
David membangunkan Revalda saat pesawat sudah mendarat di bandara internasional Narita Jepang. Waktu sudah menunjukkan malam di negara sakura itu.
"Sayang ayo bangun. Alhamdulillah kita sudah tiba di tempat bulan madu kita," ucap David seraya mengecup pipi sang istri yang masih betah menutup matanya.
Sebuah Headset sedang dipakai perempuan cantik berhijab itu hingga ia tak mendengar perkataan sang suami. Tidurnya betul-betul sangat lelap sampai bibirnya yang agak tebal itu terbuka sedikit.
David tersenyum kemudian meraih bibir yang sangat ia sukai itu dan mengulumnya sangat lembut.
Revalda langsung membuka matanya ketika menyadari kalau bibirnya sedang dalam kuasa seseorang. Perempuan cantik itu langsung mendorong tubuh David agar tautan bibir mereka terlepas. Ia terlalu kaget dengan apa yang barusan terjadi.
"Udah bangun sayang?" tanya David dengan ibu jari mengelus lembut bibir sang istri yang nampak basah dengan salivanya.
Revalda tampaknya belum sadar betul. Ia hanya menatap suaminya dengan tatapan bingung.
"Mau minum dulu?" tanya David seraya memberikan sebuah tumbler berisi air putih kepada sang istri.
"Makasih," ucap Revalda tersenyum. Setelah itu ia pun meminum air itu dengan dua kali tegukan.
"Kita udah sampai sayang," ucap David lagi memberikan informasi.
"Iyyakah?" tanya Revalda seraya meregangkan otot-ototnya lalu memandang keluar ke arah jendela kecil yang ada di sampingnya.
Lampu-lampu kecil yang sangat banyak tampak di depan matanya. Hal itu menunjukkan kalau mereka telah sampai di daratan setelah beberapa jam berada di atas udara.
Burung terbang itu terguncang sedikit sebelum benar-benar berhenti. Setelah itu terdengar pengumuman dari staf kabin pesawat kalau semua penumpang Japan Air lines telah tiba dengan selamat dan mereka berterima kasih karena telah mempercayakan jasa penerbangan ini pada maskapai mereka.
Pengumuman berikutnya adalah, bahwa pintu pesawat pun akan segera terbuka dan mereka meminta untuk para penumpang agar memperhatikan barang-barang mereka dan tidak meninggalkan sampah.
Mereka pun turun dari pesawat dan segera mengambil gambar untuk dikirimkan kepada keluarga di Indonesia kalau mereka sudah tiba di negara yang bermata uang Yen itu.
Setelah informasi itu mereka kirimkan, mereka pun menuju sebuah ruangan untuk menunggu tas dan koper mereka dari bagasi pesawat.
"Gak nyangka aku mas, bisa sampai di Tokyo bersama dengan seorang suami," ucap Revalda seraya memeluk lengan suaminya dengan sangat posesif.
"Pernah membayangkan gak kamu akan bersama dengan pria tampan seperti aku," ucap David narsis. Ia sangat senang karena istrinya itu nampak sangat bahagia bersama dengannya.
"Pernah sih. Waktu aku kecil dan aku sangat mengidolakan seorang pria cerdas anak Tante Ar. Dan ternyata itu adalah kamu mas," ucap Revalda dengan tatapan penuh cinta pada sang suami.
"Hahahaha. Ternyata kita sama, aku juga sejak dulu suka kamu Val, sejak kita kecil."
Wajah Revalda langsung terasa sangat panas karena bahagia. Kepalanya terasa membesar dengan hidung kembang kempis.
"Duh, pengantin baru. Seolah-olah dunia ini milik sendiri. Semua orang hanya dikira ngontrak," sindir Sarah yang tiba-tiba ada di samping mereka.
Revalda tersentak kaget dan langsung melepaskan pelukannya pada lengan sang suami. Akan tetapi David menarik lagi tangan sang istri agar tidak menjauh dari dirinya.
__ADS_1
David tersenyum kemudian menjawab, "Bagus dong kalau kamu ngerasa ngontrak. Jadi kamu tahu adabnya orang ngontrak 'kan?"
Sarah mendengus pelan. Ia tak menyangka kalau David bisa seperti itu padanya. Padahal ia sudah memaksa pihak kampus untuk ikut seminar ini karena ada David. Tapi ternyata kenyataannya sangat menyakitkan.
"Mending kamu ambil tas kamu cepat karena bus yang akan membawa kita ke hotel udah lama nungguin kita di depan," ucap David seraya mengambil tas dan koper milik istrinya dan dirinya sendiri. Setelah itu pergi dari tempat itu meninggalkan Sarah dan yang lainnya yang masih menunggu tas dan bawaan mereka.
Sarah membuang nafasnya kesal. Tak ada lagi harapan baginya untuk mendapatkan David. Dan rasanya ia menyesal ikut seminar ini karena ia tak akan bisa mendapatkan David.
Rombongan dari Indonesia itu segera naik ke atas bus travel yang akan mengantar mereka ke sebuah hotel yang bernama Tokyo Dome Hotel yang jaraknya 1,60 km dari universitas Tokyo.
Revalda menikmati perjalanan malam itu dengan perasaan yang sangat senang dan juga bahagia. Tak berhenti ia bercerita kalau papanya juga sering membawanya ke luar negeri bersama dengan sang mama dan juga Fariz.
David hanya menyimak dengan baik sambil sesekali mengecup bibir istrinya yang tak berhenti bicara.
"Ish. Kasih komentar kek jangan cuma icip-icip terus," gerutu Revalda dengan bibir cemberut.
"Aku mau komentar apa sayang. Semua negara yang pernah kamu kunjungi juga pernah aku datangi."
"Ya udah kalo begitu. Aku diam saja."
"Eh, gak begitu juga sayang. Ramai lho kalau kamu ngomong terus. Aku jadi gak ngantuk."
"Ish!"
David sendiri sedang sibuk berbalas pesan entah dengan siapa. sampai tak lama kemudian, mereka pun tiba di hotel tempat mereka akan menginap selama beberapa hari ke depan.
David cepat-cepat melapor pada resepsionis tentang bookingan kamarnya. Ia melapor bahwa ia dan Revalda tak akan memakai fasilitas negara yang membiayai perjalanan ini.
Ia ingin memesan kamar eksklusif dengan biaya sendiri yang akan mereka berdua gunakan untuk berbulan madu.
Setelah urusan administrasi selesai, ia pun membawa istrinya ke sebuah kamar yang sangat mewah. Ia ingin memberikan hal yang terbaik untuk perempuan yang sangat dicintainya itu.
Revalda masuk ke dalam kamarnya setelah dipersilahkan oleh sang suami. Perasaan perempuan itu sangat bahagia. Ia pun langsung melompat ke atas ranjang king size yang ada di dalam ruangan kamar itu.
Suasana kamar yang sangat indah dan memberikan nuansa romantis itu membuat hatinya berdesir. Cerita dan kisah tentang bulan madu indah kini sudah nampak di depan matanya.
"Kita makan dulu ya sayang, trus sholat lanjut deh sunnah Rasul," ucap David dengan bibir menyunggingkan senyum penuh makna.
Revalda balas tersenyum dengan alis terangkat. Ia cukup tertarik dengan kata terakhir suaminya. Sunnah Rasul, rasanya itu membuat dadanya langsung berdebar.
"Ayok sayang. Udah lapar nih," ucap David lagi seraya membuka sebuah tas khusus makanan yang sudah dibuatkan oleh mama mertuanya yang sangat jago memasak.
"Emangnya kita gak makan di luar?" tanya Revalda kemudian turun dari ranjang itu.
"Gak ah, malam ini kita makan ini saja dulu, roti isi daging sapi buatan mama Sel, aku rasa ini cukup kok untuk mengganjal perut sebelum kita bergulat sayang." David tersenyum seraya menatap wajah istrinya yang semakin cantik saja.
__ADS_1
"Gulat apaan coba. Kayak sumo aja mentang-mentang kita lagi ada di Jepang."
"Iya, di pesawat tadi kita udah makan sih, tapi kata mama, roti ini mengandung obat kuat supaya kita sama-sama kuat tidak tidur malam ini."
"Ish. Kamu ngomong apa sih mas?!" Dari tadi ngomongnya tak jelas," ucap Revalda berpura-pura tak mengerti dengan ucapkan sang suami.
David langsung memberikan roti itu pada Revalda agar perempuan itu tidak bicara tetapi makan yang banyak karena mereka akan begadang malam ini.
"Susu sayang, minum dulu," ucap pria itu lagi seraya memberikan sebotol susu yang ia bawa juga dari Indonesia. Revalda mengikut saja. Ia pun menghabiskan susu itu setelah memakan sepotong roti favoritnya buatan sang mama.
"Udah ah. Kenyang banget. Bisa-bisa aku tidur lagi padahal belum sholat," ucap Revalda menolak karena David menyuruhnya menghabiskan susu dan roti itu.
"Ya udah, kita sholat dulu trus anu..." kedip mata pria itu dengan senyum diwajahnya.
"Dasar mesum!" ucap Revalda kemudian segera kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekaligus berwudhu.
Sholat pun mereka laksanakan tapi dengan cara mengqosornya. Maklumlah, mereka 'kan musafir.
"Kamu ngantuk gak sayang?" tanya David setelah ia selesai sholat.
"Gak. kenapa mas!"
Pria itu menggerakkan otot punggungnya seolah-olah habis mengerjakan banyak pekerjaan berat.
"Kalau begitu, kamu tolong cek punggung aku Val. Rasanya kok sakit ya. Boleh 'kan?," ucap David seraya menatap wajah cantik Istrinya dengan ekspresi membujuk.
"Iya mas, aku lipat mukenaku dulu ya. Mas, naik ke atas ranjang aja."
David tersenyum. Ia pun membuka semua pakaiannya juga dan menyisakan bokser nya saja. Revalda langsung terlongo. Ia sangat takjub dengan penampakan pria tampan di hadapannya.
Untuk beberapa detik, pikirannya jadi membayangkan yang tidak-tidak. David tersenyum. Ia sangat senang melihat istrinya tampak sangat takjub dengan tubuhnya.
"Ayo cepetan sayang, aku gak kuat nih," ucap David membuyarkan lamunan sang istri. Revalda pun segera melipat mukenanya dan menghampiri ranjang dimana suaminya sudah berbaring di atasnya.
"Coba balik tubuhnya mas, biar aku pijit punggungnya."
"Siap sayang. Tapi nanti bentar deh. Sakitnya tadi kok sekarang pindah ke dada ku ya," ucap David dengan wajah berpura-pura kesakitan.
"Lho kok bisa?" tanya Revalda dengan wajah bingungnya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1