Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 134 Ketakutan Yundha


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Merry sudah berada di ruang makan untuk menemani Art mempersiapkan sarapan pagi.


Pagi ini adalah pagi pertama menantunya menginap di rumah sejak pernikahan sembunyi-sembunyi mereka. Jadi ia harus ada di sana untuk melakukan sarapan bersama sebelum keduanya kembali ke perusahaan untuk bekerja.


"Assalamualaikum ma," sapa Selfina saat ia sedang menata makanan di atas meja.


"Waalaikumussalam sayang. Lho udah siap ya?" jawab perempuan paruh baya itu dengan senyum diwajahnya.


"Iya ma. Aku harus lebih dulu berangkat daripada mas Yudha, gak boleh barengan nanti para karyawan curiga sama kita berdua ma," jawab Selfina kemudian duduk di kursi dan langsung memulai sarapannya.


"Sampai kapan kalian mau sembunyi-sembunyi seperti ini terus? Gak capek apa?" ucap Merry dengan wajah sedikit kesal.


"Capek Lah ma, tapi aku terserah mas Yudha aja sih," jawab Selfina dengan wajah tak nyaman.


"Pokoknya mama gak mau kalian menyembunyikan pernikahan kalian. Itu gak benar lho karena bisa menimbulkan fitnah."


Yudha yang baru datang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang mama.


"Yudh! Mama gak mau kalau status kalian seperti ini terus. Kasihan istrimu." Yudha hanya tersenyum kemudian mencium pipi sang istri. Setelah itu ia duduk di samping kursi Selfina.


"Akan ada waktunya ma. Sabar aja," jawab Yudha dengan santai.


"Eh jangan ngomong seperti itu terus. Dari kemarin kamu bilang akan ada waktunya. Mama gak mau dengar cerita orang di luar sana kalau kamu melakukan hal seperti ini lho!"


"Sabar dong ma, gak akan lama kok. Ini juga udah mau rapat dengan dewan direksi agar peraturan di perusahaan itu bisa ditinjau ulang dan juga agar segera bisa dihapus dari salah satu aturan Maher Group."

__ADS_1


"Nah gitu dong. Mama 'kan jadi lega jadinya," ucap Merry dengan senyum diwajahnya.


"Sekarang mama jadi tenang. Mama 'kan udah mau menimang cucu dari kalian sayang," lanjutnya. Ia pun menarik kursi dan juga segera duduk. Tapi kemudian ia berdiri dari duduknya karena teringat sesuatu.


"Yundha kok belum keluar kamar ya? Mama juga semalam gak lihat dia pulang," ucapnya kemudian segera ke kamar sang putri bungsu.


Yudha tersentak kaget. Ia juga sejak semalam menghubungi sang adik tapi tidak dijawab.


"Kamu gak lihat Yundha pulang semalam?" tanya Yudha dengan tatapan lurus kedalam mata sang istri.


"Gak mas. Aku gak lihat padahal aku sama mama ngobrolnya lama di ruang keluarga," jawab Selfina kemudian segera menghabiskan sarapannya.


"Yundha gak ada di kamarnya Yudh. Gak biasanya anak itu gak pulang. Mama kok jadi khawatir ya?" ucap Merry yang baru tiba di ruangan itu lagi.


"Telfon lagi deh!" titah perempuan paruh baya itu dengan wajah khawatir.


"Gak tersambung ma. Gak aktif," ucap Yudha seraya menata layar handphonenya.


"Duh kok gak aktif sih!" Merry tampak semakin takut dan khawatir.


"Tenang ma, aku akan hubungi anak-anak di Cafe. Mungkin mereka tahu dimana sekarang Yundha berada," ucap Yudha menenangkan.


Pria itu pun berusaha mencari tahu dengan mencari kontak para karyawan di Cafetaria tempat sang adik bekerja.


"Aku udah hubungi semua orang semalam tapi mereka tahunya Yundha masih berada di Cafe sama CS," ucap Yudhi yang tiba-tiba saja ada di ruang makan itu.

__ADS_1


Semua orang langsung bertatapan dengan perasaan yang sangat khawatir. Mereka takut ada hal buruk yang terjadi pada adik bungsu mereka.


🌹


Perempuan muda itu membuka kelopak matanya perlahan. Setelah ia berhasil mengumpulkan nyawanya ia pun bangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa remuk. Belum lagi kepalanya yang ia rasakan sangat sakit.


"Aaakh," keluhnya karena sebuah rasa perih ia rasakan di antara pangkal pahanya.


"Hey! Ada apa ini? Kenapa aku tidak memakai pakaianku?" tanyanya dengan suara tercekat. Sebuah pikiran buruk mulai bermunculan di dalam benaknya apalagi melihat pria yang ia temani semalam ada di sampingnya tanpa mengenakan pakaian sehelai pun seperti dirinya.


Yundha merasakan tubuhnya gemetar karena ketakutan. Ia pun segera menyingkirkan tangan Dewa dari atas tubuhnya dengan perasaan yang sangat marah dan juga khawatir.


Ia bangun perlahan karena rasa nyeri yang teramat sangat dari daerah intimnya.


Ia sangat yakin, pria yang bernama Dewa itu telah melakukan sesuatu yang sangat kejam padanya semalam saat ia sedang tidak sadar.


Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi ia pun menggunakan pakaiannya kembali. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam tapi satu yang ia tahu adalah ia harus pergi sebelum pria itu bangun dari tidurnya.


Perempuan muda itu berharap ia baik-baik saja meskipun hati kecilnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Ada cairan putih dan kental yang masih sangat terasa diantara pangkal pahanya.


"Oh tidak?!" ucapnya khawatir. Wajahnya seketika menjadi pucat membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya dari kejadian naas ini.


"Apa aku akan meminta tanggung jawab?"


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2