
Praja Wijaya memandangi putrinya dari jendela besar yang terdapat di ruangan itu. Ia tidak diperbolehkan masuk dan hanya bisa berada di luar. Padahal ia sangat ingin menyentuh sang putri.
Bayi mungil berbobot dua kilogram itu masih betah dan harus berada di dalam inkubator dalam waktu yang tidak bisa ditentukan oleh dokter.
Praja Wijaya tak sadar menitikkan airmatanya. Hatinya bagaikan diaduk-aduk oleh banyak rasa dan juga harapan. Rasa haru dan bahagia karena Tuhan masih mempercayakannya menjadi papa bagi putri keduanya itu.
Dan ia berharap sang putri bisa segera pulih dan juga tumbuh sehat serta menjadi anak yang solehah.
"Dokter, sampai kapan putri saya berada di dalam sana?" tanyanya pada seorang dokter yang kebetulan hendak masuk ke dalam ruangan itu.
"Inkubator adalah sebuah perangkat yang sering digunakan untuk merawat bayi baru lahir. Alat ini umumnya ditujukan untuk bayi dengan kondisi khusus pak.”
"Pak Praja harus bersabar ya, karena kondisi khusus yang dialami dedek makanya kami menyimpannya di dalam alat itu. Tidak sebatas menghangatkan, inkubator memberikan kelembapan, pencahayaan dan jumlah oksigen yang memadai bagi bayi yang punya kebutuhan khusus seperti dedek."
"Ah iya dokter. Saya terlalu terbawa perasaan sampai-sampai sudah sangat ingin menimang dan memeluknya."
"Gak apa-apa pak. Hal itu wajar kok. Dedek lahirnya prematur. Organ-organ bayi prematur cenderung belum berkembang sempurna jika dibanding dengan bayi yang lahir normal. Itu sebabnya, mereka butuh waktu tambahan untuk mematangkan organ miliknya."
"Selain itu, mereka juga tidak memiliki lemak tambahan yang membantu menghangatkan tubuh secara alami. Karena alasan-alasan ini, bayi prematur perlu dirawat dengan inkubator."
Praja Wijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kembali menatap sang bayi yang sangat mungil itu dengan mata berkaca-kaca.
Begitu besar kekuasaan Allah, ucapnya dalam hati. Bagaimana ia menciptakan seorang janin di dalam kandungan seorang ibu yang dijaganya sangat baik hingga tumbuh dan akhirnya lahir ke dunia ini.
Kembali hatinya bergetar, ia tak berhenti memuji kebesaran Allah yang mahakuasa.
"Baiklah pak Praja. Saya akan masuk dan memeriksa keadaan dedek. Bapak dan ibu berdoa saja. Semoga tubuh dedek semakin tumbuh dan juga sehat."
"Terimakasih banyak dokter. Doa kami selalu untuk dedek," ucap Praja kemudian berlalu dari tempat itu. Ia akan kembali ke kamar Ardina untuk memberikan penghiburan pada istrinya itu.
🌹
Sementara itu di sebuah kamar mewah apartemen bernuansa Scandinavian dikawasan elit ibukota.
Yudha merasakan perasaan yang sangat bahagia saat sang istri memberinya kesempatan untuk datang berkunjung untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Ia pun segera melakukan apa yang sudah lama ia inginkan. Melakukan sesuatu yang sangat diberkahi dan bernilai pahala.
Selfina sendiri berusaha untuk berani. Ia menstimulasi otaknya untuk menerima apa yang dilakukan suaminya pada dirinya karena itu adalah kewajibannya.
Tak malu ia memuji kehebatan suaminya dalam memperlakukannya dengan sangat indah.
Ternyata pria itu selain jago menggombal dengan mulutnya, ia juga sangat jago membuatnya melayang ke langit ke tujuh dengan sentuhannya.
Kedua orang pengantin baru yang sedang dimabuk cinta itu tak berhenti mendayung dengan penuh kenikmatan mereguk nikmatnya dunia yang penuh dengan keberkahan.
Ucapan syukur dari dalam hati keduanya akan kebesaran kuasa Tuhan yang menciptakan rasa yang begitu sangat indah dan nikmat ini.
Pipi Selfina sudah memerah karena terlalu bahagia. Ia merasa bahwa perasaan kesal dan jengkelnya pada pria itu selama ini sudah terbayarkan.
Yudha mampu membahagiakannya dengan sangat hebat.
Mereka berdua saling berpandangan dengan senyum merekah. Selfina merasa malu tak terkira. Ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya tak mampu membalas tatapan sang suami tercinta.
"Sel, aku mencintaimu sayang," ucap Yudha seraya menyentuhkan dirinya pada Selfina yang sudah jadi candu buatnya. Perempuan itu membalasnya dengan sangat lembut.
"Aku juga mas." Selfina menjawab dengan senyum diwajahnya. Yudha juga membalasnya dengan senyuman termanis yang ia miliki.
Sedangkan Yudha meminta maaf, karena membuang bibit unggulnya agar sang istri tidak hamil karena alasan tertentu padahal ia sebenarnya sangat ingin menjadi seorang papa.
Sekali lagi mereka saling bertatapan dengan penuh cinta. Yudha tak berhenti mengucapkan rasa terimakasih pada sang istri yang sangat baik padanya.
"Udah ah, gak usah berterima kasih terus. Aku juga berterima kasih."
"Iya, sayang. Aku tidak tahu harus mengatakan apa sih. Kamu terlalu indah sayang," ucap Yudha seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tak menggunakan penghalang sedikitpun. Mereka kemudian menutup mata mereka dan akhirnya tertidur.
"Aku belum mau tidur mas. Aku ingin langsung mandi saja."
"Eh Jangan. Nanti kamu sakit lagi," ucap Yudha melarang.
"Gak apa-apa. Katanya bagus untuk kesehatan lho." Selfina menjawab seraya melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Yudha hanya bengong saja. Dan akhirnya mencari sumber yang bisa dipercaya lewat gawainya.
Seseorang yang tidak melakukan mandi wajib/ junub selama hadas besar, di dalam Islam dianggap tidak akan diterimanya segala bentuk ibadah yang dikerjakan.
Seperti shalat, membaca Al-Quran, puasa hingga thawaf yang dinilai tidak sah. Itulah kenapa wajib melakukan mandi wajib/ junub dengan bacaan niat yang benar.
"Ah tapi kan gak harus malam ini juga Sel," ucap Yudha dengan wajah bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Setelah itu ia pun segera mencari sumber lain di dalam mesin pencarian agar ia merasa nyaman dan tidak ragu lagi.
Dan ternyata benar. Apa yang ia dapatkan dalam informasi itu menunjukkan, kalau sebaiknya pasangan segera bersuci atau mandi setelah berhubungan agar tenaga yang telah mereka gunakan segera tergantikan dengan tenaga yang baru.
Selain itu mereka juga akan lebih nyaman dalam beristirahat.
Yudha pun segera bangun dan ikut bersuci bersama dengan sang istri. Ia juga ingin melakukan hal yang baik agar tenaganya kembali pulih.
Setelah mereka mandi. Mereka pun segera naik ke atas tempat tidur dan bersiap untuk tidur.
"Kenapa mas?" tanya perempuan cantik itu dengan tatapan penasaran karena suaminya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tadi tidak sengaja melakukannya sayang," ucap Yudha dengan wajah sedih.
"Yang mana mas?"
"Yang itu," ucap Yudha dengan menunjukkan tangannya menggunakan bahasa isyarat.
"Gak apa-apa. Kalau dikasih insyaallah jadi kok," ucap Selfina tersenyum. Yudha tak berbicara lagi. Ia pun tak ingin membahasnya. Ia serahkan semuanya pada Tuhan semesta alam.
Ruangan kamar mewah itu akhirnya sepi. Yang terdengar hanya suara nafas lembut dan teratur.
Mereka tertidur dan sekarang menuju alam mimpi.
Harapan mereka adalah mereka bangun keesokan paginya dengan perasaan yang sangat sehat dan juga bahagia.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan komentar dong. Vote dan bunga juga boleh lah. Yang penting othor senang dan bersemangat.🤗😍
Nikmati alurnya dan happy reading 😊