Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 129 Jadilah Istriku


__ADS_3

"Boleh gak kita tidak membahas itu dulu dokter? Bukankah kamu ingin mentraktir aku makan malam?" ucap Yudhi mengalihkan pembicaraan.


Indy tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya maklum. Tidak mudah memang menerima kenyataan pahit dalam waktu yang sangat singkat. Dan ia sepertinya tidak boleh berharap terlalu banyak.


"Hem baiklah, kita akan makan dan melupakan hal yang menggangu pikiran kita," ucap Indy sembari bersiap untuk turun dari kendaraan itu.


"Nah, itu ide yang sangat bagus. Aku rasa akau akan banyak makan malam ini, jangan sampai dompetmu jadi kosong ya dokter," balas Yudhi kemudian membuka seat beltnya dan bersiap untuk turun dari mobil itu juga.


"Tenang saja mas Yudhi, dompetku lagi sangat tebal sekarang dan itu karena dirimu," jawab dokter perempuan itu dengan senyum diwajahnya.


"Oh ya? Tapi kenapa bisa?" Yudhi menatap sang dokter dengan dahi mengernyit.


"Ah lupakan saja mas. Ayo kita masuk dan pesan masakan favorit di restoran ini yaitu bebek betutu khas Bali dan juga bebek palekko khas Makassar."


"Wow, itu pasti Enak. Makanan tradisional favorit aku juga," senyum Yudhi terkembang dan sudah membayangkan sensasi pedas dari makanan berbahan dasar bebek itu.


Mereka berdua pun turun dari mobil dan segera memasuki restoran. Yudhi yang memang sangat suka dengan kuliner langsung berpikir untuk mencoba semua menu di restoran itu. Itung-itung akan memberinya ide untuk memasak makanan itu juga di rumahnya.


Oh tidak. Aku tidak akan masak di rumah, ada mbak Selfina di sana yang pastinya akan menguasai dapur dan urusan icip-icip makanan.


"Mas mau pesan apa?" tanya Indy menyentak lamunannya.


Yudhi pun tersenyum kemudian meraih daftar menu dihadapannya dan mulai menunjuk beberapa menu yang cukup memancing seleranya selain masakan yang berbahan dasar bebek.


Kira-kira kalau aku masukkan ide kuliner tradisional apa Yundha akan setuju gak ya? Tanyanya dalam hati karena tiba-tiba mengingat Yundha yang sudah ia angkat sebagai manager di Cafetaria milik sang kakak.


"Mas, kok ngelamun?" tanya Indy penasaran.


"Ah tidak kok. Aku cuma ingat sama Yundha di Cafe. Malam-malam begini apa ia sudah pulang ya?" ucapnya seraya melihat jam tangannya.


"Gak coba di telpon mas?" saran Indy. Ia juga khawatir kalau ada seorang gadis yang belum pulang di jam seperti ini. Kecuali dirinya sendiri yang masih bersama dengan seorang pria patah hati rasanya tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang di luar batas.


"Ah iya, aku akan coba menelpon. Seharusnya Cafe udah tutup kalo bukan malam Minggu sih," ucap Yudhi seraya meraih handphonenya dan mulai mencari nama Yundha yang ia beri nama si manja.


Pria itu menatap layar handphonenya dengan wajah kesal.


"Yundha kemana sih. Handphonenya aktif tapi kok gak diangkat."


"Gak coba telpon nomor karyawan lainnya di Cafe mas?" usul Indy. Yudhi pun melakukan saran dari dokter baik hati itu tapi semuanya sedang berada pada panggilan lain.

__ADS_1


"Gak ada yang jawab," ucap Yudhi dengan perasaan yang semakin kesal. Pembicaraan mereka terputus karena pelayan restoran sudah berada di depan meja mereka dan mulai menyajikan pesanan mereka.


"Silahkan dinikmati mas mbak," ucap pelayan itu mempersilahkan.


"Makasih," ucap Indy tersenyum. Ia pun menatap Yudhi yang masih sibuk dengan handphonenya.


"Mas, makan dulu yuk. Gak enak kalo makanannya dingin," ucap Indy meraih perhatian pria itu. Yudhi pun menyimpan handphonenya dan berharap sang adik baik-baik saja dimanapun berada.


Mereka pun menikmati makan malam itu dengan canda tawa diantara mereka berdua sementara itu, Yundha sedang dalam perasaan yang sangat kesal.


Seorang pengunjung cafenya belum juga beranjak dari mejanya padahal tempat itu sudah ingin ia tutup. Beberapa pelayan sudah pulang dan hanya ia dan seorang cleaning service yang masih berada di tempat itu.


"Maaf ya mas, bisa lihat waktu gak sih?" ucap Yundha dengan hati mendongkol tapi berusaha untuk tetap ramah.


Pria yang tampak kusut dan stress itu menatapnya dengan mata merah.


Eh?


Yundha tercekat kaget. Pria itu tampak mabuk padahal ia samasekali tidak menjual minuman beralkohol di cafe itu.


"Mas, helleo? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya gadis itu seraya melambaikan tangannya di depan wajah pria itu.


"Eh , jangan kurang ajar ya mas. Aku bisa teriak lho." Gadis itu langsung berusaha untuk melepaskan tangannya tapi sayangnya ia tidak kuat.


"Jangan macam-macam. Jangan berusaha untuk berteriak. Atau Cafe mu ini akan digrebek oleh pihak berwajib karena telah menjual minuman beralkohol dan membuat saya mabuk."


"Apa?!"


Mata Yundha membulat tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apa ini pemerasan?" tanya gadis itu dengan wajah marah.


Pria itu terkekeh.


"Menurutmu apa?!" tanya pria asing itu dengan senyumnya yang sangat menyebalkan.


"Aku tidak pernah menjual barang haram itu di tempat ini mas. Dan kalau kamu berpikir aku akan mau diperas maka kamu salah besar. Aku tidak akan pernah mau jadi korban orang seperti kamu!"


Yundha bersikukuh tidak ingin mengalah. Ia berusaha melepaskan tangannya tapi pria itu tak juga mau melepaskannya.

__ADS_1


"Pihak berwajib akan percaya dengan melihat bukti. Jadi sebaiknya kamu pasrah saja," ucap pria itu seraya mengeluarkan beberapa botol minuman keras ke atas meja dengan tangan kirinya.


"Apa-apaan ini?!" Yundha berteriak keras karena begitu tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


"Heh lepaskan aku brengsek!" Gadis itu tak perlu bersiap sopan lagi pada pria asing yang sudah jelas-jelas adalah seorang pria jahat.


"Hey. Kamu tidak perlu berteriak seperti itu. Aku hanya ingin kamu menolong aku. Jadi santai saja, okey?" ucap pria itu dengan senyum samar diwajahnya.


Yundha mendengus kesal. Ia menatap pria itu dengan dagu terangkat.


"Kalau mau meminta tolong gak usah pakai cara seperti ini brengsek! Aku gak suka. Dan kalau kamu tidak mampu membayar semua tagihan kamu gak apa-apa. Aku ikhlas dan semua yang sudah kamu makan gratis!"


Pria itu terkekeh. Ia semakin merasa diatas angin. Dan ia sangat suka dengan gaya sang manager.


"Kenapa?!" tanya Yundha dengan mata memicing. Ia sangat tidak suka dengan pria yang tidak punya sopan santun seperti itu.


"Ayo cepat keluar dari sini. Cafenya udah mau tutup. Dan ingat untuk membawa uang kalau ingin makan. Jangan bawa minuman tipuan seperti ini!"


Pria itu terkekeh lagi dengan sangat menyebalkan.


Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi hingga tubuh Yundha ikut terseret ke arahnya karena tangan gadis itu masih dalam genggamannya.


"Aku tidak akan keluar dari tempat ini jika kamu tidak menolongku!" ucapnya santai.


"Aku sudah menolong mu dengan menggratiskan semua makanan dan minuman yang sudah kamu makan di sini. Dasar gembel!"


Pria itu tersenyum miring.


"Aku ingin kamu jadi istriku malam ini!"


"A-apa?!" Yundha melotot tak percaya dengan pendengarannya.


Eng ING Eng.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2