Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 273 Calon Istriku


__ADS_3

Revalda menatap dirinya di depan kaca dengan tatapan tak percaya. Ia tampak sangat berbeda dengan gaun pilihan mamanya.


Ia yang selalu tampil tomboi kini begitu sangat manis dan juga cantik.


"Apa mama gak takut anak mama dikerjain sama pria tidak jelas itu?" tanya Revalda saat ia sudah siap berangkat dengan diantar oleh Fariz, sang adik.


"Gak takut. Kamu 'kan jago bela diri juga. Kalau dia macam-macam. Kasih aja pelajaran penting."


"Ah gitu ya ma? Tapi pakai gaun yang agak ribet begini mana bisa?" Revalda masih saja tidak nyaman dan juga khawatir.


"Fariz akan menjaga kamu dari jauh. Jadi gak usah repot-repot mikirin itu semua. Papa juga akan memberimu gelang untuk mengetahui apa saja yang kamu lakukan. Jadi saat terjadi sesuatu yang buruk, kamu bisa menekan benda itu sayang. Maka papa dan mama atau polisi pun akan datang."


"Oh, sampai segitunya ya ma?" ucap Revalda lagi dengan ekspresi yang sangat lucu di mata sang mama.


"Iya, kami akan menjagamu dari orang yang tidak bertanggungjawab. Karena kamu putri kami yang sangat cantik."


Revalda tampak berpikir keras dengan penjagaan berlapis yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Ia jadi seperti seseorang yang sedang berada pada misi yang sangat berbahaya.


"Tidakkah ini terlalu berlebihan pa?" tanya gadis itu saat Yudha memasang sebuah gelang lucu dan imut di tangannya.


"Tidak sayang. Gelang ini sangat bagus ditangan kamu. Gak akan kentara kalau ini adalah alat penyadap dan perekam," jawab Yudha tersenyum.


"Ayo cepat berangkat sayang. Takutnya orang itu tak sabaran dan berakhir pergi," lanjut Yudha seraya mengantar putrinya itu ke mobil.


"Tapi pa." Revalda tampak masih khawatir. Apalagi kalau ingat foto-foto dirinya yang sangat terbuka pada galeri khususnya itu. Ia jadi merinding sendiri dan menyesal telah mengekspresikan dirinya seperti itu.


"Udah. Gak apa-apa. Kamu pasti aman. Jangan banyak melawan. Ikuti saja apa maunya pria itu." Yudha tersenyum memberikan perasaan tenang pada sang putri.


"Baiklah pa ma. Doakan handphone itu sampai di tangan aku dengan selamat ya," ucap Revalda melambaikan tangannya kemudian naik ke atas mobil yang akan dikemudikan oleh Fariz.


"Iya. Pasti itu." Yudha berucap dengan balas melambaikan tangannya.


"Mas, apa benar kamu memasang alat penyadap di gelang itu?" tanya Selfina dengan berbisik pada sang suami.


"Kenapa?" tanya Yudha balik.


"Ya enggak sih. Khawatir aja kalau apa yang dilakukan David pada putri kita bisa kita tahu semuanya."


"Lah, bukannya itu sangat baik sayang. Jadi kita udah tahu betul bagaimana sifat calon menantu kita itu."

__ADS_1


"Ih tapi gak enak bagi mereka mas. Seharusnya 'kan kita kasih mereka kebebasan untuk berkenalan."


"Hahaha, gak lah. Gelang itu hanyalah gelang biasa yang aku beli di Tokyo beberapa hari yang lalu. Itu khusus Revalda tapi baru aku berikan sekarang."


"Astaga mas. Ada-ada aja kamu bikin aku dan Valda kayak lagi sedang melakukan misi yang sangat berbahaya," ucap Selfina seraya memukul lengan suaminya pelan.


"Ah jadi penasaran juga bagaimana kalau kita melakukan misi juga sayang," senyum Yudha kemudian meraih pinggang sang istri dan membawanya ke kamar.


Setelah sibuk dengan drama putri mereka, sekarang tugas mereka berdua yang ingin memecahkan misi juga di sebuah tempat yang sangat istimewa.


🌹


Revalda turun dari mobil mewah yang dikendarai Fariz dengan hati-hati. Maklumlah, ia tidak biasa menggunakan gaun yang cukup rempong dan juga ribet seperti itu dan kini harus menggunakannya hanya karena permintaan seseorang yang sangat tidak masuk akal.


"Kamu jangan pulang ya Riz," ucap gadis itu pada sang adik yang masih duduk santai di atas mobilnya.


"Iya, mbak masuk aja. Kalau udah selesai, telepon aku aja," balas pria muda itu seraya memasang headset di telinganya. Itu pertanda ia akan mulai mendengarkan musik sembari menunggu sang kakak.


"Jangan ketiduran kamu sampai-sampai tak tahu kalau aku ada apa-apa dengan pria asing itu."


"Gak akan ketiduran kecuali mbak yang nginap di sini wkwkwkwk."


Revalda pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi hotel itu dengan langkah pelan. Takut sepatutnya dengan heels yang lumayan tinggi itu membuatnya terjatuh.


Ribet amat sih, kayak mau ke kondangan aja padahal ini cuma mau ambil handphone, ucapnya dalam hati dengan ujung bibir terangkat kesal.


Di depan lobi, ia bertemu dengan beberapa orang dosen yang mengajar di kampusnya. Ia cukup berbasa-basi dengan membungkukkan badannya sedikit sebagai salam hormat dan kesopanan.


"Valda! Kamu ada acara di tempat ini?" tegur seseorang yang sangat ia kenal, siapa lagi kalau bukan David, sang dosen killer dan paling sering mengganggu kehidupan pribadinya.


"Ah iya pak. Selamat malam," balas gadis itu tersenyum.


David langsung merasakan dunianya berhenti berputar. Revalda yang sedang berdiri di hadapannya dengan gaun yang senada dengan Coat yang sedang dipakainya saat ini tampak sangat cantik.


Gadis itu bagaikan seorang bidadari yang baru saja turun dari kayangan. Segar dan sangat menarik.


Rasanya ia ingin membawanya pulang dan mengurungnya saja di dalam kamar. Tapi eh, mereka belum resmi menikah.


"Kamu datang sama siapa?" tanya pria itu berbasa-basi.

__ADS_1


"Aku sama adik aku pak. Dia nunggu di mobil."


"Oh, gitu ya?" ucap David berpura-pura tidak tahu padahal ia sudah menemui Fariz agar anak itu pulang terlebih dahulu karena ia yang akan mengantar Revalda pulang.


"Kamu mau menemui seseorang disini?" tanya David lagi. Revalda tersenyum kemudian menjawab, "Iya pak. Aku ada urusan sedikit dengan orang itu. Tapi aku gak tahu orangnya ada dimana."


"Janjiannya memang di lobi, di kamar, atau di ruangan lain?"


Revalda tampak berpikir kemudian membuka tas tangannya. Ia mengambil handphone Zacky yang sudah ia booking selama sehari itu dan membuka pesan dari pria asing itu.


[Aku ada hal penting yang aku harus hadiri di dalam ruang ballroom hotel. Kamu masuk saja. Kita akan bertemu di dalam.]


Revalda membaca pesan dari nomornya itu dengan wajah mengernyit. Ia tampak mulai kesal.


Apa-apaan orang itu. Kayaknya sengaja bikin aku kesel deh, gerutunya dalam hati.


"Bagaimana?" tanya David menunggu responnya.


"Iya pak. Katanya orangnya ada acara di dalam ballroom pak."


"Kalau gitu kamu ikut aku. Aku ada acara di ballroom hotel ini juga. Kamu bisa menemani aku, gimana?" usul David dengan tatapan tak lepas dari penampilan Revalda yang sangat cantik malam itu.


"Ah iya deh pak. Aku ikut."


Mereka berdua pun masuk ke ruangan itu yang disambut oleh panitia acara. Revalda tiba-tiba merasa sangat risih karena harus bergabung dengan beberapa petinggi unversitas yang kebanyakan adalah dosennya sendiri.


"Wah, pak David akhirnya membawa calon istri sendiri," ucap seseorang menegur mereka berdua.


"Bagus pak. Dipercepat supaya cepat dapat keturunan."


Revalda langsung merasa tak enak hati. Ia malu. Apalagi yang menegur itu adalah ketua jurusan di fakultasnya. Ia baru ingin membuka mulutnya untuk menjawab tapi David segera meraih pinggangnya dan meremasnya lembut.


"Iya nih pak. Kenalkan Ini Revalda Yudha Abdullah, calon istri aku."


Deg


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


__ADS_2