
Semua orang menatap pengantin cantik itu dengan tatapan takjub. Tak terkecuali David Prajawijaya sang calon suami. Revalda begitu sangat cantik dengan balutan pakaian adat tradisional dengan balutan hijab menutupi kepalanya.
Yundha dan Tiara yang mengantarnya duduk di samping calon suaminya tersenyum penuh haru dan bahagia. Keponakan mereka akan menikah dan segera melepas masa lajangnya. Revalda sendiri masih betah menundukkan wajahnya.
Hatinya dipenuhi banyak rasa yang sangat banyak. Hingga ia tak ingin menatap wajah orang-orang yang ada di sekitarnya.
Rentetan acara sakral itu pun dimulai dengan lantunan ayat suci Alquran dari seorang guru agamanya sewaktu ia masih sekolah di SMA.
Tak ingin melihat siapa saja yang ada di hadapannya, ia begitu khusuk mendengarkan lantunan ayat suci itu sampai tiba saatnya ia menyimak khutbah nikah yang dibacakan oleh penghulu dari kantor urusan agama.
Selanjutnya papanya sendiri yang akan menikahkannya dengan pria yang pernah dekat dengannya sewaktu ia masih kecil.
Hatinya berdebar sangat kencang. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dan akan lepas dari sang papa.
"Bismillahirrahmanirrahim. Untuk para hadirin mari kita bersama-sama mengucapkan istighfar tiga kali."
Semua hadirin yang hadir pun mengucapkan istighfar sesuai permintaan Yudha.
"Dan untuk calon pengantin mari mengucapkan sholawat atas nabi besar Muhammad Saw."
David pun membaca sholawat dengan sangat khusuk.
"Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala Alihi Muhammad," ucap David dengan suara tegas dan mantap.
Revalda mengernyit. Ia sepertinya sangat mengenal suara itu. Tapi ia sangat malu untuk melirik ataupun melihat calon suaminya yang sedang duduk di sampingnya.
"Wahai David Prajawijaya, aku nikahkan engkau dengan putriku Revalda binti Yudha Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai karena Allah..."
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Revalda binti Yudha Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai karena Allaaah."
"Bagaimana saksi?" tanya Yudha pada dua orang saksi yang hadir.
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah, barakallahu laka wa baroka l Alaikumaa wajama'ah baina kuma."
"Aamiin aamiin ya Allah," ucap semua orang termasuk Revalda.
Gadis itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap pria yang sudah mengucapkan ijab kabul untuknya itu. Tubuhnya membeku tak mampu untuk bergerak. Ia terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi.
Mulut dan matanya membulat kaget.
"Kenapa? Kamu mengharapkan David yang menikahimu bukan?" balas pria itu dengan sebuah pertanyaan.
"Pak David? Ini tidak mungkin," ucap Revalda seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia seperti sedang bermimpi. Ingin ia mengucek matanya tapi khawatir maskaranya akan belepotan jika ia melakukannya. Jadi ia hanya berkedip-kedip lucu dan sangat menggemaskan.
"Kenapa? Doamu menjadikan David Prajawijaya menjadi suamimu kini dikabulkan oleh Tuhan. Jadi tidak perlu kaget seperti itu."
Revalda tidak lagi ingin bicara tapi malah mengalihkan pandangannya pada sang papa, Yudha Abdullah.
"Papa?!" ucapnya meminta penjelasan. Yudha hanya tersenyum. Ia sudah bisa menduga kalau sang putri akan seperti ini jika tahu yang terjadi.
"Salim sama suamimu sayang. Dia adalah imam kamu sekarang," ucap Yudha pada sang putri yang sangat disayanginya itu.
__ADS_1
"Tapi pa. Kenapa ini bisa terjadi!"
"Nanti suamimu yang akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Yudha dengan tatapan lurus pada wajah sang putri.
Revalda yang masih menunjukkan wajah bingungnya mau tak mau meraih tangan David dan mencium punggung tangan pria itu sedangkan David mencium dahi Revalda dengan perasaan yang penuh rasa bahagia dan juga syukur.
"Sekarang aku suamimu Val. Kamu adalah tanggung jawabku dunia dan akhirat."
Revalda tak sadar menitikkan airmatanya. Ia tidak tahu apakah saat ini ia sedang bermimpi atau bagaimana. Ia belum percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya.
Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya tapi ia tak mungkin mengutarakannya di saat seperti ini.
"Val, waktunya untuk sungkem pada papa dan mamamu sayang," bisik Yundha yang akan membawanya ke sebuah tempat khusus untuk melakukan rangkaian adat lainnya yang sudah disusun oleh event organizer.
Setelah semuanya selesai. Dua orang pasangan pengantin itu pun duduk di atas pelaminan untuk menjemput para tamu yang hadir dan akan memberikan doa restu untuk mereka berdua.
Tak banyak tamu yang datang karena karena pesta ini cukup singkat dan sederhana, sehingga yang diundang hanya keluarga terdekat juga beberapa rekan sesama dosen.
Teman sekelas Revalda saja tak ada yang diundang. Maklumlah, waktunya begitu mepet dan tiba-tiba. Dan yang lebih lucu lagi adalah, sampai saat ini, gadis itu masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
Rasanya ia masih berada di dunia mimpi. Sedangkan David sendiri tidak berusaha membangunkannya. Pria itu tidak banyak bicara sekarang seperti ketika pria itu selalu mengganggunya selama ini.
Pria itu berubah dingin dan pendiam, apa karena keinginannya sudah tercapai dan sekarang dosennya itu menyesal karena telah menikahinya? Ucapnya dalam hati.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like Dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?