Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 208 Masih Marah


__ADS_3

"Sayang, aku tidak pernah berubah. Aku malah semakin mencintaimu," bujuk Dewa dengan tangan tak lepas dari punggung sang istri. Ia terus mengelusnya dengan sangat lembut.


"Gak!" balas Yundha seraya membalik tubuhnya. Ia menatap wajah suaminya dengan mata bersimbah airmata.


"Kamu jahat mas!"


"Yundha, ada apa ini? Jangan pernah berkata seperti itu sayang. Aku menyayangimu dan sangat merindukanmu," balas Dewa berusaha untuk sabar. Ia malah meraih perempuan itu ke dalam pelukannya tapi langsung mendapatkan penolakan.


"Jangan sentuh aku!"


"Yundha, sayang."


"Kamu kejam mas!"


Dewa menghela nafasnya kemudian menatap perempuan itu dengan perasaan sedikit kecewa. Sungguh, ia sangat rindu dan ingin mendapatkan sambutan yang sangat ia harapkan tapi perempuan itu tidak mengerti perasaannya.


"Apa yang kamu lakukan pada Kak Aril hah?!" Akhirnya Yundha mengeluarkan apa yang selama ini menganggu perasaannya.


Dewa tersentak kaget. Ia menegakkan punggungnya menatap sang istri.


"Kamu kejam mas. Kamu pembohong! Kamu ternyata tidak punya perasaan cinta padaku! Kamu tidak mempercayai aku!"

__ADS_1


Dewa hanya diam tetapi rahangnya mengeras. Ia merasa sakit kalau istrinya berkata seperti itu padanya. Yundha tampak semakin emosi. Rasanya semua uneg-unegnya ingin ia keluarkan untuk pria yang telah menikahinya itu.


"Kamu pergi keluar negeri dan menyimpan mata-mata untuk mengawasi aku. Kamu pikir aku perempuan apaan?" Yundha berdiri dari duduknya. Ia menjauh dari suaminya.


"Aku ini perempuan baik-baik. Aku tidak pernah berpikir untuk bermain dengan orang lain selama kamu tidak ada disini mas. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu mengirim orang untuk menganggu kak Aril hanya karena bertemu denganku!"


Dewa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mulai terpancing.


"Dan sekarang apa? Kamu malah membawa perempuan yang sengaja kamu sembunyikan identitasnya dariku! Aku tidak tahu apa saja yang sudah kamu lakukan padanya di belakang aku."


Yundha merasakan dadanya mendidih. Nafasnya naik turun. Ia lelah karena sudah mengeluarkan semua emosinya.


Yundha tidak menjawab. Ia hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia masih menangis.


"Siapa yang kamu percaya? Suamimu atau Aril brengsek itu hah?!"


Yundha sekali lagi tidak menjawab. Ia masih berada pada posisi semula. Tubuhnya semakin bergetar karena menahan tangisnya. Aril yang pernah dekat dengannya telah memberinya bukti kalau suaminya sangat kejam dan telah menyiksanya melalui orang lain.


"Ayunda Abdullah! Apa kamu mendengar pertanyaan aku?!"' tanya Dewa lagi dengan suara yang sudah mulai meninggi.


Yundha tetap berada pada posisi semula. Ia tidak merespon pertanyaan suaminya dan masih sibuk menangis. Dewa membuang nafas kasar. Ia benar-benar telah terpancing.

__ADS_1


"Aku tidak suka bicara dengan orang yang tak mempercayaiku Nda. Percuma!"


Yundha membuka telapak tangannya. Ia menatap wajah suaminya yang tampak marah itu dengan perasaan campur aduk.


"Istirahatlah, perasaanmu sekarang sedang tidak baik," ucap pria itu dan segera meninggalkan sang istri. Ia takut kalau ia memaksakan dirinya ia akan lepas kendali.


Dan sekarang ia ingin melakukan sesuatu untuk menenangkan hatinya.


"Aaaaa mas Dewa! Kamu jahat!" teriak perempuan itu setelah suaminya meninggalkannya.


Yundha histeris. Ia marah karena pria itu malah pergi meninggalkannya.


"Inikah sifat aslimu mas?" tanyanya dengan airmata yang semakin membanjiri pipinya.


Setelah itu ia pun mengambil kunci mobilnya dan segera pergi juga dari kamar mereka dan bahkan rumah itu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2