Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 98 Niat Tak Sampai


__ADS_3

Selfina semakin tak nyaman. Ia merasa sangat bersalah pada suaminya. Ia pun mondar-mandir di dalam ruangan itu dengan sangat gelisah.


Keluar dari ruangan itu dan menuju ke meja kerjanya berharap ia bisa menenangkan dirinya tapi ternyata ia tidak bisa.


Bayangan wajah tersiksa suaminya yang sangat menginginkannya beberapa saat yang lalu kini semakin berputar-putar di dalam kepalanya.


Ia merasa bersalah dan berdosa karena telah menolak apa yang diinginkan oleh pria yang sudah sah atas dirinya itu. Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembusnya agar bisa meredakan sedikit rasa sesal di dalam dadanya.


Beberapa file pun ia buka dan berusaha untuk berkonsentrasi tapi ia gagal. Akhirnya ia membuka laman di internet. Ia pun mencari informasi bagaimana cara membantu si junior untuk tidur.


Seketika ia tersenyum-senyum sendiri karena baru menyadari apa yang diinginkan oleh suaminya yang sangat mesum itu.


Ia pun memandang jari-jarinya yang lentik dan membayangkan bagaimana suaminya mengulumnya tadi di dalam mulutnya. Dan sekarang ia sudah mulai mengerti yang dinginkan oleh pria mesum itu.


Aaaaa


Selfina langsung menutup wajahnya yang tiba-tiba menghangat karena membayangkan yang tidak-tidak.


Entah kenapa ia tiba-tiba jadi sangat menginginkan suaminya saat ini. Dengan hati berdebar-debar bahagia ia pun memandang pintu ruangan presiden direktur yang sangat tampan itu.


Ia ingin masuk kembali ke ruangan kerja pria itu tanpa menimbulkan kecurigaan Maya yang sejak tadi melihatnya diam-diam.


Lama ia berpikir sampai ia mendapatkan sebuah ide. Segera ia membereskan meja kerjanya dengan sedikit gugup. Maya yang melihatnya jadi penasaran dengan apa yang terjadi. Gadis itu segera menghampirinya.


"Mbak Selfina kok sibuk banget ya. Mau kemana?" tanya Maya saat melihat perempuan itu membawa laptopnya dan beberapa berkas di tangannya.


"Oh ini...," jawabnya seraya membasahi bibirnya dengan lidahnya kemudian melanjutkan, "Aku 'kan sektretaris pribadi pak presiden direktur nih. Dan kamu dengar sendiri 'kan kalau aku harus pindah tempat kerja ke dalam ruangan yang sama dengannya."


Maya tampak cemberut. Ia tidak suka mendengar kenyataan itu. Ia pun berusaha untuk santai meskipun ia sangat kesal.


"Oh gitu ya mbak? Trus aku nanti sendiri dong di luar. Ih gak seru tahu gak?"


"Maaf ya mbak Maya, ini perintah pak Presdir jadi aku juga gak bisa menolak. Kamu tahu bagaimana orangnya kan?"


"Iya sih. Tapi kalian berdua jadi bisa lebih dekat dong. Lah aku nanti pas ingin menanyakan sesuatu aku harus tanya siapa? Sedangkan pak presdir melarang aku masuk ke ruangannya," ucap Maya dengan wajah yang masih cemberut.

__ADS_1


Aaaa, seketika ia merasa menyesal magang di tempat ini.


"Kita tetap akan kerja bersama kok. Aku akan usahakan meluangkan waktu untuk membantu mbak Maya untuk belajar. Jangan khawatir!" ucap Selfina tersenyum.


"Iya deh baiklah. Gak apa-apa kalo kayak gitu. Sini aku bantuin mbak," ucap Maya berusaha untuk ramah. Ia sudah sepakat dengan Yudhi untuk melakukan sebuah rencana yang sangat bagus untuk mendapatkan tujuan mereka. Jadi ia harus berusaha untuk bersahabat dengan perempuan itu.


Mereka berdua pun saling membantu memindahkan semua barang-barang milik Selfina ke dalam ruangan presiden direktur.


Sementara itu di dalam toilet.


Yudha mencuci wajahnya dengan air dingin dan berusaha meredakan gejolak hasrat yang kembali tak bisa ia lepaskan. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan sampai ia merasa lebih baik.


Ia terus membujuk dirinya untuk tenang. Selfina adalah satu-satunya perempuan yang hampir membuatnya gila. Dan sekarang ia bahkan mencoba mengambil air wudhu agar ia bisa menahan dirinya yang hampir meledak.


Setelah itu ia keluar dari toilet dan menemukan Selfina sedang berdiri di depan pintu dengan wajah menunduk.


"Sayang, ada apa?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Anu pak, itu iya eh," ucap perempuan cantik itu dengan gugup. Jari-jarinya ia remas dengan gelisah.


Selfina jadi semakin gugup dan tidak bisa mengatakan apa yang ingin ia lakukan.


"Hey, katakan padaku, ada apa sayangku," ucap Yudha dengan wajah penasarannya. Ia pun meraih dagu kecil Selfina dan mengangkatnya agar perempuan itu mau menatapnya.


"Katakan ada apa? Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan?" tanya Yudha lagi dengan sabar. Wajah cantik itu kembali menggodanya tapi ia berusaha menahan dirinya atau ia akan tersiksa kembali.


"Selfina sayang, ada apa?"


"A-aku ingin membantumu pak presdir," cicit Selfina dengan suara rendah bagaikan bisikan.


"Membantu apa?"


"Itu, mm itu," gugup Selfina.


"Hey. Kamu membuat aku penasaran sayang. Katakan ada apa?"

__ADS_1


"A-aku ingin membantu junior untuk tidur," ucap Selfina malu-malu. Setelah itu ia menggigit bibirnya karena tak bisa membayangkan bagaimana warna pipinya saat ini.


Yudha langsung tersenyum. Istrinya ini benar-benar bisa membuatnya gila. Bagaimana mungkin saat ia sudah bisa lebih tenang malah dipancing kembali seperti ini.


Dan ternyata pendengaran junior dibawah sana pun sepertinya sangat bagus. Ia langsung menggeliat lagi mendengar namanya disebut. Yudha pun menghela nafasnya kemudian berucap, "Gak perlu sayang. Kamu kerja aja dengan tenang. Aku baru ingat kalau setelah ini harus ikut google meet dengan beberapa relasi di seluruh Indonesia."


"Tapi, kamu tidak marah padaku 'kan?" tanya Selfina dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Pasalnya ia sudah sempat menolak suaminya saat pria itu sedang sangat butuh pada dirinya.


"Gak. Aku tidak marah."


"Beneran?"


"Iya, beneran. Kamu balik ke mejamu karena aku akan siap-siap. Lihat, rambutku saja sudah sangat kacau seperti ini." Yudha tersenyum seraya menunjukkan penampilannya yang memang sangat kacau karena istri cantiknya itu.


"Apa aku perlu membantumu pak presdir?" tanya Selfina menawarkan bantuan. Ia ingin merapikan pakaian dan juga rambut suaminya akibat perbuatannya.


"Gak perlu. Aku bisa sendiri." Yudha menolak kemudian meninggalkan istrinya itu. Ia segera merapikan penampilannya sendiri di depan kaca dan hanya ditonton oleh Selfina dari jauh.


Perempuan itu kembali ke mejanya dan melihat suaminya dari jauh.


Ya, Allah. Pak Yudha memang sangat tampan dan keren banget. Pantas saja banyak perempuan yang sangat ingin mendapatkannya.


Ia pun membuka laptopnya dan sesekali melirik suaminya yang sudah rapih dan menghadapi layar laptopnya juga. Rasa cintanya pada pria itu semakin berlipat-lipat saja.


Sedangkan Yudha langsung memasang sebuah headset di telinganya untuk membantunya berkomunikasi dengan semua peserta google meet saat itu.


Sebuah proyek besar akan mereka bicarakan untuk membangun perekonomian di negara ini. Untuk itu ia harus fokus dan tidak boleh memikirkan yang lain.


Berjam-jam acara itu berlangsung sampai waktu pulang pun tiba. Selfina tak ingin menganggu dan akhirnya pulang sendiri tanpa pamit pada suaminya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor. Like dan komentar dong.

__ADS_1


Ada bunga juga boleh lah😊


__ADS_2