Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 276 Tunggu Tanggal Mainnya


__ADS_3

Sepanjang hari itu Revalda tidak bisa berkonsentrasi karena David selalu saja mengganggunya dengan mengirimkan ucapan-ucapan absurd yang membuatnya kesal sekaligus senang.


Ia kadang tak ingin menjawab semua surat elektronik itu tapi jari dan hatinya kadang sangat bisa kerjasama dan penasaran hingga ia akhirnya berbalas-balasan layaknya sepasang kekasih yang sedang berpacaran dan kadang ngambek-ngambekan.


[Bapak gak usah ngirim email lagi. Aku jadi gak konsentrasi nih, mau kerja tugas.]


[Tugas apa sampai dikerjakan saat liburan kayak gini. Emangnya kamu gak mau istirahat dan bersantai?]


[Aku ada banyak tugas pak, ada mata kuliah Politik perbandingan sama Teori dan Isu-isu pembangunan]


[Kirimkan tugas itu sekarang, aku yang akan kerjakan tapi kamu tetap harus online]


Revalda tersenyum senang. Ia sangat suka ide pria cerdas itu Ia pun mengirimkan instrumen yang harus ia kerjakan untuk dua mata kuliah itu.


Dan tak lama kemudian pria itu mengirimkan semua jawaban yang sangat ia butuhkan. Setelah itu pria itu ingin semua pertanyaannya dijawab oleh Revalda bahkan sampai yang sangat pribadi.


Gadis itu tidak menyadari kalau ia sudah memberi tahu semua keinginan pria itu.


Tak sadar dengan waktu, mereka sampai bercakap dengan sebuah pertengkaran-pertengkaran kecil yang sangat lucu sampai ketika Selfina masuk ke kamarnya barulah ia menyudahi percakapannya dengan pria itu. Ia pun segera menutup laptopnya agar mamanya tidak curiga.


"Val, kamu masih sibuk gak sayang?" tanya sang mama seraya duduk di samping gadis itu.


"Ah gak kok ma, ini udah selesai," jawab Revalda tersenyum. "Memangnya ada apa ma?" lanjutnya bertanya.


"Tante Ardina ada di depan tuh sayang. Dia ingin membicarakan tentang konsep pernikahan kalian nantinya," ucap sang mama.


Revalda langsung tersadar kalau ia akan segera menikah dan telah melayani percakapan seorang pria asing yang sudah jelas-jelas ingin memilikinya juga.


Gadis itu jadi merasa bersalah karena telah melakukan selingkuh tipis-tipis dengan pria lain.


"Ah iya ma. Aku baru saja kerja tugas nih," ucap gadis itu dengan senyum tak nyaman.


"Iya sayang. Kalau kamu ada waktu segera temui Tante Ardina ya, udah lama lho nungguin kamu."


"Ah yang bener ma. Ih jadi gak enak nih." Revalda semakin tak enak hati.


"Tadi mama kesini tapi kamu kayaknya serius banget jadi mama gak mau gangguin."


"Iya, ma. Aku ke kamar mandi dulu deh. Mau sholat dulu."


"Iya sayang mama tungguin ya, jangan lama-lama."

__ADS_1


"Iya ma."


Revalda pun segera berlari ke kamar mandi. Ia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu karena sudah cukup gerah juga mengerjakan banyak tugas dari beberapa mata kuliah. Untungnya David sang Doktor mau mengerjakan tugas-tugasnya.


Ada untungnya juga ia meladeni percakapan pria itu, karena dosen cerdas itu mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan sangat mudah dan juga cepat.


Setelah sholat dan berganti pakaian, Revalda pun keluar dari kamarnya dan menemui Ardina, calon mertua yang sudah lama ia tak berjumpa.


"Assalamualaikum tante," salamnya pada perempuan cantik yang hampir seusia dengan mamanya itu.


"Waalaikumussalam sayang. Wah lama tak bertemu kamu semakin cantik ya," ucap Ardina tersenyum senang dan langsung meraih Revalda ke dalam pelukannya.


"Makasih banyak tante. Tante juga gak berubah. Tambah cantik," jawab Revalda dengan tak kalah senangnya.


"Tante ganggu gak sayang?" tanya Ardina seraya menatap calon menantunya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Gak kok tante. Aku udah selesai kerja tugasnya. Maaf ya, aku tadi gak tahu kalau Tante ada di sini," ucap gadis itu dengan wajah tak nyaman.


Gadis itu kembali mengingat lagi percakapannya dengan David yang sudah mulai menjurus ke hal yang tidak-tidak.


"Gak apa-apa. Mahasiswi memang harus begitu. Harus rajin belajar agar pintar dan juga sukses."


"Hehehe iya tante."


"Gak apa-apa tante. Eh, om Praja sehat?"


"Alhamdulillah sehat. Cuma dia juga lagi ada kerjaan sekaligus jemput mama dan Dena. Pernikahan kalian 'kan insyaallah kita lakukan di kota ini."


Deg


Revalda tiba-tiba merasakan dadanya berdebar mendengar kata pernikahan. Rasanya hatinya mulai bercabang hanya karena rayuan pria bernama David itu.


"Val?" panggil Ardina karena tiba-tiba saja ia melamun dan tidak fokus pada apa yang sedang dibicarakan oleh perempuan cantik yang akan menjadi mertuanya itu.


"Revalda, kamu kok melamun sayang?" tanya Selfina ikut nimbrung.


"Ah iya ma. Maafkan aku, tadi tante ngomong apa?" ucap gadis itu gelagapan.


"Eh beneran melamun. Hahaha. Kayaknya udah gak sabar menikah nih sama anak Tante sampai jadi gak fokus kayak gini." Ardina tertawa lucu.


Revalda langsung merasakan wajahnya menghangat malu. Gadis itu menundukkan wajahnya dengan wajah David yang selalu terbayang-bayang.

__ADS_1


"Tante tadi tanya sama kamu sayang, maunya konsep pernikahan kalian seperti apa? Mau modern atau Tradisional?"


Revalda tidak menjawab lagi karena hatinya kembali hanya membayangkan percakapannya tadi dengan David yang rada-rada membuat bulu kuduknya meremang.


Pria itu memang sangat mesum dan sangat pintar menganggu dirinya dengan kata-kata absurd dan juga manis.


"Valda?" Selfina dan Ardina memanggil nama gadis itu lagi.


"Ah ya ma," ucap Revalda tersentak kaget. Selfina dan Ardina saling berpandangan.


"Kamu lagi mikirin apa sih sayang?" tanya Selfina khawatir. Ia pun mendudukkan dirinya di samping sang putri kemudian menggenggam tangan gadis itu.


"Gak ada ma. Aku hanya mikirin tugas dari dosen tadi ma. Tapi sekarang udah beres kok."


"Ah, bagus kalau begitu. Nah sekarang kamu tentukan kamu mau konsep yang kayak bagaimana saat pernikahan kamu nanti. Mau menggunakan pakaian adat tradisional atau pakaian modern?"


Revalda tampak berpikir kembali. Rasanya ia sudah tidak bersemangat untuk memikirkan konsep apa yang akan ia pakai. Pikiran dan hatinya selalu saja berada pada David. Dan manakala ia sadar kalau apa yang ia pikirkan itu salah karena memikirkan pria lain ia jadi tak nyaman sendiri. Ia merasa sangat bersalah.


"Terserah tante dan mama saja lah bagaimana baiknya. Aku lagi gak enak badan. Aku ke kamar saja ya, permisi," ucap Revalda kemudian langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.


Ardina dan Selfina kembali saling berpandangan.


"Maafkan Valda ya Mbak. Kayaknya anak itu lagi banyak pikiran deh," ucap Selfina tak enak hati.


"Gak apa-apa. Kayaknya ia mungkin lagi PMS deh," balas Ardina dengan perasaan yang sama.


"Apa Jangan-jangan Revalda gak setuju dengan acara perjodohan ini Sel?" lanjut perempuan itu dengan wajah khawatir.


"Gak kok. Aku rasa ini karena David mbak," ucap Selfina tersenyum.


"Ah yang bener?" tanya Ardina dengan wajah bingungnya.


"Iya. Tunggu saja apalagi yang akan dilakukan oleh putramu itu mbak Ar. hehehe." Selfina terkekeh lucu.


"Duh, jangan buat aku penasaran deh Sel," ucap Ardina dengan wajah yang masih bingung.


"Tunggu saja tanggal mainnya mbak. Aku yakin Revalda akan dibuat tak berkutik hehehehe."


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2