
Pimpinan pabrik segera diamankan oleh pihak kepolisian terkait berita tentang mogok kerja dan penutupan pabrik beberapa hari yang lalu.
"Tidak pernah ada aksi seperti itu pak. Pabrik dalam keadaan aman saja. Dan mana berani kami menantang Pak Praja yang selama ini memberikan kami kesejahteraan yang sangat baik." Karim menjawab dengan tegas.
"Lalu siapa itu Kamal, yang telah membawa berita seperti itu kepada Pak Praja hingga ia bisa datang kemari dan belum pulang juga?" tanya seorang polisi yang sedang menginterogasi pria itu.
"Kamal adalah salah seorang karyawan di Perusahaan pusat. Dan memang beberapa hari yang lalu membujuk dan memprovokasi kami semua untuk melakukan mogok kerja dan meminta kenaikan gaji. Tapi kami tidak ingin melakukannya." Karim menjelaskan dengan wajah serius.
"Jadi, itu berarti Kamal lah dalang semua ini?" tanya Polisi itu ingin meminta pendapat dari pria yang bernama Karim itu.
"Saya tidak berani mengatakan hal itu pak karena saya rasa Kamal tidak punya motif untuk menghancurkan perusahaan dan pemilik Wijaya Grup."
Polisi itu tampak berpikir.
"Lalu, adakah seseorang yang kamu curigai?"
"Tidak pak. Untuk para pekerja pabrik di sini. Saya yakin tidak ada yang pernah berpikir untuk mencelakai Pak Praja Wijaya. Kami sudah banyak dibantu dan diberikan pertolongan setiap saat. Lalu untuk apa kami melakukannya? Bukankah itu yang dinamakan mempersempit rezeki?" Karim memberikan argumentasinya dengan lugas dan membuat penyidik itu manggut-manggut setuju.
"Hum, betul sekali. Tapi bagaimana pun juga kita tetap harus menyisir tempat ini untuk mencari tahu dimana pak Praja berada."
"Baik pak. Kami akan membantu mencari pak Praja sampai betul-betul ditemukan dengan selamat," ucap Karim tersenyum kemudian melanjutkan, "Semua karyawan pabrik akan saya liburkan hari ini untuk mencari pak Praja di sepanjang daerah ini."
"Baiklah. Itu ide yang bagus. Semakin banyak yang mencari maka akan semakin baik."
"Iya Pak siap."
Para warga sekitar yang umumnya adalah keluarga karyawan segera dikumpulkan dan diminta untuk mencari Praja Wijaya siang itu juga.
Mereka semua sangat bersemangat untuk mencari dengan harapan pria muda dan baik hati itu bisa ditemukan dengan selamat.
Dan tanpa menunggu waktu mereka pun mulai berpencar dengan menggunakan mobil patroli dan juga mobil pabrik untuk menyisir sampai beberapa kilometer dari tempat itu.
Mereka dibentuk dalam beberapa regu yang semuanya dipimpin oleh dua orang polisi agar ketika ada petunjuk sekecil apapun itu informasi akan cepat terhubung satu dengan yang lainnya.
"Eh, ngomong-ngomong apakah kamu tahu siapa pemilik ladang ganja itu?" tanya pak penyidik pada Karim yang kebetulan satu regu dengannya.
Untuk saat ini penemuan kebun ganja belum dilaporkan ke kantor pusat karena mereka harus menyelesaikan kasus tentang hilangnya seorang pengusaha muda di kota itu.
Polisi itu mengalihkan pembicaraan ke Ladang ganja yang sangat luas di daerah itu.
"Setahu saya, pemiliknya adalah seorang pria yang berasal dari Jakarta. Tapi saya tidak ingat siapa namanya pak." Karim menjawab.
"Orang dari Jakarta? Apakah kamu pernah bertemu dengannya selama bekerja di sini?"
"Ia pernah datang ke tempat ini sih dan sempat melihat kondisi pabrik. Waktu itu datangnya bersamaan dengan Kamal. Eh iya, kalau tidak salah namanya ada Mager, apa Maher ya?" Pria itu tampak berpikir.
"Maher Mager?" tanya sang polisi ingin memastikan apa yang ia dengar.
__ADS_1
"Ya, sepertinya sih seperti itu pak. Maaf ingatan saya tentang seseorang kadang sering terganggu, jadi mohon maafkan saya pak."
"Hum tidak masalah. Mungkin kamu akan diminta lagi keterangan tentang kebun ganja itu. Yang terpenting saat ini adalah kita harus segera kita mencari pak Praja, semoga kita bisa dengan cepat mendapatkannya."
"Iya pak. Itu betul sekali."
Beberapa orang itu pun melanjutkan langkah mereka untuk mencari informasi yang lebih banyak pada warga yang mereka temui.
Sebuah warung kopi pinggir jalan di daerah pegunungan itu mereka singgahi untuk meminum kopi seraya mencari informasi tentang ketiadaan Praja Wijaya.
"Dua hari yang lalu terjadi kecelakaan di daerah jalanan curam sebelah sana pak," jawab salah seorang warga yang sedang menikmati kopi di sebuah warung pinggir jalan.
"Dimana? Dan bagaimana ciri-cirinya?" Alif Wijaya yang tadinya hanya diam saja dalam harapan yang sangat tinggi, langsung merespon dengan baik informasi tersebut. Ia menghampiri pembawa berita itu dan memberinya banyak pertanyaan.
"Mobil hitam pak. Maaf saya tidak tahu mobil apa itu namanya. Saya tidak pernah melihat mobil seperti itu di kampung ini. Tapi saya lihat mobil itu bagus dan pasti mahal."
"Apa mobilnya seperti ini?" tanya Alif seraya memperlihatkan gambar mobil dan juga Praja pada pria itu.
"Ah iya. Itu persis sekali. Dan orangnya juga itu, tapi ada pria lain lagi yang ada di dalam mobil itu.
"Lalu dimana mobil dan korbannya sekarang?" Alif Wijaya dan para polisi itu langsung bertanya dengan kompak. Mereka merasa seperti mendapatkan angin segar karena informasi ini.
Pria itu untuk beberapa detik terdiam sambil berpikir.
"Hey! Katakan dengan cepat di mana pemilik mobil itu!" Alif semakin tak sabar.
"Oh, kalau begitu mari kita segera ke sana," ucap penyidik dengan cepat.
Semua rombongan pun segera menuju rumah yang ditunjuk oleh pria itu. Sebuah rumah minimalis sederhana tetapi sangat tertata dengan sangat indah.
Pak Arman Yusuf, keluar dari rumahnya saat mendengar banyak polisi dan warga yang datang untuk menemuinya.
Pria tua yang merupakan seorang kepala dusun di desa itu adalah orang yang cukup disegani dan sepertinya sudah cukup paham akan permasalahan yang sedang terjadi dihadapannya ini.
Ia yakin kalau korban kecelakaan Itulah yang sedang mereka cari saat ini.
"Mohon maaf karena kami datang menggangu bapak," ucap penyidik itu dengan sopan.
"Ah ya, tidak masalah pak. Saya tidak merasa terganggu kok." Arman Yusuf berucap seraya mempersilahkan semua tamunya untuk duduk di beranda depan rumahnya.
Dan saat pandangan pria tua itu bertemu dengan Alif Wijaya, mereka pun saling menyapa dengan akrab.
Alif Wijaya langsung menyalami pria itu yang ia kenal adalah keluarga jauh istrinya.
"Pak Arman?"
"Pak Alif?"
__ADS_1
"Sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan. Saya harap ada berita baik yang kamu berikan tentang putra saya yang kecelakaan dua hari yang lalu."
"Jadi itu putramu?" tanya Arman Yusuf dengan wajah tak percaya.
"Dimana Praja sekarang?" jawab Alif Wijaya balas bertanya.
"Yusta, cucuku membawanya ke rumah sakit saat itu juga. Kebetulan ia ada di rumah ini sewaktu ada kecelakaan. Dan ia mengatakan kalau ia mengenalinya."
"Lalu kenapa tidak menghubungi kami?" tanya Alif dengan perasaan tak nyaman.
Arman Yusuf hanya menghela nafasnya, ia juga tidak tahu kenapa cucunya melakukan hal itu.
"Dan bagaimana dengan korban yang lainnya?" tanya penyidik dengan wajah penasaran. Ia sangat ingin tahu apa motif Kamal melakukan hal seperti ini.
"Pria itu kabur pak."
"Hah?"
Semua orang semakin curiga ada pihak yang sengaja melakukan kejahatan pada Praja Wijaya.
"Baiklah, saya minta pak Arman menghubungi cucu bapak untuk memberitahukan kami di rumah sakit mana Praja dirawat."
"Baik pak. Saya akan menghubungi Yusta," ucap Arman kemudian segera menelpon gadis itu.
Tuuut
Tuuut
"Tidak aktif pak."
"Ya Allah," ucap Alif Wijaya seraya meraup wajahnya kasar.
Ia khawatir pada gadis itu yang dari dulu sangat menyukai putranya.
Sementara itu, Maher Abdullah turun dari mobilnya dan memaksa Ardina untuk mengikutinya masuk ke sebuah villa mewah yang sangat jauh dari keramaian kota.
Perempuan itu berusaha untuk berlari kabur tapi tubuhnya ditangkap oleh bos mesum itu dan digendong ala karung goni masuk ke dalam villa.
"Ini pasti ada yang tidak beres," ucap Yudha dari dalam mobilnya saat melihat adegan kekerasan yang dilakukan oleh papanya pada sang sekretaris.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1