
Setelah tahu apa yang terjadi pada Selfina, Yudha langsung meninggalkan ruangan aula itu menuju rumah sakit. Ia sungguh sangat khawatir dan menyesalkan kejadian ini.
Selfina sendiri masih sangat bersedih. Ia belum juga berubah ceria meskipun ibu mertuanya selalu memberinya dorongan semangat. Bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.
Tak jauh beda dengan Selfina yang sedang bersedih. Yundha juga merasakan hal yang sama. Ia khawatir dan juga takut dengan keadaan tubuhnya.
Ia ingin membeli tespeck tapi ia malu dan juga takut karena Aril sedang bersamanya. Ia seorang dokter dan pastinya sangat tahu apa kegunaan benda itu. Akhirnya ia hanya diam saja saat pria itu membawanya makan siang di sebuah restoran di sekitar rumah sakit.
"Nda, aku sudah lama menantikan waktu ini, " ucap pria itu setelah mereka menghabiskan makanan dihadapan mereka.
Aku juga kak
Yundha membatin dengan dada berdebar.
"Aku bukan pria romantis Nda. Dan juga susah mengungkapkan perasaan." Aril menarik nafas dalam-dalam karena sudah mulai gugup.
"Aku sudah diterima di Rumah Sakit menjadi dokter tetap di sana."
Yundha tersenyum. Ia sangat bahagia mendengar kabar baik itu.
"Selamat kak. Alhamdulillah. Kakak udah bisa langsung kerja dong," balasnya dengan wajah cerahnya.
"Iya. Aku juga sangat senang. Untuk itu aku ingin segera menikahimu Nda," ucap Aril yang langsung membuat gadis itu tercekat. Ia tak menyangka akan mendapatkan lamaran dari seseorang yang sudah lama ia sukai sejak ia masih SMA.
Matanya tiba-tiba ia rasakan berkaca-kaca. Ia ingin menangis karena bahagia. Cintanya terbalas, dan itu sangat disyukurinya.
"Nda, maukah kamu menikah denganku?" pinta Aril seraya membuka sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin berlian yang sangat indah. Ia menyodorkannya pafa gadis itu.
Yundha tersenyum dan menggerakkan tangannya untuk meraih cincin itu tapi tiba-tiba saja ia merasa ragu. Ia jadi ingat bahwa dirinya bukanlah gadis suci seperti perkiraan pria itu. Seseorang telah merenggut sesuatu yang dibangga-banggakannya sebagai seorang perempuan.
Aril menunggu tapi gadis itu diam saja.
"Kenapa? Apa kamu telah mempunyai seseorang di hatimu Nda?" tanya Aril dengan hati yang sangat kecewa. Yundha tidak menjawab tapi malah menangis sesenggukan.
"Hey. Jangan menangis. Aku memang kecewa tapi aku tidak akan memaksamu Nda." Aril berusaha untuk tampak baik-baik saja padahal ia sangat kecewa dan sakit hati.
__ADS_1
"Maafkan aku kak, hiks," ucap gadis itu kemudian berlari ke Toilet. Ia sungguh ingin menangis dan menumpahkan semua rasa sedihnya di tempat itu.
Aril menatap kotak kecil berbentuk hati itu dengan hati teriris sakit. Empat tahun ia memendam perasaan ini tapi justru ketika ia merasa siap untuk menyatakan perasaannya hati Yundha ternyata sudah diisi oleh orang lain.
Pria itu pun meremas kotak kecil itu dengan perasaan yang sangat hancur.
"Maaf, bisa saya duduk di sini?" ucap seseorang yang tidak dikenal oleh pria itu. Aril mendongak. Seorang pria tampan dengan wajah kebarat-baratan sedang berdiri di hadapannya dengan menggunakan setelan jas lengkap.
Aril yakin kalau pria itu baru saja menghadiri sebuah acara yang sangat penting.
"Silahkan," ucap pria itu mempersilahkan.
"Kenalkan, saya Dewa. Saya pemilik restoran ini dan sangat senang dengan kunjungan anda," ucap Dewa memperkenalkan dirinya. Aril tersenyum kemudian segera menyimpan kotak kecil berisikan cincin itu ke dalam saku celananya. Ia tak mau kalau pria itu tahu kalau ia baru saja ditolak.
"Eh iya pak Dewa. Pelayanan di sini cukup bagus dan juga sangat ramah. Jadi kurasa, saya akan sering-sering datang kemari."
"Eh terimakasih mas, maaf saya bisa memanggil anda siapa?"
"Aril pak."
"Iya pak. Dia lagi ke Toilet," jawab Aril dengan seulas senyum diwajahnya. Dewa balas tersenyum kemudian berpamitan, " Pesan apa saja mas. Semuanya aku yang traktir. Dan ya, nikmati hati anda di tempat ini. Aku ada keperluan sejenak, permisi."
"Ah iya pak. Terimakasih banyak." Aril pun memandang kepergian pria tampan dan gagah itu dengan perasaan tak terbaca. Ia begitu heran dengan kebaikan pria pemilik restoran ini padahal ia adalah pengunjung baru.
Sementara itu, Yundha masih di dalam Toilet menangisi nasibnya.
Maafkan aku kak. Sungguh, aku sangat ingin menjadi istrimu tapi keadaanku?
Brengsek kamu Dewa bajingan!
"Aaaaaaa!"
Gadis itu tanpa sadar berteriak keras sampai beberapa perempuan yang ada di dalam toilet itu langsung memandangnya dengan wajah serius.
"Eh maaf," ucapnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Semuanya pun kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dan ia juga kembali mengumpat seraya menatap kaca di hadapannya. Wajah pria itu tiba-tiba saja muncul di sana dan tersenyum padanya dengan sangat menyebalkan.
Brengsek! Awas kamu bajingan! Akan aku pastikan kamu akan menderita dan tak akan bisa tersenyum lagi!
Ia terus mengumpat saking bencinya ia pada pria itu hingga ia lupa dengan keberadaan Aril di luar sana.
Setelah merasa puas menangis dan mengumpat dalam hati, ia pun mencuci wajahnya dengan air dingin untuk membuatnya lebih segar.
Ia pun keluar dari sana dengan perasaan yang sedikit lebih baik tapi tiba-tiba saja pinggangnya direngkuh oleh seseorang dan langsung dibawa ke sebuah ruangan.
"Hey lepaskan aku brengsek!" teriak Yundha saat menyadari kalau Dewa lah yang melakukan semua ini.
Dewa segera melepaskan gadis itu dan tiba-tiba saja langsung mendapatkan satu tamparan keras di pipinya.
"Dasar bajingan! Brengsek!" teriak Yundha lagi dengan dada naik turun menahan emosinya. Ia begitu marah melihat pria itu ada di hadapannya lagi saat ini.
Dewa tidak menjawab. Ia hanya mengelus pipinya yang terasa sangat panas akibat tamparan dari gadis itu.
"Biarkan aku keluar dari tempat ini!" ucapnya seraya mendorong tubuh pria itu dari hadapannya agar ia bisa lewat. Akan tetapi Dewa segera meraih pinggangnya dan mengangkatnya bagai karung goni. Ia membawanya keluar dari ruangan itu dan langsung lewat pintu belakang menuju mobilnya.
Ia tak peduli kalau gadis itu berteriak meminta tolong. Tempat itu adalah daerahnya dan semua orang takut padanya. Yang ia takutkan hanyalah gadis itu akan pergi lagi darinya.
Brumm
Dewa melajukan mobilnya setelah menyimpan tubuh Yundha di bagian depan kendaraan itu.
"Hey! Brengsek! Tidak tahu malu! Turunkan aku!" teriak Yundha tapi Dewa sama sekali tidak peduli. Ia terus saja melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi menuju sebuah tempat yang sangat istimewa.
Sementara itu, Aril langsung pulang dengan hati yang semakin hancur saat mendapatkan secarik kertas dari pelayan restoran kalau gadis yang ditemaninya datang harus pergi tiba-tiba karena ada urusan yang sangat penting.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊