
Yudhistira langsung turun dari mobilnya dengan semangat 45. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan perempuan yang bernama Tiara itu.
Ternyata Cafenya sangat ramai. Ada banyak pengunjung yang sampai semua orang sibuk. Tak ada waktu untuk mencari Tiara karena saat ia membuka pintu tempat itu, ia sudah disambut oleh kesibukan pelayan yang hilir mudik mengantarkan pesanan pada para pelanggan.
Ia pun menyapa beberapa karyawan dan juga pelanggan yang sempat bertemu dengannya. Akan tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti karena sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari arah panggung.
"Inilah dia pak Yudhistira Abdullah, Owner De Y Cafe!" ucap seseorang memperkenalkan dirinya dari arah panggung di sudut ruangan.
Yudhi terlongo tak percaya kalau sahabatnya ada di sana sedang memeluk gitar.
Pria itu tersenyum tipis kemudian membungkukkan badannya sedikit. Semua orang bertepuk tangan. Yudhistira pun mengangkat wajahnya dan melihat semua tamu yang datang dengan tatapan serius.
"Oh my God!" ucapnya dengan suara tercekat. Ternyata semua pengunjung yang datang adalah teman-teman sekelasnya di universitas.
"Apakah kamu terkejut pak Yudhi?" tanya pria yang ada di panggung itu yang tak lain adalah Bram.
Yudhi tersenyum lebar kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ini adalah kejutan yang sangat mengejutkan!" jawabnya yang langsung membuat semua orang tertawa.
Keinginannya untuk mencari Tiara sepertinya harus ia tunda dulu karena ia langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Sebagai seorang teman dan juga pemilik tempat itu, ia harus ramah melayani semua orang.
Reuni dadakan itu berlangsung cukup heboh dan akrab. Keceriaan dan kebahagiaan ada di setiap tempat apalagi dia membebaskan semua biaya malam itu untuk teman-temannya.
Malam sudah semakin larut. Sedangkan Dewa baru saja pulang.
Mencari Yundha di semua tempat yang mungkin dikunjungi oleh perempuan itu sudah dilakukannya. Semua rumah teman-teman sang istri pun tak luput dari perhatian pria itu tapi sayangnya ia tak berhasil menemukan istri yang sangat dicintainya itu.
Lelah, ia rasakan kini. Ia pun turun dari mobil dengan menggendong tubuh Zacky yang telah tertidur. Rania yang sejak tadi gelisah dan tak bisa tidur langsung menjemput mereka di depan pintu dengan wajah khawatir.
"Bawa segera ke kamar mama saja nak," ucap perempuan paruh baya itu pada sang putra. Dewa menurut. Zacky memang sangat dekat pada Rania juga. Mereka sering tidur bersama.
"Mama tidak ngerti ada apa dengan kalian sebenarnya. Kenapa Yundha tiba-tiba saja pergi dari rumah."
Dewa yang baru meletakan tubuh Zacky di atas ranjang tak bisa berkata-kata. Ia hanya menatap ibu yang telah melahirkannya itu dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan pada istrimu Wa. Apakah selama ini kamu menyakiti perasaannya?"
"Maafkan aku ma. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti ini," ucap Dewa seraya meraup wajahnya kasar.
"Mama takut kalau Yundha ada di luar rumah seperti ini Wa. Ia sedang hamil nak."
Dewa menatap wajah perempuan yang sangat disayanginya itu dengan tatapan serius.
"Apa ma?"
"Iya, saat kamu ada di luar negeri, Yundha cerita sama mama kalau ia sudah telat. Dan Mama sendiri yang menemaninya ke dokter. Ia ingin memberikan kejutan padamu. Tapi kok malah begini sih kejadiannya." Rania menghela nafasnya berat.
Dewa terpaku. Ia seperti merasakan tubuhnya baru saja terkena hantaman benda keras. Ada rasa sesal yang menyeruak dari dalam hatinya.
Kenapa aku selalu saja membuat Yundha bersedih saat ia sedang hamil?
"Aku tidak tahu kalau apa yang aku lakukan padanya akan menyakitinya seperti itu ma."
"Apa yang kamu lakukan nak? Apakah ada perempuan lain di dalam hidupmu lagi?" Rania menatap sang putra dengan tatapan tajam.
"Tidak ma. Aku bersumpah demi Allah. Aku tak pernah mempunyai pikiran untuk membagi cintaku darinya. Aku hanya sedikit egois karena meminta orang untuk memata-matai semua kegiatannya selama aku pergi."
"Yundha kurasakan berubah padaku ma. Ia sering menolak aku akhir-akhir ini. Ia jarang melakukan kewajibannya di tempat tidur. Aku curiga kalau-kalau ia mempunyai hubungan dengan pria lain. Makanya aku meminta orang untuk mengawasinya selama aku tidak ada di negara ini."
"Lalu?"
"Mereka memberikan laporan kalau Yundha beberapa kali bertemu dengan Aril ma. Aku cemburu. Aku tidak tahan depan semua yang ia lakukan di belakang aku. Hingga aku meminta orang itu untuk memberikan ancaman pada Aril. Hanya ancaman tapi pria itu malah membuat cerita bohong kalau aku menyiksanya. Yundha marah dan akhirnya pergi."
Dewa menundukkan wajahnya dengan perasaan yang sangat kacau.
"Astaghfirullah. Kenapa orang-orangmu itu tidak bercerita kalau Yundha bertemu dengan dokter Aril itu selalu bersama dengan mama hah?"
Dewa mengangkat kepalanya dengan wajah kaget.
"Mama yang selalu menemaninya ketika konsultasi ke rumah sakit dan kami kebetulan saja bertemu dengan dokter Aril di sana."
__ADS_1
"Apa ma?"
Dewa kembali merasakan tubuhnya bagaikan terkena hantaman benda keras lagi.
"Yundha mengalami keanehan pada tubuhnya karena kehamilannya itu. Ia bingung kenapa ia jadi sangat membenci dirimu dan tak ingin melayanimu. Makanya ia ingin konsultasi dengan dokter kandungan. Tapi itu normal dan biasa dialami oleh ibu yang sedang hamil di trimester pertama kehamilannya. Kamu seharusnya bersabar."
"Ya Allah," ucap Dewa dengan perasaan frustasi. Ia semakin merasa bersalah pada istrinya itu.
"Perempuan hamil muda seperti itu sering tak bisa mengontrol emosinya karena hormon kehamilannya yang sedang meningkat. Harusnya kamu merayunya dan memberikan perhatian lebih. Ia bisa saja stres dan melakukan sesuatu yang berbahaya!"
"Maafkan aku ma. Aku terlalu mencintainya. Aku jadi egois dan tidak mengerti perasaannya. Maafkan aku ma." Dewa meraih tangan sang mama dengan perasaan yang sangat hancur.
"Minta maaf pada istrimu Wa. Dan cari Yundha nak. Temukan ia dimanapun. Mama sangat khawatir kalau-kalau ia masih berada di luar rumah sedangkan ia sedang hamil," ucap Rania dengan tangis pecah.
Perempuan itu pernah mengalami masa-masa seperti yang dialami Yundha sekarang sewaktu ia sedang mengandung adik Dewa.
Ia stress karena suaminya tak mengerti dengan kondisinya dan malah memaksakan kehendaknya saja padanya. Ia keguguran disaat kehamilannya berada pada minggu ke 12.
"Aku sudah mencarinya kemanapun ma. Tapi aku tidak mendapatkan petunjuk apapun."
"Mama akan menghubungi Merry. Dia mungkin sudah tahu dimana Yundha berada," ucap Rania dan segera meraih handphonenya.
Perempuan itu menatap layar benda pipih ditangannya dengan helaan nafas berat.
"Gak aktif. Mungkin udah tidur," ucap Rania.
"Gak apa-apa ma. Aku yang akan kesana saja kalau begitu. Mereka pasti tahu dimana Yundha berada."
"Ah ya. Kamu nginap aja di sana Wa. Ini udah larut malam soalnya."
"Iya ma. Aku pergi, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?