
"Permisi!"
Maya mengangkat wajahnya dan langsung memasang senyum termanis yang ia punya.
"Tante Merry? Selamat pagi tante," ucap gadis itu dengan wajah yang sangat gembira.
"Selamat pagi Maya. Eh, kamu beneran magang disini?" ucap Merry balas bertanya.
"Iya tante. Udah sekitar seminggu dan Alhamdulillah udah banyak tahu tentang dunia kerja."
"Wah hebat dong. Nih Yundha lihat Maya dong. Udah berani keluar dari zona nyamannya," ucap Merry seraya memandang wajah sang putri yang sedang menemaninya.
"Selamat ya May. Aku juga pengen sih ikutan magang disini tapi kak Yudha kadang resek. Gak mau kalau aku di perusahaan ini. Maunya aku jaga cafenya aja." Yundha menjawab dengan bibir cemberut.
"Hehehe, bagus dong kamu kan bisa langsung jadi owner dan jadi bos." Maya menimpali dengan tawa renyahnya.
"Kak Yudhi kayak gitu juga orangnya. Semua pada resek dan bikin kesal," lanjut Yundha dengan wajah dibuat sekesal-kesalnya.
"Hahaha jangan kayak gitu dong sama kakakmu. Mereka itu maunya kamu bisa cepat mandiri. Lagipula kamu 'kan emang suka sama bisnis kuliner," timpal Merry mengingatkan.
"Lah terus kak Yudhi yang juga suka bisnis kuliner lagi dimana sekarang May. Tadi katanya mau kesini untuk ikutan kerja. Enak banget aku disuruh gantikan dia di Yudha Enterprise juga. Apa sih maunya?" Yundha kembali menunjukkan wajah kesalnya.
"Tadi mas Yudhi ada kok di dalam ruangan pak Yudha. Tapi, gak tahu kalau sekarang. Apa masih di dalam atau udah keluar. Aku gak perhatikan sih," jawab Maya dengan senyum meringis.
"Kalo Selfina, sekarang ada dimana?" Kali ini Merry yang ikut bertanya karena sejak tadi ia tak melihat menantu kesayangannya itu.
"Mbak Selfina lagi ada di dalam tante. Tadi katanya mau sarapan sama pak Presdir dengan makanan yang dibawa oleh mas Yudhi," jawab Maya.
"Oh gitu? Jadi, kita boleh masuk gak nih?" tanya Merry meminta izin.
Sejak dulu, perempuan paruh baya itu selalu menjaga sikapnya ketika datang berkunjung. Ia akan selalu meminta izin untuk masuk ke ruangan kerja suaminya meskipun ia bebas untuk datang kapanpun ia mau.
"Apa tante harus minta izin? Ini 'kan ruangan kerja putranya tante sendiri." Maya berucap dengan wajah tak nyaman. Pasalnya ia sendiri tidak biasa mematuhi aturan hanya karena ia adalah putri dari dewan komisaris di perusahaan ini.
"Semua orang dan semua tempat punya aturan May. Bahkan anak sendiri pun. Ketika ia sudah dewasa dan sudah mempunyai privasi sendiri. Itu harus kita hargai. Dan saya tahu bagaimana Yudha." Merry menjawab dengan senyum diwajahnya.
"Ah iya tante. Kalau begitu tante duduk dulu. Saya akan memberitahu pak Yudha." Maya pun segera keluar dari meja kerjanya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan presiden direktur.
Sementara itu di dalam sana.
Selfina mendessah dengan sangat merdu saat sang suami mempermainkan pucuk merah muda miliknya dengan sangat lembut.
Ia benar-benar sangat menikmati apa yang dilakukan Yudha padanya. Sedangkan pria itu tak kunjung berhenti melakukan sesuatu yang membuat sang istri menggelinjang nikmat.
__ADS_1
"Uggghh sayang." Selfina kembali mengeluarkan suara lucknut dari bibirnya tiada henti. Tatanan rambut suaminya sudah sangat kacau karena perbuatan tangannya.
Yudha tersenyum puas. Tubuh sang istri sudah terbuka setengahnya. Pakaian yang dikenakan Selfina pun sudah tercecer di lantai.
"Kamu sangat cantik sayang," ucap Yudha dengan tatapannya yang penuh hasrat menggelora.
Selfina tersenyum kemudian membingkai wajah suaminya itu dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu juga pak Presdir. Sangat tampan," balas Selfina kemudian menyentuhkan bibirnya pada bibir suaminya. Mereka kembali saling bertaut dengan penuh gairah.
Lama mereka dalam posisi seperti itu sampai Selfina tak sanggup lagi. Tubuhnya bergetar hebat dan mulai melemah. Ia tak tahan dengan perlakuan suaminya yang sangat memberinya kenikmatan yang menyiksa.
Yudha pun segera mengangkat tubuh perempuan cantik itu ke dalam sebuah ruangan lain yang terdapat di belakang kursi kerjanya. Yakni, sebuah tempat yang selama ini dipakai olehnya untuk beristirahat saat lelah bekerja.
Yudha dan Selfina tersentak kaget. Mereka langsung saling bertatapan dengan wajah khawatir.
Yudha mengeratkan rahangnya kesal. Ia akan pastikan Maya mendapatkan sanksi karena telah menggangu kesenangan mereka berdua.
"Pakaian aku," cicit Selfina dan langsung menutupi dua bongkahan kenyalnya dengan kedua tangannya.
"Tunggu sebentar sayang. Kamu tetap disini. Aku ambilkan pakaianmu," ucap Yudha dan segera meletakkan tubuh sang istri di atas ranjang.
Setelah itu ia berlari ke luar dan memungut pakaian Selfina yang tercecer di lantai kemudian memberikannya pada perempuan itu.
Yudha mengepalkan tangannya marah seraya melangkahkan kakinya ke arah pintu. Orang yang mengetuk pintu benar-benar tak sabar.
"Ada apa May! Kamu sudah aku bilang untuk tidak masuk kemari apa pun yang terjadi!"
"Maaf pak. Tapi..."
"Tapi apa?!"
"Yudha! Jangan marah sama Maya kayak gitu dong. Maya gak salah."
"Mama? Udah lama? Ah maaf." Yudha langsung tersenyum meringis. Ia pun meremas tengkuknya dengan perasaan tak nyaman.
Merry tersenyum. Ia pun berdiri dari duduknya diikuti oleh Yundha. Mereka berdua menghampiri sang presiden direktur yang nampak sangat kacau itu.
"Apa kami menggangu?" tanya Merry dengan senyum samar diwajahnya.
Ia sangat yakin putranya itu sedang melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan hingga Yudha tampak sangat marah karena terganggu.
"Tidak kok ma. Silahkan masuk." Yudha berusaha untuk tersenyum santai dan mempersilahkan mama dan adiknya untuk masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Mereka semua pun masuk ke dalam ruangan itu kecuali Maya.
"Mbak Selfina kemana kak?" tanya Yundha seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kerja sang kakak.
"Yudhi juga gak kelihatan. Pada kemana mereka?" Merry ikut bertanya.
"Duduk dulu dong. Kami baru saja makan dengan makanan yang dibawa oleh Yudhi. Jadi mbak mu itu lagi membersikan dirinya di dalam," ucap Yudha tersenyum.
"Oh, pantas pintunya lama gak dibuka. Rupanya lagi makan ya," ucap Merry tersenyum penuh makna. Yudha kembali meremas tengkuknya tak nyaman. Ia yakin mamanya mencurigai sesuatu.
"Mama minta maaf karena datang tanpa bilang terlebih dahulu. Itu karena mama khawatir adikmu kesini untuk menggangu hubungan kalian," ucap Merry mejelaskan maksud kedatangannya.
"Iya ma. Gak apa-apa kok. Yudhi baik-baik saja kok ma. Ia hanya ingin bekerja di sini." Yudha menjawab agar sang mama tidak khawatir.
"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga saja ia akan mengerti kalau kalian sudah menikah."
"Iya ma. Insyaallah ia akan baik-baik saja tapi mungkin bukan sekarang waktunya."
"Iya."
"Kalau begitu aku panggilkan menantu mama ya," ucap Yudha seraya melangkahkan kakinya ke tempat Selfina berada.
"Sayang, mama ada di luar. Ia ingin bertemu denganmu," ucap Yudha pada Selfina yang nampak sudah berpakaian.
"Benarkah?" tanya perempuan cantik itu dengan wajah tak percaya.
"Iya sayang," jawab Yudha seraya mengecup bibir sang istri.
"Tapi aku malu. Apa yang ada dipikirannya kalau kita..." Selfina tak melanjutkan kata-katanya karena suaminya kembali menautkan bibir mereka lagi dan lagi.
"Junior belum juga tidur Sel. Dan ya, kenapa mereka tak pernah mau memberikan kita waktu sayang," bisik Yudha dengan hasrat kembali terbakar.
"Kita keluar temui mama dulu ya, gak enak mereka nungguin."
Yudha pun melepaskan dirinya dengan tarikan nafas berat.
"Ayo kita keluar," ucap pria itu sesaat setelah tautan mereka terlepas.
Selfina tersenyum dengan berusaha menenangkan dadanya yang menggila. Mereka pun saling bertatapan dengan penuh rasa cinta.
Ternyata sembunyi-sembunyi dalam keadaan sudah halal rasanya luar biasa nikmat, begitu kata hati mereka.
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like dan komentar dong 🤭