
"Papa jahat. Papa gak bisa mengerti kemauan aku tante," jawab Tiara dengan wajah yang nampak marah dan kesal.
"Aku masih ingin belajar tapi apa? Dia egois dan memaksakan kehendaknya padaku," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Padahal aku termasuk siswa yang berprestasi tapi cita-citaku sengaja dipangkas dengan sangat kejam!"
"Eh kok ngomongnya kayak gitu sih sama orang tua sendiri. Gak baik lho nak." Merry mengernyit. Ia tidak begitu suka dengan perkataan seorang anak yang sangat frontal seperti itu pada orangtua yang telah membesarkannya.
Tiara tersadar kalau ia sudah tidak sopan pada perempuan paruh baya yang baru dikenalnya itu. Ia pun menundukkan wajahnya dengan menjalin jari-jarinya.
"Maafkan aku tante. Tapi aku memang gak ingin pulang kalau papa masih memaksakan kehendaknya sama aku."
Merry menghela nafasnya kemudian melanjutkan, " Kenapa kamu gak ngomong baik-baik nak. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya."
"Yang terbaik gimana Tante? Papa mau menikahkan aku dengan orang tua yang sudah bau tanah dan punya banyak istri. Apa itu yang dikatakan baik?" Nada suara perempuan itu kembali naik satu oktaf.
Merry dan Yudhi saling berpandangan dan mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku udah punya pacar yang sangat baik padaku. Ia ingin membawa aku lari dari rumah. Ia sudah menunggu aku tapi karena dompet aku jatuh di mobil anaknya Tante jadi batal deh." Kali ini suara Tiara sudah mulai menurun.
"Kamu yakin pacar kamu itu baik dan bertanggung jawab?" tanya Merry dengan penuh perhatian. Tiara mengangguk pasti dan bahkan sangat yakin.
"Tante khawatir lho kalau-kalau kamu nanti disia-siakan. Apalagi kamu ini jauh nantinya dari orangtua."
"Gak kok Tante. Kak Yudhi itu baik banget sama aku. Sejak aku sekolah ia selalu membantu aku. Ia sangat perhatian dan juga cinta padaku. Setiap aku berdoa, hanya namanya yang aku sebut untuk menjadi pendampingku." Tiara menjawab dengan senyum diwajahnya. Ekspresinya begitu santai dan sangat menjiwai apa yang sedang dikatakannya.
"Yudhi? Kok namanya sama ya dengan anak tante," ucap Merry tersenyum.
"Ah yang bener Tante?" Tiara tampak kaget.
"Tentu saja benar. Dan gara-gara nama yang sama itulah aku digebukin orang di rumah kamu!" jawab Yudhi dengan dengusan kesalnya.
Tiara tersenyum meringis kemudian meminta maaf. Ia bahkan melipat tangannya di depan dadanya karena merasa bersalah.
__ADS_1
"Hahaha. Jadi kamu sudah tidur bersama tapi tidak tahu kalau nama putraku yang tampan ini adalah Yudhi juga? Eh tepatnya Yudhistira." Merry tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kedua orang itu.
"Oh gitu ya tante? Itu artinya, ini adalah kebetulan yang tak direncanakan, hehehe," jawab Tiara cengengesan sedangkan Yudhistira hanya bisa menghela nafasnya.
Hati pria itu tiba-tiba mencelos. Awan hitam pun mulai tampak di pelupuk matanya. Ia khawatir kalau rasa sukanya pada perempuan muda itu akan bertepuk sebelah tangan lagi.
Merry hanya bisa tersenyum tipis. Ia bisa mengerti perasaan Yudhistira sang putra. Ia yakin sekali kalau Yudhi sangat menyukai perempuan muda itu.
"Baiklah Tante. Sekarang aku mau menjumpai kak Yudhi bersama dengan mas Yudhis. Aku panggil kayak gitu ya, supaya gak bingung manggilnya hehehe." Tiara tertawa lagi dan semakin membuat Yudhi tak nyaman.
"Udah! Kamu ternyata cerewet juga ya, ayo sekarang cepat kita cari pacarmu itu supaya aku segera bebas dan sudah tidak ada urusan denganmu lagi," ucap Yudhi kemudian segera menarik tangan perempuan itu keluar dari rumah itu.
Merry pun menatap kepergian dua orang itu dengan dahi mengernyit.
Apa jangan-jangan perempuan itu yang juga jadi biang masalah antara Dewa dan istrinya?
Hadehh. Semoga saja keduanya sekarang sudah baik-baik saja.
Sementara itu, Yudhi melajukan mobilnya ke sebuah alamat yang ditunjukkan oleh Tiara. Sebuah pemukiman padat penduduk yang tak jauh dari alamat rumahnya sendiri.
"Gak aktif mas. Tapi orangnya gak suka kemana-mana kok."
"Oh, gitu?" ucap Yudhi sembari memperhatikan keadaan lokasi yang mereka datangi itu.
Tempat itu sepertinya sangat mencurigakan menurutnya. Rumah-rumah yang ada disana mirip-mirip dan nampak banyak tamu yang keluar masuk bergantian dan secara berpasangan pula.
"Iyaa. Nah tuh rumahnya." Tiara pun menunjuk sebuah rumah sederhana yang sering ia kunjungi bersama dengan pacarnya itu.
"Aku tanya dulu ya mas. Dia tinggal sama Tantenya sih," ucap perempuan itu dan melangkahkan kakinya ke dalam teras rumah minimalis itu.
Yudhi hanya mengikut saja dengan perasaan was-was. Entah kenapa ia merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh beberapa pasang mata.
"Cari Yudhi ya?" tanya seorang gadis yang baru saja keluar dari rumah itu dalam balutan pakaian yang sangat terbuka.
__ADS_1
"Iya mbak."
"Udah berangkat tadi sama Tante Yani," jawab gadis itu santai tapi tatapannya begitu sangat lapar pada pria tampan yang ada di samping Tiara.
"Tante Yani? Kemana?" tanya Tiara dengan dahi mengernyit.
"Biasa lah. Cuci mata dan cuci busi hihihi. Yudhi sama tantenya suka gitu kalo kegerahan disini," ucap gadis itu dengan mata ia kedipkan pada Yudhistira.
"Cuci busi? Ah gak ngerti ah. Kasih tahu dong dimana tempatnya," ucap Tiara tak mengerti dengan kata-kata gadis itu.
"Aku kasih tahu kalau kamu berikan aku waktu sama temanmu itu. Bagaimana?"
Tiara meringis dan menatap Yudhi. Ia tidak tahu harus berkata apa karena ia tak punya hak atas pria itu.
Kecurigaan Yudhi sepertinya semakin jelas. Ia pun membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang merah dan memberikannya pada gadis itu.
"Wah makasih banyak ya mas. Aku gak enak lho kalau gak ngapa-ngapain langsung dapat bonus kayak gini, hihihi." Gadis itu cekikikan kemudian memasukkan uang itu kedalam bra nya dengan gaya sensual.
Yudhi menelan salivanya kasar. Ia tak menyangka akan memasuki daerah prostitusi seperti ini dalam hidupnya.
"Hotel M dekat sini. Tapi kamu jangan kaget ya Ra? Dan juga jangan bilang kalau aku yang memberitahumu tentang mereka," ucap gadis itu memberikan informasi.
Tiara hanya tersenyum kemudian segera pamit. Meskipun otaknya sudah mulai menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi ia tetap berusaha untuk berprasangka baik.
"Kamu yakin mau ke tempat seperti itu?" tanya Yudhi lagi saat tahu kalau hotel M itu adalah tempat yang sangat riskan dan juga berbahaya untuk seorang perawan dan perjaka seperti mereka berdua.
"Iya mas. Aku mau bertemu dengan Kak Yudhi dan segera pergi dari sini sebelum orang-orang papa menemukan aku," tegas Tiara dengan mata berkilat.
"Humm, baiklah. Tapi jangan sampai kena sport jantung ya," ucap Yudhi seraya menambah kecepatan mobilnya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?