
Revalda menghentakkan kakinya kesal dengan bibir meracau tak jelas. Selfina dan Yudha sampai bingung melihat tingkah sang putri.
Mereka pikir hati Revalda sudah baik dan lega karena Irma telah menjelaskan semua kesalahpahaman mereka sampai nama baik sang putri jadi baik lagi dimata keluarga. Meskipun begitu sebenarnya sebagai orang tua, mereka tak butuh penjelasan Irma. Revalda adalah anak kandung mereka dan mereka tentunya tahu betul sifat asli gadis itu.
"Ih kesel banget," ucap Revalda lagi seraya masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Selfina dan Yudha kembali bertatapan. Tak biasanya gadis itu berlaku seperti itu.
"Apa karena lamaran dari keluarga David mas?" tanya Selfina khawatir.
"Entahlah sayang. Tadi 'kan Valda pulang baik-baik saja dan juga gak komplain kalau pernikahannya akan dilaksanakan sepekan lagi. Tapi kok sekarang jadi uring-uringan kayak gitu sih?" Yudha jadi Ikut khawatir.
"Coba aku lihat deh mas. Siapa tahu ia kesal karena urusan lain." Selfina pun berdiri dari duduknya dan mendatangi kamar sang putri.
"Val, mama bisa masuk gak sayang?" ucap Selfina meminta izin.
Tak ada jawaban dari dalam tapi Selfina akhirnya tetap masuk karena khawatir.
"Ada apa sih?" tanyanya saat melihat sang putri sedang hilir mudik di dalam kamar bagaikan setrikaan.
"Aku kesal ma. Rasanya pengen teriak-teriak aja," jawab gadis itu dengan bibir cemberut.
"Ceritakan sama mama sayang, ada apa?" ucap Selfina seraya meraih tangan sang putri agar duduk dengan tenang.
"Apa karena rencana pernikahan kamu yang begitu cepat?" tanya sang mama dengan hati-hati.
Revalda menggelengkan kepalanya dramatis. Bibirnya masih saja manyun karena kesal.
"Lalu karena apa sayang?" tanya Selfina lagi dengan sabar.
"Handphone aku hilang ma."
"Oh, gak udah khawatir. Nanti mama belikan yang baru dan yang paling mahal."
"Gak mau. Itu handphone aku banyak batre sejarahnya ma. Dan begitu banyak file yang aku simpan di dalam belum aku masukkan ke google Driveku."
"Aduh. Trus gimana dong?" Selfina jadi tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sudah kamu hubungi nomor kamu gak? Kali aja bisa dilacak sayang."
"Sudah ma. Yang dapat itu cowok dan kayak menjengkelkan gitu." Revalda kembali memanyunkan bibirnya kesal.
"Menjengkelkan gimana?"
"Kesannya gak serius banget mau ngembaliin itu handphone. Gimana gak kesal coba ma."
"Udah ditawari hadiah gak?" usul sang mama.
"Udah. Aku bilang aku akan bayar sesuai harga handphone itu asalkan dia mau ngembaliin ke aku. Soalnya ada banyak hal pribadi ma di dalam sana. Ih kesel."
Selfina jadi ikut khawatir dibuatnya.
"Coba deh kamu menambah hadiahnya. Kali aja dia mau nambah sayang."
"Hadiah kayak gimana ma? Bagaimana kalau ia ingin memeras aku?"
Selfina terdiam dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia jadi sangat khawatir kalau-kalau pernikahan sang putri akan terganggu karena hilangnya handphone Revalda.
Sementara itu, di tempat yang lain.
__ADS_1
David belum juga berhenti tersenyum saat menatap handphone calon istrinya yang masih berada di tangannya.
"Valda, kenapa Allah begitu baik sampai mempertemukan kita lagi dalam keadaan seperti ini?" gumamnya seraya menatap gambar gadis itu yang Revalda jadikan sebagai Screen Lock pada benda pipih elektronik miliknya.
"Cantik dan keras kepala, masih sama dengan waktu kamu masih kecil," ucap pria itu lagi dengan tatapan tak lepas pada wajah Revalda yang sangat cantik dalam layar itu.
"Ada apa di dalam galeri kamu Val?" Kok aku aku jadi penasaran dengan apa yang kamu sembunyikan di dalamnya. Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan sampai kamu ingin melaporkan aku ke polisi?" ucap pria itu yang tiba-tiba saja merasa sangat penasaran dengan isi handphone gadis itu.
"Dasar ceroboh!" ucap David lagi saat itu dengan gampang membuka handphone itu tanpa ada password samasekali.
"Bagaimana kalau ada orang lain yang mendapatkan ini Val?" ucapnya lagi dengan wajah kesal. Pria itu menggerutu tapi tetap saja melanjutkan membuka satu demi satu aplikasi yang terdapat di dalam handphone itu.
Galeri yang Revalda sembunyikan di dalam sebuah folder ternyata bisa ia temukan dengan sangat baik dan juga mudah.
"Bagus juga karena ternyata tak bisa terbuka tanpa password. Itu namanya gadis pintar," ucap pria itu tersenyum dan kemudian mengetik tanggal lahir gadis itu.
"1 5 1 0 0 5," ucapnya pelan seraya mengetik password agar ia bisa masuk.
"Terbuka!" Ia tersenyum puas. Rupanya semua password yang ia punya sama dengan password sang calon istri.
"Insyaallah kita berjodoh Val, tanggal lahir kamu adalah tanggal pertama kalinya kita bertemu. Dan aku akan selalu ingat itu," ucap pria itu dengan dada berdebar.
Jarinya pun sangat lincah membuka galeri gadis itu yang ternyata berisi banyak data dan juga gambar-gambar dirinya bersama dengan keluarga dan juga teman-temannya.
Tak ada yang aneh yang ia temukan disana dan ia tersenyum kembali tapi saat ia menemukan satu folder khusus ia jadi sangat penasaran.
Dadanya tiba-tiba berdebar sangat kencang saat membukanya. Revalda sangat berani mengekspresikan dirinya dalam berbagai gaya yang sangat indah dan sekaligus membuat bulu kuduknya meremang sempurna.
Jangan ditanya bagaimana David kecil dibawah sana. Ia langsung bangun dan ingin mengintip.
Gadis tertutup dengan hijab dan pakaian yang sederhana itu ternyata sangat cantik dengan balutan gaun yang tanpa sensor.
Perasaan kesal tiba-tiba saja muncul dan membuatnya ingin memberikan hukuman yang sangat berat pada gadis itu. Dengan cepat ia mengirimkan pesan pada gadis itu tempat yang akan ia jadikan untuk bertemu.
[Kita ketemu di Hotel X, pukul 21.00 WIB. Pakai gaun yang sangat indah dan juga sopan. Gak ada orang lain. Dan aku akan memberikan handphone kamu]
Tring
Revalda dan Selfina saling bertatapan saat handphone Zacky yang ada di atas ranjang berbunyi.
"Coba buka Val. Kali aja orang itu yang mau ngembaliin handphone kamu," ucap Selfina seraya meraih benda pipih itu.
Revalda pun membuka pesan yang dikirim melalui nomornya sendiri. Ia pun membaca pesan David dengan wajah yang tidak tampak gembira.
"Ma, dia mau ngembaliin handphone aku. Tapi harus ketemu di hotel. Gimana nih?"
"Lho kenapa harus di hotel sih. Coba jawab dan minta tempat yang umum dan aman. Nanti mau berbuat macam-macam lagi," jawab Selfina dengan prasangka buruknya.
"Iya ma. Aku 'kan takut. Mana gak boleh bawa orang lagi. Mencurigakan banget 'kan?"
"Iya. Ayo cepat jawab."
"Jawab kayak gimana ma?" tanya Revalda gugup.
"Jawab aja. Bagaimana kalau kita ketemu di kantor polisi, gitu. Pasti deh dia paham.
"Ah iya ma. Aku ketik kayak gitu ya, semoga saja dia gak marah," ucap Revalda kemudian mulai membalas pria yang telah menemukan handphonenya itu.
__ADS_1
[Kita ketemu di kantor polisi saja. Gimana?]
Tring.
David membuka balasan dari Revalda dan langsung tertawa terbahak-bahak.
[Ya udah. Gak jadi aku kembalikan. Dan jangan salahkan aku kalau foto-fotomu yang cukup terbuka itu akan jadi koleksi pribadi aku]
Tring
"Mama! Dia sudah membuka galeri aku!" jerit Revalda setelah membaca pesan dari pria misterius itu.
"Tunggu sebentar sayang. Aku akan lapor sama papa kamu dulu. Kamu tenang ya. Papa pasti bisa melacak ponsel kamu dan tahu siapa orang yang sedang bermain-main dengan kita."
Selfina pun langsung berlari keluar dari kamar sang putri untuk menemui suaminya.
"Mas!" panggil Selfina dengan wajah panik dan juga khawatir. Yudha yang sedang menelpon langsung memberi kode pada istrinya untuk tidak ribut dulu.
Selfina pun duduk diam disamping suaminya menunggu sampai pria itu selesai bicara.
"Ah iya. Gak apa-apa. Makasih banyak ya."
"Waalaikumussalam."
Pria itu menutup panggilan teleponnya dan menatap sang istri dengan senyum diwajahnya.
"Ada apa Sel?" tanya pria itu pada sang istri.
Selfina pun mulai menceritakan kronologis kejadian yang menimpa putrinya sampai mendapatkan pesan yang sangat mencurigakan.
"Jadi gimana dong mas. Apakah kita harus melaporkan orang itu ke polisi?" ucap Selfina meminta pendapat. Yudha langsung tertawa terbahak-bahak.
"Lho kok ketawa sih mas?" tanya Selfina bingung.
"Tahu gak siapa yang nelpon aku tadi?"
Selfina menggelengkan kepalanya.
"Yang nelpon itu David, calon menantu kita. Ia juga menceritakan tentang handphone Valda. Ia minta izin untuk bertemu anak kita di hotel karena ada acara ramah tamah yang harus ia hadiri. Dan ia ingin menjadikan Revalda sebagai pasangannya."
Selfina terdiam dan berusaha menelaah kemudian langsung tertawa.
"Ya Allah, kok bisa sih mas?" ucap perempuan cantik itu dengan wajah tak percaya.
"Karena mereka berjodoh sayang," jawab Yudha tersenyum.
"Sana, persiapkan Valda tapi jangan bilang-bilang kalau itu adalah David."
"Siap mas."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.
__ADS_1