Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 71 Karena Dia Milikku


__ADS_3

Bugh!


Yudha membanting pintu mobilnya dengan keras kemudian masuk ke dalam rumahnya. Ia baru saja pulang dari kunjungan kerjanya di Belanda.


Sepi, tak ada seorang pun anggota keluarga maupun pelayan yang menjemputnya di ruang tamu maupun ruang keluarga.


Apa semua penghuni rumah pada pergi?


Apa mereka ke lapas untuk menjenguk papa?


Ah sudahlah. Aku lelah. Pengen tidur.


Ucapnya dalam hati kemudian melanjutkan tujuannya ke arah kamarnya.


Baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ke arah kamarnya yang berada di lantai dua, hidungnya sudah bisa mencium aroma panggangan kue yang sangat khas. Belum lagi suara candaan adik-adiknya dengan seseorang.


Ia pun menghentikan langkahnya kemudian memutar arah.


Pantas saja rumah tampak sepi ternyata semua orang berkumpul di dapur, begitu pikirnya.


Ia pun segera turun dari tangga dan melupakan rasa lelahnya. Keriuhan mereka di dapur jarang sekali terjadi jadi ia harus melihat ada apa disana.


"Selfina?" gumamnya.


"Kamu disini?" ucap Yudha saat melihat gadis yang sangat ia rindukan itu ada di dalam dapurnya.


Gadis itu baru saja mengeluarkan sebuah loyang yang berisi kue kering dari dalam oven.


Selfina tercekat. Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan dengan dada yang sama-sama berdebar kencang. Yudha tersenyum samar, hatinya sangat senang. Selfina pun sama, ia juga tersenyum dengan senyum manisnya.


Gadis itu mengangkat loyangnya dan memperlihatkannya pada Yudha untuk menunjukkan kalau ia sedang sibuk.


Yudha mendekat dan tak memperdulikan adik-adiknya yang sedang sangat riuh bermain di tempat itu. Ada yang menabrak kaki panjangnya tapi ia abaikan saja.


Lelahnya menguap entah kemana. Ia terlalu senang dengan kehadiran gadis pujaannya ada di dalam rumahnya.


Matanya begitu takjub melihat gadis itu berada di dalam dapurnya dengan tampilan menggunakan sebuah celemek seolah-olah ia adalah seorang pemilik dapur itu.


Otaknya mulai membayangkan kalau Selfina adalah istrinya dan ia ingin sekali mencium dan memeluk gadis itu saat ini juga.


Sisa lima langkah ia sampai di depan gadis itu hingga ia tiba-tiba menghentikannya.


"Aku yang membawanya kesini kak!" ucap Yudhi dari arah belakangnya.


"Jadi jangan macam-macam!" tegas sang adik yang tiba-tiba saja muncul di dalam dapur itu juga. Tak main-main pria itu langsung memberinya sebuah peringatan.

__ADS_1


Yudha tersentak kaget. Ia pun menoleh kearah Yudhi yang sedang berjalan ke arahnya.


"Mbak Selfina kesini karena permintaan aku, benar 'kan mbak?" ucap Yudhi dengan perasaan yang sangat senang. Ia memandang wajah Selfina dengan tatapan tak biasa. Dan Yudha sangat tahu itu.


"Ah iya pak. Kata mas Yudhi, ada acara keluarga di sini dan saya diminta untuk datang," ucap gadis itu masih dengan senyumnya.


Mas Yudhi?


Akrab benar!


Berapa lama aku tinggalkan tempat ini sampai terasa sangat lama sekali?


Yudha menghela nafasnya berat dengan tangan mengepal disisi kanan kiri tubuhnya.


"Selfina itu sektretaris pribadi aku Di, jadi seharusnya kamu meminta izin padaku terlebih dahulu sebelum membawanya kemanapun!"


Yudha tampak berang. Ia marah karena sepertinya gadis itu lebih kompak dan juga senang pada adiknya.


"Eh, ini sudah diluar jam kerja kak. Jadi wajar kalau aku tidak minta izin. Mbak Sel bebas melakukan apa saja dan mungkin pergi kemana saja yang ia inginkan."


"Benarkah? Selfina, buka email kamu sekarang juga!" titah pria itu pada Selfina yang langsung dijawab dengan mata melotot dari gadis cantik itu.


"Dan pastikan sanksi untukmu kamu lakukan dengan benar," lanjut Yudha dengan perasaan yang sangat marah dihatinya.


"Aku tunggu di kamar!" titah pria itu dengan wajah kesalnya. Ia pun meninggalkan dapur dan pergi menuju kamarnya.


"Kenapa malah menunggu di kamarnya? Memangnya sanksi apa yang akan diberikan oleh kak Yudha pada mbak?"


"Gak apa-apa mas Yudhi. Saya memang salah karena telah meninggalkan perusahaan tanpa izin selama beberapa hari. Dan saya rasa saya memang harus menerima sanksi yang diberikan oleh pak presdir."


Selfina menundukkan wajahnya dengan perasaan campur aduk. Ia pun menyimpan loyangnya kemudian bersiap menuju ke kamar pria itu.


"Jangan kesana. Biar saya saja yang kesana Kalau ada sanksi untuk mbak Sel, saya yang akan melakukannya. Siapkan saja makan malamnya." Yudhi menahan langkah gadis itu yang ingin meninggalkan dapur.


"Tapi mas, saya gak enak hati sama pak presdir." Selfina masih berusaha untuk pergi tapi Yudhi melarangnya dengan keras.


"Ini aturan mas. Jadi saya akan menjelaskan kesalahan saya itu. Tidak apa-apa kok. Pak Yudha insyaallah bisa mengerti."


"Saya bilang mbak di sini saja. Kak Yudha memang sangat resek dan menyebalkan. Jadi biarkan saya yang menemuinya."


"Tapi mas,"


"Kerjakan saja yang ingin mbak kerjakan. Makan malam juga sebentar lagi."


"Ah iya deh mas," ucap gadis itu pasrah. Meskipun ia tahu kalau Yudha akan sangat sulit untuk menerima kalau keinginannya tidak terpenuhi.

__ADS_1


Selfina mengalah. Ia pun segera melanjutkan memanggang kuenya untuk ia hias nantinya. Sedangkan Yudhi langsung kabur ke arah kamar sang kakak.


Selfina lega karena dengan begitu ia bisa melanjutkan pekerjaannya dan pulang ke rumahnya sendiri untuk beristirahat meskipun ia tahu kalau Yudha pasti akan selalu memburunya kemanapun.


Yudhi membuka pintu kamar sang kakak dan melihat pria itu tampak sangat gelisah dengan berjalan hilir mudik bagai sebuah setrikaan.


"Kak," panggil pria itu saat ia sudah berada di dalam kamar sang kakak. Yudha menoleh dan menatap Yudhi dengan tatapan tak suka.


"Bukan kamu yang aku harapkan datang disini!" ucap Yudha dengan rahang mengeras.


"Oh, jadi mbak Selfina yang sedang kamu harapkan? Kamu pikir sekretarismu mau menuruti semua keinginanmu hem?"


"Tentu saja. Ia adalah sekretaris pribadi aku. Ia harus melakukannya. Lalu kenapa kamu yang sewot!" Yudha memandang sang adik dengan tatapan membunuh.


"Apakah kakak tidak merasa sangat egois hah?"


"Egois kenapa? Selfina itu milik aku. Ia sekretaris pribadi dan mulai saat ini ia harus melayaniku selama 24 jam. Dan tidak ada yang boleh protes!"


"Apa? Kamu pikir ada yang mau bekerja denganmu seperti itu kak?"


"Tentu saja. Lalu kenapa? Apakah kamu menyukai gadis itu?" Yudha menatap sang adik dengan tatapan tajam.


"Iya. Aku menyukai mbak Selfina dan ingin menjadikannya istri. Kak Yudha pun tak bisa menghalangi aku melakukannya."


"Apa? Jangan mimpi!" Yudha langsung merangsek maju ke hadapan sang adik dan mencengkram erat kerah baju pria itu.


"Kenapa?" tanya Yudhi dengan senyum miringnya.


"Karena Selfina itu milikku dan akan menjadi kakak iparmu, mengerti kamu?!"


"Hah?!" Wajah Yudhi langsung memucat untuk beberapa detik.


Ia tak pernah menyangka akan mendengar kabar seperti ini dari sang kakak.


"Belum jadi istri, aku masih punya kesempatan!" tegas Yudhi dan segera melepaskan dirinya dari sang kakak.


Ia harus mendekati Selfina dengan lebih intens lagi agar bisa mendapatkannya sebelum ia kalah.


"Heh! Mau kemana kamu?!" teriak Yudha marah.


"Mendapatkan hati mbak Selfina!"


"Sialan kamu Di!"


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan Komentar ya 😬😅😍


__ADS_2