
"Kamu ada disini Ra?" tanya Yudhi dengan wajah yang sangat kaget. Tangannya segera menutupi tubuhnya yang hanya berbalut sebuah kain segitiga.
"Apa yang kamu lakukan di sini kak?!" tanya Tiara dengan suara tercekat. Otaknya yang rada-rada polos dengan cepat merespon apa yang telah terjadi.
"A-aku ti-tidak melakukan apapun. Aku hanya berbaring di sini Ra. Tidak lebih." Pria itu menjawab dengan terbata-bata.
"Berbaring dengan telanjang bersama dengan Tante Yani?! Iyya Kak?" tanya Tiara dengan mata berkaca-kaca.
Tubuhnya sendiri langsung gemetar membayang hal yang sangat menjijikkan itu terjadi antara seorang ponakan dan tantenya sendiri.
"Gak sayang. Aku ti-tidak seperti itu. Mana mungkin lah," ucap pria itu membantah. Tapi saat Yudhistira menatapnya dengan tatapan tajam, ia langsung tak berkutik. Pria yang sedang ada di dalam kamarnya itu tampak sangat mengintimidasi dengan tubuhnya yang tinggi dan juga atletis.
"Apa yang tidak mungkin kak?!" tantang Tiara seraya melempar pandangannya pada Tante Yani yang hanya menggunakan pakaian dalam yang sangat tipis dan juga terbuka dimana-mana.
Meskipun perempuan muda itu tak melihat apa yang mereka lakukan tapi ia sudah yakin dengan apa yang terjadi. Ada pakaian yang berserakan di lantai sudah cukup membuktikan bahwa mereka telah melakukan sesuatu.
"Kamu jahat kak!" teriak Tiara seraya meraih apa saja yang ada di sekitarnya dan melemparkannya pada pria yang masih ada di atas ranjang itu.
"Ra! Aku bisa menjelaskannya sayang. Dengarkan aku dulu!" Yudhi berusaha untuk bangun dan melompat turun dari ranjang untuk memeluk Tiara tapi Yudhistira langsung mendorongnya ke ranjang kembali.
"Diam kamu disitu brengsek!" titah Yudhistira dengan tangan mengepal sempurna.
"Aaa ya ampun kalian menjijikkan!" Tiara semakin histeris karena tanpa sadar menyentuh sebuah ****** ***** perempuan yang ia yakini adalah milik tante girang yang sedang ditemani oleh pacarnya itu.
"Aku benci kamu kak!" teriak Tiara seraya menghentakkan kakinya marah dan segera keluar dari kamar itu.
Yudhistira tanpa sadar menyeringai kemudian menghampiri Yudhi.
Dan...
Bugh!
"Aaargh! Hey kamu memukulku hah?!"
"Hentikan!"
Dua orang pasangan mesum itu berteriak bersamaan.
"Jangan pernah lagi mendekati Tiara dan mencuci otaknya agar bisa seperti kalian!" ancam Yudhistira dan langsung meninggalkan kamar itu.
Tante Yani segera melompat ke atas ranjang dan berusaha untuk mengobati ujung bibir pria itu yang tampak berdarah.
"Gak usah sentuh aku Tante!" ucap Yudhi marah dan menepis tangan perempuan paruh baya itu.
"Ya ampun sayang, kamu kok marah sama Tante sih?" jawab Tante Yani dengan ekspresi manjanya.
"Ini gara-gara Tante yang gak sabaran padahal aku belum mendapatkan perempuan itu." Yudhi mendengus kesal seraya mengernyit sakit.
"Gak sabaran gimana sayang. Kita 'kan udah lama gak anu padahal aku udah kangen banget sama gaya baru kamu," ucap perempuan itu dengan tangan segera memeluk Yudhi.
__ADS_1
"Iya tante. Tapi sekarang gimana kalau udah seperti ini. Harta Tiara tak akan bisa aku dapatkan begitu pun dengan tubuhnya."
"Yudhi sayang, aku juga punya banyak uang untuk membiayai semua keperluan kamu yang penting kamu mampu memuaskan aku." Tante Yani mengelus lembut rahang pria itu kemudian menciumnya.
"Dan tubuhku bebas kamu nikmati sayang," lanjut perempuan itu dengan tatapan penuh hasrat.
Yudhi hanya terpekur diam. Sebenarnya bukan hal seperti ini yang ia harapkan. Sesungguhnya, ia sangat menyukai Tiara dan
ingin membawanya pergi jauh. Ia ingin kembali ke jalan benar dan sudah tak ingin menjadi gigolo dari perempuan paruh baya ini.
Tapi kenyataannya, inilah yang terjadi padanya. Rahasia buruknya kini terbongkar sudah.
"Aku senang juga sih karena akhirnya Tiara tahu hubungan kita, jadi kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi," ucap Tante Yani lagi dengan tangan mengelus lembut punggung Yudhi.
Pria itu mendengus pelan kemudian turun dari ranjang tempat mereka berdua akan melakukan permainan jungkat-jungkit.
"Lho, mau kemana sih Yudh?" tanya Tante Yani heran. Pria itu tak berkata-kata dan sudah memakai kembali pakaiannya.
"Aku lagi gak mood Tante, maaf. Mau pulang aja," jawab Yudhi dengan perasaan yang sangat bersalah.
"Lho gak bisa kayak gini dong sayang. Aku udah bayar mahal lho kamar ini masak sih gak kita gunakan?" Perempuan paruh baya itu langsung melompat turun dan memeluk Yudhi dari belakang.
Ia tak rela kalau pria itu pergi dan tidak memberikannya kepuasan terlebih dahulu.
"Maaf, Tante. Aku gak bisa. Dipaksa pun Milikku tak ingin bangun."
Tante Yani tiba-tiba saja menangis dan tak mau melepaskan pelukannya.
Yudhi menghela nafasnya kasar. Ia tetap tak bisa. Hatinya sedang sangat sakit sekarang. Dengan sangat terpaksa ia melepaskan pelukan perempuan itu kemudian pergi.
Ia tidak tahu kemana tujuannya tapi yang jelasnya ia sedang ingin menenangkan dirinya.
🌹
Tiara menarik ingusnya yang sejak tadi ingin keluar dari kedua lubang hidungnya.
Sroook!!!
Aaaaa!!!
"Huaaaa! Kak Yudhi jahat!"
Perempuan muda itu menangis dan mengumpat tiada henti. Matanya tampak membengkak dan sembab dengan hidung memerah.
"Nih!" Yudhistira dengan sabar menyerahkan lembaran tisu terakhir yang ada di atas mobilnya kepada perempuan berusia 18 tahun itu.
"Makasih, sroookk aaaaaa!"
"Udah nangisnya? Tissue udah habis." ucap Yudhis santai.
__ADS_1
"Apa? Kamu hanya memikirkan tissue mu? Dasar tak punya rasa empati sedikitpun!" kesal Tiara dengan mata melotot.
Yudhistira tersenyum manis kemudian meminta maaf.
"Nangis aja sampai semua perasaan sedihmu habis. Kemeja dan jaket ku bisa kok untuk ngelap."
"Ish! Dasar jorok!"
Sroookk aaaaaa!
"Kamu minum dulu mau gak? Kayaknya kamu udah kehabisan cairan tuh."
"Ya Allah. Kamu benar-benar tak punya perasaan!"
"Lho. Lalu kamu maunya kayak apa?"
"Aku ini sedang sedih dan butuh untuk dihibur. Jadi sekarang hibur aku!" ucap Tiara dengan tatapan tajam pada pria yang menjadi tukang sopirnya itu.
"Bagaimana caranya?" Yudhistira bingung. Ia pikir dengan menemani perempuan itu berkeliling kota seperti ini, itu sudah termasuk menghibur namanya.
"Ya, katakan kalau tidak semua laki-laki sama. Pasti ada banyak laki-laki baik di dunia ini yang bisa aku jadikan suami."
"Hah?!"
Pria itu terlongo semakin bingung tapi kemudian ia tertawa. Sepertinya ia yang terhibur dengan kata-kata perempuan cantik itu.
"Iya deh. Jangan pikirin pria itu karena aku yakin ada banyak laki-laki yang sangat ingin menikahimu dan membahagiakanmu."
Tiara melempar tissue bekasnya ke tempat sampah kemudian mencibir.
"Itu sih copy paste namanya! Gak kreatif ah!"
"Lho?!"
"Sekarang bawa aku pulang ke rumah aku aja. Aku akan menerima lamaran pria tua itu untuk menjadi istri ke empatnya!"
Duarr
Kali ini Yudhistira yang mengalami kejut jantung.
"Tidak!"
"Kenapa?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊