Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 49 Kesal Berakhir Gelisah


__ADS_3

Sejak hari naas itu, Maher Abdullah tidak bisa lagi menghirup udara segar. Ia harus mendekam di dalam jeruji besi untuk waktu yang sangat lama.


Kejahatannya sangat banyak dan ia harus dikenai pasal berlapis.


Yudha Abdullah sebagai pewaris tahta kerajaan bisnis sang papa, mau tidak mau harus menggantikan sang papa.


Samuel Richard yang merupakan salah satu pemegang saham tertinggi selain Maher Abdullah ikut memberikan keputusan kalau Yudha lah yang sangat cocok menggantikan posisi sang papa sebagai presiden direktur di perusahaan itu.


Rencana resign Ardina pun berjalan dengan mulus, hanya saja penggantinya sebagai sekretaris belum juga ia temukan.


Ia jadi pusing sendiri karena belum ada yang mendaftarkan diri sebagai penggantinya. Sedangkan Praja, sang suami sudah tidak sabar membawanya tinggal bersamanya.


"Apa aku harus meminta kak Sam untuk meloloskan permintaan resignmu sayang," ucap Praja saat pria itu sudah sangat ingin membawa sang istri.


"Gak bisa gitu dong kak. Semua perusahaan punya aturan masing-masing." Ardina menjawab seraya memasukkan pakaian suaminya ke dalam koper pria itu.


"Tapi dia 'kan salah satu direksi di sana."


"Ya Allah kak Praja. Kamu itu juga punya perusahaan gimana kalau semua karyawan selalu mau pake jalur belakang dan tidak lagi mau mematuhi aturan yang sudah disepakati."


"Pokoknya aku akan ikuti aturan itu kak. Aku masuk kerja baik-baik dan juga keluar harus baik-baik juga," tegas Ardina dengan tatapan lurus pada sang suami.


Koper yang sudah selesai ia isi kini ia tutup kemudian ia letakkan di sudut ruangan.


"Tapi sayang, aku mana bisa tahan jauh darimu hm," ucap Praja seraya menghampiri Ardina dan duduk di samping perempuan cantik itu.


Luka di kepalanya sudah sembuh begitupun luka yang lainnya.


Dan itu berarti besok ia sudah harus kembali ke kotanya untuk bekerja. Sudah hampir sebulan ia berada di Jakarta karena belum sembuh betul dan juga harus menjadi saksi atas kejahatan Maher Abdullah.


Ardina merawatnya dengan sangat baik tapi sekali lagi perempuan itu belum juga bisa ikut karena masih ada persyaratan yang harus ia lakukan sebelum resmi resign dari perusahaan besar itu.


"Sayang, kamu kayaknya gak rela tinggal bersama aku ya?" Praja mulai merajuk.


"Eh, kamu kok ngomongnya kayak gitu sih kak? Aku 'kan udah usaha banget nih. Tapi kontrak aku emang seperti itu jadi aku gak bisa juga ninggalin perusahaan begitu saja."


"Iya tapi, aku udah gak sabar kalau nunggu sampai hampir sebulan lagi." Praja semakin berubah manja seperti anak kecil. Tidak sabaran dengan dirinya. Bahkan lebih parah daripada David.


"Kak, aku juga sama apalagi David. Anak itu pasti rewel kalau gak ada kamu. Tapi aku 'kan udah bilang kita harus bersabar. Ini bentar lagi selesai."

__ADS_1


Praja pun terdiam. Ia mulai merasa kecewa. Dan sekarang ia lebih memilih naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.


"Perusahaan lagi dalam masa transisi kak. Tidak ada karyawan yang berani mendaftarkan dirinya karena kasus yang menimpa Pak Maher sialan itu. Mereka takut akan ada kasus lain berikutnya yang bisa jadi akan menyeret-nyeret mereka juga jika masuk diwaktu sekarang."


"Selama 3 tahun ini kita sudah bersabar kak. Dan sekarang sisa sedikit lagi kita menunggu untuk bisa berkumpul bersama layaknya keluarga pada umumnya."


Ardina membuang nafas, ia memandang suaminya yang lebih memilih diam daripada berdebat lagi dengannya.


"Ya udah, kalau kak Praja gak mau ngertiin posisi aku, terserah." Ardina lantas meniggalkan kamar itu. Ia juga sudah mulai kesal.


Ia merasa suaminya sudah mulai egois dan tidak memikirkan apa yang ada di dalam pikirannya.


Harus datang menjadi saksi dan juga korban pada kasus Maher Abdullah sudah membuat mereka lelah dan bosan. Dan sekarang mereka justru memperdebatkan lagi hal yang sangat remeh tapi terlalu berlebihan dimata suaminya.


"Belum tidur sayang?" tanya Asna yang melihat anak perempuannya itu malah berada di ruang keluarga sendirian sedang menonton televisi. Tanpa suaminya.


"Belum ngantuk bu," jawab Ardina seraya menganti-ganti saluran televisi dihadapannya. Asna pun duduk di samping sang putri.


"Ada apa?" tanya Asna.


"Gak ada apa-apa bu." Ardina tidak memandang ibunya tapi malah mengganti terus saluran televisi itu.


"Rusak lho nanti televisinya kalau kamu nontonnya kayak gitu."


Ardina mendengus pelan.


"Ada apa?"


"Kak Praja gak bisa ngertiin aku bu. Aku kesel."


"Gak boleh kayak gitu lho. Suamimu adalah pimpinan perusahaan jadi banyak hal yang harus ia pikirkan. Tinggal di sini dengan pikiran ada di tempat kerja kadang memang bikin seseorang tertekan."


"Lah, bagaimana dengan aku Bu. Aku juga seperti itu. Aku juga memikirkan pekerjaan dan juga kewajiban aku sebagai istri."


Asna menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Kalian harus bersabar sedikit lagi. Tapi jangan sampai kalian jadi bertengkar hanya karena hal seperti ini. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik kok."


"Ya harusnya seperti itu Bu. Tapi kak Praja kadang mengesalkan."

__ADS_1


"Sudah, kamu kembali ke kamarmu. Ndak baik meninggalkan suami saat seperti ini. Kamu harus pintar-pintar mengambil hatinya."


"Iya Bu. Tapi aku masih mau nonton di sini."


"Di kamar kamu 'kan ada televisi. Nontonlah bersama suamimu."


"Malas Bu."


"Eh, gak boleh ngomong seperti itu."


"Habisnya kak Praja ngediemin aku. Aku lebih baik tidur sama David aja." Ardina langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan sang ibu.


Asna kembali menghembuskan nafasnya pelan. Ia baru melihat putrinya itu sedang tidak bersemangat dengan suaminya.


"Ardina, gak baik seperti itu," ucapnya untuk menahan langkah putrinya ke dalam kamar David.


"Udahlah Bu. Aku lagi gak mood berdebat. Aku pusing." Ardina terus saja melangkahkan kakinya ke dalam kamar sang putra.


Ya, David sejak beberapa hari ini sudah berani tidur sendiri.


"Ardina," panggil sang ibu lagi.


"Bu, plis. Aku sedang ingin bersama David. Ia juga butuh aku." Perempuan itu tak lagi ingin mendengar perkataan sang ibu. Ia pun masuk ke kamar putranya dan meninggalkan Asna sendirian di ruangan itu.


"Ya Allah, semoga mereka baik-baik saja," doa Asna dan segera mematikan semua lampu yang ada di dalam ruangan itu.


Perempuan itu pun masuk ke kamarnya juga. Ia sudah mengantuk setelah seharian menjaga David sang cucu.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Dan semua penghuni rumah itu sudah tidur kecuali Praja dan Ardina yang justru tidak bisa tidur di tempat yang berbeda.


Mereka berdua gelisah.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Ada bunga kah? 😂

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2