Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 189 Kasihan Si Otong


__ADS_3

Hari pun berganti. Cinta Yundha pada Dewa semakin besar saja. Perempuan itu semakin tak ingin jauh-jauh dari suaminya. Ke kampus pun sudah tak bersemangat. Ia lebih suka kalau ikut ke kantor pria itu.


Jangan ditanya bagaimana dengan perasaan Sadewa Pranawijaya, pria itu semakin menggila saja. Cinta dan hasratnya pada perempuan cantik itu semakin menggunung saja karena berbalas.


Mereka berdua jadi pasangan termesum menyaingi Yudha dan Selfina.


Hormon kehamilan Yundha juga turut mempengaruhi dirinya yang selalu saja ingin mendapatkan kasih sayang dan juga belaian.


Ia jadi malas melakukan apapun kecuali berdandan untuk suaminya. Di setiap kesempatan ia hanya sibuk menscroll handphonenya untuk mencari deretan pakaian-pakaian seksih yang akan bisa ia pakai dan persembahkan untuk suaminya tercinta saat pria itu pulang bekerja.


Seperti hari ini, ia sedang ada final test tapi ia tak ada keinginan ke kampus dan lebih menikmati waktu berdua dengan sang suami di atas ranjang.


Dewa sih senang sekali, karena bisa bermain-main dengan perempuan itu yang pada akhirnya berlaga sampai kelelahan.


Pria itu adalah pimpinan tertinggi di perusahaannya sendiri. Ia bebas datang dan tidak datang sesuai keinginannya.


Dan sejak Yundha bisa ia taklukkan, ia hanya sesekali ke tempat kerja, selebihnya ia lakukan secara on line saja. Ia ingin mengikuti keinginan istri nya yang sangat manja dan tak ingin jauh-jauh darinya.


Dibawah selimut tebalnya, mereka berdua saling berpelukan dengan sangat posesif. Setelah sholat subuh mereka kembali ke atas ranjang untuk mengobrol santai sampai lupa waktu.


"Mas, aku mau lagi," rajuk perempuan itu dengan sangat manja. Ia bahkan dengan berani memancing Dewa terlebih dahulu. Tangannya bergerak ke dada bidang Dewa dan mengelus lembut bulu-bulu halus yang ada disana.


"Mau apa Hem?" tanya Dewa pura-pura tak tahu. Yundha langsung manyun dan menjauhkan dirinya dari pria itu.


"Lho kok ngambek sih?" tanyanya lagi dengan bibir berkedut gemas pada istrinya yang sangat cantik itu.


"Habisnya kamu gak ngertiin aku mas, ya udah kalo kamu gak mau. Aku mau ke kampus saja." Yundha langsung bersiap untuk turun dari ranjangnya tapi pinggangnya dengan cepat diraih oleh pria itu.


"Coba bilang dong mau apa, aku pasti nurutin sayang," ucap Dewa membujuk. Yundha tak menjawab dan malah berubah kesal. Ia seperti dipermainkan oleh suaminya yang sangat tak mengerti keinginannya saat ini.


"Gak usah!" balas Yundha dengan wajah kesal.


"Nda jangan kayak gitu dong. Coba deh sini bilang kamu mau apa?" tanya Dewa berusaha membujuk meskipun ia sangat tahu apa yang sangat diinginkan oleh istrinya itu.


"Aku mau ikut Final test!" Yundha mendengus kemudian berusaha melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya. Perasaannya tiba-tiba saja berubah 180 derajat. Ia jadi sangat kesal pada Dewa.

__ADS_1


"Sayang, aku 'kan tidak tahu kamu mau apa?" bujuk Dewa lagi. Ia tahu kalau bukan itu yang diinginkan oleh istrinya itu. Ia kemudian ikut bangun dan memeluk sang istri dari belakang. Tangannya melingkar pada perut Yundha yang mulai membuncit.


"Gak usah. Gak jadi!" ketus Yundha dengan perasaan kacau. Entahlah. Ia tidak tahu kenapa ia jadi sangat baper dan moodian seperti sekarang. Apalagi bunyi handphonenya terus saja mengganggu suasana hatinya saat ini.


"Nda, aku juga mau sayang. Kamu bisa merasakannya kan?" bisik Dewa ditelinga sang istri sembari menggesek-gesekkan miliknya yang sudah sangat mengeras ke bagian belakang perempuan yang hanya menggunakan lingerie seksi itu.


Yundha tak bergeming. Ia tak peduli. Ia tiba-tiba tak bisa lagi mengontrol emosinya. Dengan segera ia melepaskan dirinya dan mengangkat telpon dari temannya di kampus.


"Iya aku akan ke kampus. Gak usah nelpon terus!" ucapnya menjawab telepon itu dengan ketus. Setelah itu ia pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dewa hanya menghela nafasnya. Ia menyesal karena telah bermain-main dan pura-pura tidak tahu keinginan istrinya itu. Akhirnya ia pun duduk di tepi ranjang sembari memandang si Otong yang sudah sangat frustrasi karena tak jadi punya lawan.


"Sayang, dari tadi handphone kamu bunyi terus tuh," ucap Dewa pun meraih handphone itu dan memperlihatkannya pada sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Yundha meraih handphonenya itu kemudian menjawab, " Iya, aku akan ikut kok. Tunggu aku ya. Ambilkan satu kursi di di pojok belakang!" ucapnya menjawab telepon itu lagi.


"Kenapa harus di pojok belakang Nda?" tanya Putri dari ujung telepon.


"Kamu kayak gak tahu aja sih. Posisi bisa menentukan nilai!"


"Hahaha!" Putri tertawa terbahak-bahak.


"Iya Nyonya bos. Jangan lupa bawa contekan ya!" teriak Putri dari seberang dengan suara cemprengnya.


"Waduh. Aku belum sempat bikin nih! nanti deh aku buat dalam waktu sepuluh menit!" jawab Yundha sembari berpikir keras. Ia tak pernah belajar dan hanya sibuk bermain yang enak-enak dengan suaminya. Jadi sekarang ia butuh pelampung.


"Okey deh, Assalamualaikum, aku tutup ya."


"Waalaikumussalam."


Yundha pun menutup percakapannya kemudian membuka handuknya di depan Dewa. Ia sengaja melakukannya untuk membalas pria itu.


Dewa menghela nafasnya berat. Si Otong kembali menggeliat garang tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Yundha tampak kesal dan sengaja melakukan itu padanya.


Yundha mencibir, ia bisa melihat dari dalam kaca pria itu mengelus si Otong dengan sangat frustasi.

__ADS_1


"Mass," panggilnya dengan suara manja. Dewa tersenyum. Ia yakin ia akan mendapatkan jatah pagi ini meskipun singkat dan membuat perempuan itu mandi lagi.


"Iya sayang," balas Dewa seraya berdiri dari duduknya.


Dengan cepat ia menghampiri Yundha yang tampak sangat menarik itu. Tangannya langsung memeluk perempuan itu dari belakang dan meletakkan tangannya pada dua buah benda favorit sejuta umat milik istrinya.


Yundha menutup matanya merasakan remasan tangan besar suaminya yang sangat lembut dan berirama.


"Mass, uggh."


"Humm,"


"Bikinkan aku sekarang pelampung untuk final testnya ya," lirih Yundha dengan suara bergetar penuh hasrat.


"Iya sayang, tapi aku mandiin Otong dulu ya," jawab Dewa dengan kepala sudah penuh dengan fantasi indah dengan sang istri tercinta.


"Gak!"


"Eh kenapa?' Keinginan Dewa langsung buyar dan hancur berkeping-keping.


"Aku nanti telat. Jadi bikinkan sekarang mas!" titah Yundha dengan tegas.


"A-apa? Maksudnya mata kuliah apa sayang?" tanya Dewa dengan wajah berubah serius.


"Pernahkan syariah. Waktu mas hanya sampai aku selesai berpakaian!"


"Ah iya, baiklah. Tapi pulang kampus aku jemput ya. Gak tahan nih sayang."


"Terserah!"


Dewa menghela nafas beratnya lagi dan lagi.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Kasihan si Otong. Eh ada sedekah Vote gak?


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2