Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 81 Waktu Mepet


__ADS_3

"Baiklah, saya akan menculik Selfina!"


"Apa?!" Praja dan Ardina langsung berdiri dari duduknya karena kaget. Mulut mereka membola.


"Kenapa? Gak percaya ya!" ucap Yudha dengan bibir mencibir seraya ikut berdiri dari duduknya. Ia sudah tidak sabar dengan tingkah dua orang kasmaran yang lupa dunia sekitarnya itu. Ia seperti sedang dipermainkan.


"Tenang, kita akan bantu kok tapi jangan pernah berniat menculik anak orang. Gak baik!" Praja berucap berusaha menenangkan.


"Jangan sampai image buruk pak Maher malah semakin kuat saja menempel pada kamu bro," lanjutnya lagi.


"Lalu? Solusinya apa pak Praja? Saya ada banyak pekerjaan di ibukota. Saya sudah hampir dua hari berada disini, dan belum juga mendapatkan Selfina." Yudha belum juga menunjukkan kalau ia bersabar.


"Baiklah, kami akan menemani kamu melamar ulang Selfina. Tapi ingat! Kamu harus berjanji untuk benar-benar membahagiakan Selfina."


"Tentu saja. Saya sangat mencintainya. Dan akan saya buat dunia ini adalah milik kami berdua!"


"Kami pegang kata-kata anda pak Yudha. Saya dan istri yang akan menjadi jaminan kalau pak Yudha adalah calon suami yang baik. Jadi jaga nama baik kami dan jangan pernah membuat Selfina tidak bahagia."


"Hum, baiklah. Ayo kita berangkat sekarang." Yudha langsung meraih handphone dan kunci mobilnya dari atas meja.


"Cih! Tidak sabaran sekali!" Praja berdecih dan Yudha kembali mencibir.


"Saya tidak seperti anda ya pak Praja, yang tahan berpisah dengan seorang istri yang sangat cantik selama tiga tahun. Satu hari saja saya dan Selfina tidak bertemu rasanya seratus tahun!"


"Oh ya ampun hahahaha!" Ardina langsung tertawa dengan perumpamaan yang diucapkan oleh Yudha, sang mantan bos.


"Kamu nyindir ya?!" ujar Praja tersinggung.


"Mau minta tolong atau gimana nih?!" lanjut pria itu berpura-pura marah.


"Minta tolong sekaligus nyindir. Puas!" jawab Yudha tetap tak mau kalah.


"Hum, baiklah. Karena pak Yudha, seorang presiden direktur sedang sangat memaksa maka kami akan segera bersiap. Es jeruknya bisa dihabiskan lagi pak. Gratis!"


"Cih! Awas ya," ucap Yudha kemudian kembali duduk dan benar-benar meminum es jeruk yang disuguhkan untuknya. Sementara itu Praja dan Ardina memasuki kamar mereka untuk bersiap.

__ADS_1


Ardina membuka lemari pakaian dan mulai memilih pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk melamar Selfina secara resmi sementara itu Praja menelpon beberapa toko terdekat untuk membawakan hampers untuk seserahan pada keluarga Gani Sanjaya.


Pria itu bahkan keluar kamar lagi untuk menanyakan kesiapan sang calon pengantin.


"Semua identitas pak Yudha dah lengkap belum nih?" tanyanya pada Yudha yang sedang bermain mobile Legend pada handphonenya.


"Sudah pak. KTP dan kartu keluarga juga ada kok."


"Cincin dan mahar udah siap juga 'kan?" tanya Praja lagi.


"Emangnya kita langsung akad ya pak? Bukankah lamarannya belum diterima," ucap Yudha dengan wajah serius.


"Yah, untuk siap-siap saja sih. Kalau pak Gani setuju kita langsung gas pol. Untuk kebaikan gak boleh ditunda-tunda 'kan?"


"Yah, betul juga pak. Kalau bisa sih saat ini juga saya ingin menghalalkan Selfina pak. Udah gak sabar, hehehe," kekeh Yudha dengan kepala membayangkan bibir manis gadis itu yang tak pernah bosan ia sentuh.


Praja mencibir kemudian berucap, " Saya akan menghubungi om dari kantor KUA agar bisa ikut bersama dengan kita supaya pak Gani tidak meragukan niat baik ini."


"Wah, terimakasih banyak pak Praja. Saya pasti akan membalas kebaikan bapak sekeluarga dengan berinvestasi besar pada perusahaan bapak," ucap Yudha dengan perasaan haru.


"Cih! Membantu tapi pamrih!"


"Ah sudahlah, kalau begitu saya kembali ke kamar untuk bersiap. Insyaallah kalau untuk hal yang baik, Tuhan pasti memberikan kemudahan."


"Aamiin ya Allah," ucap Yudha dengan wajah cerahnya.


"Okey pak Yudha, saya tinggal ke dalam ya." Praja pun pamit dan segera memasuki kamarnya untuk melihat kesiapan sang istri.


Mata elang pria itu langsung berkilat dengan bibir tersenyum saat melihat sang istri berdiri di depan cermin sedang mematut diri dengan underwear saja.


"Seksi," ucap Praja seraya mendekat ke arah Ardina yang sedang mengelus perutnya yang sudah sangat membuncit.


"Tubuhku gak menarik lagi ya kak?" rajuk Ardina seraya berputar-putar di depan kaca besar di dalam kamar itu. Tangannya sibuk mengukur anggota tubuh lainnya yang juga bertambah ukurannya.


Dadanya, perutnya, hingga bagian belakangnya yang semakin berisi dan juga montok.

__ADS_1


"Kamu menggoda aku sayang?" bisik Praja seraya meremas bagian belakang istrinya yang hanya berbalut panty yang sangat tipis. Bibirnya pun mulai menyusuri bahu putih sang istri.


"Gak kak. Aku cuma merasa kurang menarik lagi," jawab Ardina seraya menikmati pergerakan bibir dan tangan suaminya yang sangat memanjakan dirinya itu.


"Kamu seksih sayang, sangat seksih," bisik Praja dengan suara bergetar. Ardina sangat senang mendengarnya. Ia terbuai dengan perasaan yang sangat bahagia.


Praja segera membawa tubuh istrinya ke atas sebuah sofa yang ada di depan kaca besar itu. Ia kemudian berlutut didepan Ardina dengan tatapan penuh hasrat.


"Sayang, boleh nyicip bentar gak?" ucap Praja seraya meremass lembut kedua aset sang istri yang semakin besar saja karena kehamilannya.


Ardina tersenyum penuh arti pada suaminya, ia mengizinkan sang suami melakukan apa saja pada dirinya.


"Boleh dong kak, tapi jangan lama-lama ya, nanti pak Yudha kebakaran lagi di luar hihihi," balas Ardina cekikikan. Praja balas tersenyum dengan mata berbinar.


Ia langsung mengarahkan tangannya membuka pengait bra sang istri agar ia bebas menyicipi dua benda kenyal putih dan sangat menantang itu.


"Oh ya Allah, kamu indah sekali sayang," ucap Praja memuji saat semuanya sudah terbuka di hadapannya.


Ardina tak bisa berbuat banyak. Ia menikmati saja apa yang dilakukan oleh suaminya. Praja memang ahli membuat dirinya selalu melayang.


Ardina memohon agar suaminya menghentikan aksinya karena ia khawatir kalau Yudha sedang menunggunya di luar sana.


Pria itu peduli. Hingga mereka melakukan hal yang sangat indah itu secepat kilat.


Kedua orang itu menggapainya dengan rasa yang tak terbendung. Perempuan cantik itu akhirnya tak kuasa untuk menyebut nama suaminya dan meminta Praja melakukannya lebih cepat.


Mereka mendayung ditengah-tengah waktu yang sangat mepet yang mereka miliki. Tak peduli lagi pada perasaan Yudha yang sangat tak sabaran di luar sana. Keinginan keduanya adalah mereka berdua tuntas kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah Selfina.


Menit berikutnya, Praja mengerang sangat nikmat saat pitonnya kembali muntah di dalam istana indah sang istri.


"Terimakasih sayang, kamu sangat lezat dan nikmat," bisik Praja seraya mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi. Mereka harus mandi dan segera keluar dari kamar itu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan komentar ya gaess 🤭


__ADS_2