
"Hai tante, apa kabar ?" sapa Maya pada Merry seraya mencium pipi kiri dan kanan perempuan paruh baya itu.
"Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat sayang, saya sehat." Merry menjawab dengan senyum diwajahnya.
"Ayo silahkan duduk, semua orang sudah lama menunggu. Mereka sudah lapar hahaha," ucap Merry bercanda.
Maya tersenyum kemudian mengarahkan pandangannya ke arah seluruh anggota keluarga yang sudah duduk di depan meja makan panjang di dalam ruangan itu.
Dan begitu kagetnya ia karena di samping Yudha yang ingin ia tarik perhatiannya kini malah sedang duduk seorang gadis yang ia tidak suka. Ya, Selfina ada di sana sedang menatapnya juga.
"Oh, aku pikir ini makan malam istimewa untuk keluarga kita saja tante, kok ada orang lain juga ya?" sindirnya dengan ujung bibir terangkat.
"Gak ada orang lain di tempat ini, semuanya adalah anggota keluarga sayang. Duduklah dan kita akan mulai makan." Merry berucap dengan senyum diwajahnya. Maya pun duduk berdampingan dengan Yudhi.
Mereka semua pun mulai makan dengan sekali-kali mengobrol dengan santai. Anton Paris tak berhenti memuji makanan yang ada dihadapannya.
"Kalian masak sendiri ya? Kok rasanya sangat enak sekali," ucap pria paruh baya itu dengan wajah yang sangat senang.
"Ini sih masakan hasil tangan Selfina mas, dia ternyata sangat pintar memasak," ucap Hanum dengan wajah tersenyum ke arah Selfina yang sejak tadi hanya diam saja.
"Oh ya, Selfina sektretaris barunya Yudha ya, bagus dong. Bisa buka kerja sampingan buat usaha catering," ucap Anton Paris seraya menatap Selfina dari jauh.
"Aku paling suka sama perempuan yang suka dan pintar masak. Pasti aku akan betah tinggal di rumah deh," timpal Yudhi tak mau kalah. Ia ingin menunjukkan perasaannya lewat kata-kata pujian seperti itu.
"Mbak Selfina emang oke banget deh," lanjut pria itu dengan senyum diwajahnya.
"Ih, makan malamnya kok pada ngomongin Selfina terus sih, aku 'kan juga pintar masak. Belum pernah cobain nih masakan aku," timpal Maya dengan berusaha menahan gemuruh di dadanya. Akan tetapi demi mengambil perhatian Yudha ia harus tampak biasa-biasa saja dan bahkan harus sangat baik dan juga manis.
__ADS_1
"Ah iya. Maya juga pintar masak. Ia pernah kursus masak pada beberapa chef dari luar negeri. Ia paling jago dengan menu-menu masakan luar negeri," ucap Anton Paris ikut memuji kehebatan sang putri.
Maya merasakan kepalanya membesar karena senang dan bahagia. Mendapatkan rekomendasi dari papanya sendiri lumayanlah untuk menarik perhatian semua orang. Dan itu berarti ia tak kalah dengan Selfina yang hanya seorang sekretaris.
"Oh bagus dong, bisa jadi menantu idaman juga seperti Selfina, iyyakan Yud?" ucap Merry memancing komentar sang putra. Yudha hanya tersenyum kemudian mengangguk.
"Lho kok Selfina lagi sih tante. Aku gak mau disama-samain sama sekretaris mas Yudha lho," ucap Maya tak senang.
"Lho maafkan tante sayang. Tapi Selfina juga merupakan calon menantu kami yang baik juga. Ingat gak? Kalau kami ini punya dua putra, hehehe." kekeh Merry untuk mencairkan suasana.
"Oh iya, paham-paham, hihihi," ucap Maya dengan tawanya yang cekikikan. Yudhi tersenyum samar mendengarnya. Ia yakin mamanya sudah sangat mengerti perasaannya pada gadis itu sedangkan Yudha langsung menatap mereka semua dengan santai. Tangannya menggenggam tangan Selfina di bawah meja dan meremasnya lembut.
Selfina merasakan dunianya dipenuhi warna yang sangat indah. Yudha memperlakukannya sangat manis seperti ini membuatnya tak perduli dengan perbincangan semua orang. Ia merasa sangat menikmati acara dadakan yang tidak ia sangka- sangka ini.
Sikap Yudha yang berubah sangat manis ini membuatnya merasa kalau pria itu tidak lagi menyebalkan. Untuk beberapa detik mereka berdua saling bertatapan kemudian kembali bersikap biasa dengan dada berdebar tak karuan.
Acara makan malam di meja itu pun selesai. Mereka semua di persilahkan menuju ruang keluarga untuk mengobrol santai seraya menikmati alunan musik romantis yang sangat slow.
Ia sungguh menikmati acara kumpul keluarga ini karena ia merasa sudah dianggap sebagai anggota keluarga juga.
Yudhi tak tinggal diam, ia benar-benar menggunakan waktu ini untuk mendekati gadis itu. Ia ikut membantu apa saja yang dikerjakan oleh Selfina.
"Jadi kedatangan kami di sini menghadiri undangan Bu Merry sama Bu Hanum untuk memperdekat lagi hubungan kekerabatan kita," ucap Anton Paris memulai pembicaraan yang lebih serius.
Semua orang langsung menghentikan aktivitasnya. Volume musik pun diperkecil.
"Yudha adalah pengganti pak Maher di dalam keluarga ini. Ia bukan saja sebagai pemimpin keluarga tetapi juga pemimpin Maher Group. Ia sudah seharusnya sudah mempunyai pendamping yang sepadan dengannya."
__ADS_1
Yudha tersenyum, ia memang sudah sangat ingin menjadikan Selfina sebagai istrinya.
"Kedudukan Yudha di perusahaan perlu kita pikirkan. Saham saya di perusahaan cukup untuk memback up Yudha. Untuk itu saya ingin Maya, kita jodohkan dengan Yudha agar hubungan keluarga semakin erat."
Selfina yang sedang menata minuman dan cemilan di depan meja semua orang langsung merasakan tubuhnya membeku. Dadanya berdebar tak nyaman.
Gadis itu langsung meninggalkan ruangan dengan airmata yang sudah siap meleleh dari kelopak matanya. Ia yakin bahwa harapannya pada presiden direktur itu hanya berupa angan-angan saja.
Sedangkan Yudha langsung menegakkan punggungnya. Ia bisa melihat ekspresi Selfina yang langsung berubah. Ia sangat tahu kalau gadis itu sangat kecewa.
Sungguh, ia tidak berpikir kalau pria paruh baya itu akan mengatakan hal seperti itu malam ini. Dan ia harus mengklarifikasi semua ini secepatnya.
"Tak harus seperti itu om. Saham papa sudah lebih dari cukup untuk kedudukan saya di perusahaan. Kita harus bekerja profesional. Gak ada urusan dengan hal-hal yang bersifat pribadi di sini," ucap pria itu dengan wajah serius. Ia sungguh tak ingin ada hal-hal yang membuatnya ditekan dalam hal bekerja.
"Yudha, dengarkan om kamu dulu nak," ucap Merry menimpali. Tapi Yudha langsung mengangkat tangannya agar mamanya tak memotong perkataannya.
"Saham papa di perusahaan lebih dari 60 persen. Sedangkan saham om hanya 10 persen. Menurut om apakah itu bisa memback up saya?" ucap Yudha dengan tatapan lurus ke arah wajah pria paruh baya itu.
"Mohon maaf, saya tidak suka ditekan dalam bekerja. Saya selalu berusaha untuk menghindari hal-hal yang tidak profesional," lanjut Yudha dengan santai. Ia berharap dengan berkata seperti itu semua orang paham dengan apa yang ia inginkan.
"Dan mengenai hubungan kekerabatan, saya pikir tidak harus dengan pernikahan. Atau bagaimana kalau Yudhi saja yang menikah dengan Maya," ucap Yudha dengan santai tapi langsung membuat Yudhi tersedak minuman yang sedang diminumnya.
"Uhuk Uhuk Uhuk!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊