha berpamitan.


"Selfina sekarang adalah tanggung jawabmu nak. Kami sudah menyerahkannya padamu," balas pria paruh baya itu dengan senyum tipis diwajahnya.


"Berikan kami kabar saat pak Yudha sudah sampai di Jakarta, insyaallah kami semua akan menyusul kesana," ucap Praja seraya menyentuh lengan pria muda itu.


"Iya pak. Insyaallah. Kami akan segera memberikan kabar. Assalamualaikum." Yudha berucap seraya membawa istrinya untuk meninggalkan tempat itu.


Semua orang melambaikan tangannya dengan perasaan sedih. Mereka tak menyangka kalau di hari pernikahan keduanya justru malah mendapatkan berita buruk seperti itu.


"Ya Allah, semoga Pak Maher baik-baik saja," ucap Shania dengan dada sesak.


"Aamiin," ucap semua orang mengaminkan. Setelah itu semua tamu yang datang pun bubar dan kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan campur aduk.


"Sayang, kamu kok diam saja sih sejak tadi?" tanya Praja pada Ardina. Perempuan hamil itu hanya menghela nafasnya kemudian tersenyum.


"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Praja lagi seraya menyentuh perut sang istri. Ardina mengangguk pelan.


"Iya kak. Aku baik, cuma merasa sedih aja sih soal musibah yang terjadi pada Pak Yudha dan Selfina," jawab Ardina dengan wajah berubah murung.


"Mereka berdua baru merasakan bahagia karena cinta mereka telah bersatu tapi malah mendapatkan cobaan yang sangat berat seperti ini," lanjutnya.

__ADS_1


"Iya sayang. Kita bisa apa. Semua yang terjadi sudah diatur oleh Tuhan. Baik itu yang menggembirakan maupun yang menyedihkan. Dan insyaallah baik untuk orang yang bersabar dan bersyukur."


"Hum iya kak. Semoga saja keluarga mereka baik-baik saja."


"Aaamiin."


"Tapi kok aku was-was ya kak," ucap Ardina dengan wajah yang nampak sangat khawatir.


"Jangan terlalu dipikirkan. Gak baik terlalu menakutkan sesuatu yang belum terjadi sayang. Kita hanya berdoa saja semoga pak Maher sembuh dan tidak berpikir untuk mengakhiri hidupnya lagi."


"Iya kak. Aamiin." Ardina tersenyum.


"Tawakal atas semua ketentuan Tuhan insyaallah akan membuat hati tenang sayang. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak okey?"


"Iya kak."


"Nah gitu dong, kamu juga sedang mengandung. Gak boleh memikirkan yang berat-berat. Buat hatimu selalu senang dan tenang. Supaya si dedek juga happy." Praja tersenyum.


"Iya kak, makasih banyak," ucap Ardina balas tersenyum. Ia pun mengarahkan tangan pria itu pada perutnya yang sedang bergerak.


"Ya Allah, baby ku menendang sayang," ucap Praja saat merasakan sebuah gerakan yang cukup keras dari dalam perut sang istri.


"MasyaAllah," lanjut pria itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Gimana rasanya sayang, sakit gak kalau lagi nendang kayak gini?" tanya Praja seraya mengecup lembut kulit perut Ardina yang semakin mengencang karena kontraksi.


"Gak sih. Hanya saja ada rasa manis-manisnya gitu, hehehe," kekeh Ardina.


"Ih gimana sih? Kok ada rasa manis-manisnya?" tanya sang suami dengan wajah tak mengerti.


"Iya kak. Kalau kamu kecup-kecup kayak gitu bukan cuma manis tapi geli-geli enak hahaha," jawab perempuan cantik itu dengan tawa renyahnya.


Praja semakin bersemangat mendekatkan bibirnya pada permukaan kulit perut Ardina sampai membuat sang istri kegelian.


"Papa, kacian mama geli!" David tiba-tiba saja muncul dan memukul punggung sang papa.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan komentar dong 🤭😍😘


__ADS_2